Kamis, 20 Desember 2018

Kenapa Memilih Kuliah di Indonesia (aja)?

Setelah lulus dari pendidikan sarjana, tantangan-tantangan baru kehidupan menanti. Uniknya adalah segenap tantangan itu terwakili dengan satu pertanyaan: habis lulus mau ngapain? Pertanyaan yang memiliki efek horor bagi sebagian orang, termasuk untukku. Aku merasa pertanyaan itu horor bukan karena nggak ada yang aku kerjakan sih, tapi lebih ke bahwa ‘kesibukanku saat ini adalah pilihanku yang akan membutuhkan waktu untuk membuatmu memahaminya’. Salah satu tantangan yang insyaa Allah akan kupilih adalah melanjutkan ke pendidikan tingkat master. Dorongan kuat dari orangtua seperti menyihirku dan membuatku berpikir bahwa menempuh jenjang S-2 adalah sebuah kewajiban.

Pada masa-masa awal pasca kelulusanku, orangtuaku sering mendorongku untuk mencari beasiswa untuk S-2 di luar negeri dengan beberapa alasan (yang sebenarnya juga bukan merupakan jaminan sih), misalnya: 1) kuliah di luar negeri akan memberikan pengalaman hidup yang berbeda dibandingan jika kita tetap memilih kuliah di dalam negeri; 2) Menjadi lulusan master dari luar negeri akan membuatmu lebih diperhitungkan saat mencari kerja nanti; 3) tak dapat dipungkiri pula bahwa kuliah di luar negeri menumbuhkan kebanggaan tersendiri. Bahkan untuk meyakinkanku, Bunda sempat juga bilang ke aku, “Bunda nggak papa lho Tin kalau misalnya kamu tinggal.” Ayah pun ikut-ikutan membenarkan Bunda. Namun apalah aku, seorang perempuan tradisional yang berprinsip ‘selama ada yang dekat, kemudian bisa dekat dengan keluarga, kenapa harus cari yang jauh?’

Namun, karena Ayah dan Bunda masih sering memotivasiku untuk kuliah di luar, akhirnya aku pun mulai mencari-cari info. Pencarianku itu berujung pada satu kesimpulan (yang juga masih dipengauhi oleh sikap tadisionalku), kayaknya kuliah di Indonesia pun bagus kok. Nggak kalah sama di luar. Selain itu, aku mulai tegas dengan bertanya kepada diriku sendiri, “Sebernanya, apa sih yang kamu cari dari belajar psikologi, bahkan sampai harus melanjutkan ke jenjang S-2?” Jawaban itu sudah jelas, bahwa belajar psikologi berarti juga mempelajari salah satu aspek dari tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam ini—yang tujuan utamanya adalah semakin mengenal dan takut kepada Allah; yang kemudian dengan mempelajarinya aku bisa bermanfaat untuk diriku sendiri, keluarga, dan masyarakat seluas-luasnya. Lebih khusus lagi, yang aku inginkan bukan sekedar ‘psikologi’, namun juga psikologi yang teintegrasi dengan dengan islam, atau yang biasa dikenal dengan istilah ‘Psikologi Islam’.  Sejauh yang aku tahu dari membaca berbagai wacana tentang psikologi islam, menurutku kunci dari psikologi islam ialah ‘mengaji’, atau mengkaji islam secara mendalam kepada guru, sehingga kita dapat dengan bijak melihat psikologi mainstream dan bagaimana mengintegrasikannya dengan nilai-nilai islam. “Kalau gitu, fix lah di Indonesia tempatnya. Kesempatan buat ke luar negeri bisa lewat short course atau semacamnya yang nggak membutuhkan waktu lama,” pikirku.

Oke, perkara tujuan sudah clear. Kemudian alasan yang membuatku berat meninggalkan Indonesia adalah aku nggak mau jauh dari Ayah dan Bunda, salah satu kunci keberkahan hidupku. Biarkan aku di Indonesia, menambal cacatnya baktiku kepada beliau berdua.

Dengan sikap tradisionalku ini, aku tetap berpikir pada saatnya nanti aku haus ‘go international’ wkwk. Aku punya cita-cita buat mendirikan lembaga pendidikan Islam di negara-negara yang keberadaan islam masih sangat kurang terlihat seperti misalnya Filipina atau Vietnam. Insyaa Allah akan ada jalan.  Untuk kelas persiapan tes internasional pun, aku mengambil kelas IELTS, jaga-jaga kalau suatu hari nanti Allah membalikkan hatiku hehe. Intinya adalah aku di sini hanya ingin menyajikan pespektif lain, sehingga jika teman-teman masih bingung untuk mengambil keputusan antara ‘kuliah di dalam atau di luar negeri’, cobalah cari juga info dari mereka yang sudah kuliah di sana. Bukan hanya tentang kisah suksesnya, namun juga perjuangan mereka untuk tetap beragama dengan baik dan menjaga keharmonisan dengan keluarga yang ditinggalkan.  

Jumat, 30 November 2018

Buku Keren (1)

Bismillahirrahmanirrahim

Pada suatu hari, Ustadz Afri Andiarto menugaskan kami untuk membaca beberapa buku untuk membuat tulisan, salah satunya adalah buku terjemahan berjudul Reclaim Your Heart (Rebut Kembali Hatimu): Wawasan-Mencerahkan tentang Cinta, Duka, dan Bahagia karya Yasmin Mogahed. Menurut Ustadz Afri, buku ini sangat bagus. Mendengar hal itu, saya sangat penasaran sehingga lebih memilih mencari buku tersebut di toko buku, ketimbang menunggu pinjaman dari Ustadz Afri. Namun, setelah mengelilingi beberapa toko buku di Kota Malang, mulai dari toko buku kecil sampai yang paling besar, hasilnya nihil. Pun saat saya mencoba mencari di online shop, saya tetap tak menemukannya. Setelah beberapa minggu berselang, akhirnya kami mendapatkan pinjaman buku tersebut dari Ustadz.

Daaaan, saya jatuh cinta dengan buku ini. Buku ini cocok untuk menjadi cermin agar kita kembali sadar bahwa selama ini kita sudah terlalu terikat dengan dunia. Bahwa selama ini kita sok kuat dan sok tahu: mengandalkan pengetahuan dan kekuatan diri sendiri yang sebenarnya tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Salah satu pelajaran yang bagi saya sangat menarik dari buku ini adalah bahwa 'cinta dunia itu bukan hanya ketika kita terikat dengan sesuatu yang sifatnya material, tetapi juga ketika kita menyandarkan kebahagiaan kita pada manusia, momen, dan emosi.' Maksudnya, dalam melakukan sesuatu, alih-alih berharap Allah ridho, kita malah lebih berfokus pada perhatian manusia. Sementara itu, yang dimaksud dengan terikat pada momen dan emosi adalah kita berharap bahwa hidup ini selalu 'bahagia' dan selalu berjalan persis seperti yang kita harapkan. Kecintaan pada dunia tersebut akan membuat kita mudah jatuh, karena pada dasarnya, seperti yang kita tahu, kita hanya bisa berencana dan berusaha. Oleh karena itu, buku ini mengajarkan kita untuk menjadi lebih stabil dengan cara bersandar pada Allah semata, Zat yang tidak akan pernah berubah. Zat yang selalu ada. Hanya dengan bersandar pada-Nya-lah, kebutuhan dan kecintaan kita pada kesempurnaan dan keabadian dapat terpenuhi.

Alhamdulillah buku ini sudah dicetak ulang, namun oleh penerbit yang berbeda, sehingga saya tidak tahu apakah isinya sama persis atau tidak. Semoga teman-teman bisa mendapatkan manfaat dari buku ini ya! Kalau ada yang salah dari tulisan saya, silakan disampaikan. Allahu a'lam

Rabu, 28 November 2018

Menjemput Penggenap Keimanan


(Sebut saja) Mawar: “Tin, seumur-umur aku nggak pernah pacaran. Tapi bayangin, aku justru ‘terpeleset’ satu minggu sebelum akad. Godaannya di masa-masa seperti itu besar banget menurutku. Sampai sekarang aku merasa berdosa banget ... 

Me: “…”

Mawar: “Ya gimana ya…saat itu tuh kita udah tau kalau dia adalah jodoh kita gitu… ”
Sampai hari ini, saya tidak tahu ‘terpeleset’ seperti apa yang Mawar maksudkan. Namun, berdasarkan cerita panjang lebarnya, beberapa minggu sebelum akad ia tidak pernah bertemu langsung dengan calon suaminya dan ‘hanya’ menjalin komunikasi melalui media sosial. Mungkin, Mawar terpeleset mengirim pesan yang menurutnya terlampau mesra, sementara keduanya belum sah. Ah ya, bagi mereka yang memang sudah berkomitmen untuk menjemput jodoh dengan cara terbaik, hal itu sudah merupakan kesalahan yang membuatnya merasa sangat berdosa.

Di sisi lain, akhir-akhir ini kita bisa melihat di media sosial bertebaran foto ‘engagement’ atau bahasa kerennya ‘lamaran’ atau ‘khitbah’, yang kemudian mereka yang sudah lamaran itu kerap memamerkan foto mesranya. Nah, sebenarnya bagaimana sih islam mengajarkan kita untuk menjemput jodoh kita melalui proses nazhor-khitbah-nikah? Apa saja yang harus kita perhatikan? Berikut ini merupakan rangkuman kajian pranikah yang rutin diadakan di Masjid Ulul ‘Azmi UNAIR dengan dibina oleh Gurunda Ustadz Afri Andiarto. Rangkuman ini sudah diperiksa oleh beliau..

Nazhor
Pada umumnya dalam ajaran islam, laki-laki boleh melihat perempuan dalam jual beli, memberikan kesaksian, dan berbagai kegiatan baik lainnya dengan batas-batas tertentu. Namun, nazhor yang dimaksud di sini adalah proses melihat perempuan yang dilakukan sebelum laki-laki melamar atau mengkhitbah seorang perempuan. Adanya nazhor merupakan bentuk kehati-hatian, menjaga dari adanya ketertipuan fisik maupun akhlak. Hal ini penting karena pernikahan adalah ibadah seumur hidup dan ikrar pernikahan adalah termasuk dalam perjanjian yang sangat kuat. 

Mayoritas ulama sepakat bahwa laki-laki yang hendak melihat perempuan dengan maksud menikahi tidak perlu izin kepada perempuan yang bersangkutan, agar si laki-laki bisa mengetahui keadaan asli si perempuan. Maksudnya, karena tidak tahu akan diperhatikan, si perempuan akan berpenampilan dan bersikap natural atau tidak dibuat-dibuat. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan untuk menjaga perasaan si perempuan. Bisa saja laki-laki ini tidak jadi menikahi si perempuan setelah memperhatikannya. Jika si perempuan mengetahui hal ini, tentu ini akan sangat melukainya. Namun, dalam hal ini Imam Malik berpendapat bahwa laki-laki harus izin kepada si perempuan, karena khawatir bahwa saat laki-laki melihat, perempuan yang tidak tahu ini sedang menampakkan auratnya. Satu hal penting yang perlu diingat ialah bagian tubuh yang boleh dilihat hanya wajah dan telapak tangan. Menurut Imam An-Nawawi, dengan memperhatikan tangan, laki-laki dapat mengetahui kecantikan seorang perempuan dan kesehatannya. 

Nah, apabila laki-laki tidak memungkinkan untuk melihat si perempuan, misalnya karena ia sedang berada di luar negeri, ia bisa meminta tolong kepada saudara atau teman perempuan (yang tidak ada kepentingan atau perasaan kepada si laki-laki) untuk melihat perempuan yang dimaksudkan.

Khitbah
Khitbah secara bahasa berasal dari kata khotoba yang artinya bercakap, menyampaikan sesuatu, dan identik dengan singkat, padat, dan jelas. Secara istilah, khitbah di sini bermakna menyampaikan maksud untuk meminang dari pihak laki-laki kepada wali dari pihak perempuan dengan ringkas, padat, dan tidak bertele-tele.

Adapun sunnah-sunnah dalam khitbah antara lain: mengucapkan maksud dengan diawali dengan membaca hamdalah dan sholawat nabi. Tidak diwajibkan untuk beramai-ramai dalam melamar, namun hal ini diperbolehkan karena biasanya ini dimaksudkan untuk menjalin silaturahim. Begitupun dengan membawa seserahan, diperbolehkan meskipun tidak wajib. Seserahan ini dinilai sebagai hadiah, yang mana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Saling memberilah hadiah , niscaya kalian akan saling mencintai. Namun, yang tidak diperbolehkan adalah apabila hal itu sampai memberatkan atau mempersulit diri sendiri. Karena Rasulullah pun menganjurkan kita untuk bersederhana. Adapun hukum tukar cincin adalah boleh, asalkan tidak saling bersentuhan. Maka tukar cincin bisa dilakukan dengan cara berikut: ibu si laki-laki memakaikan cincin kepada si perempuan; ayah si perempuan memakaikan cincin kepada si laki-laki.

Setelah lamaran diterima, maka laki-laki dan perempuan yang bersangkutan memasuki masa khitbah. Ketika memasuki masa khitbah, ulama menganjurkan untuk lebih ketat dalam menjaga interaksi, karena bagaimanapun keduanya belum terikat dalam pernikahan, sehingga tetap harus menjaga seperti tidak keluar berduaan dsb. Selain itu, pada masa ini godaan syetan lebih besar untuk menghasut keduanya agar melakukan maksiat.  Hal ini dikarenakan syetan sangat khawatir akan pernikahan yang akan dilaksanakan keduanya, yang mana pernikahan merupakan penyempurna separuh agama. Oleh karena itu, hendaknya setelah lamaran diterima, disegerakan untuk melaksanakan akad.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ramaikanlah pernikahan dan sembunyikanlah khitbah (lamaran).” Seorang ulama pengikut madzhab Imam Malik mengatakan bahwa disunnahkan untuk menyembunyikan khitbah. Pertimbangan bahwa khitbah sebaiknya disembunyikan antara lain karena: untuk melindungi jikalau ada orang hasud atau tidak suka dengan bersatunya kedua calon mempelai; khitbah adalah rencana, kita sebagai manusia tidak tahu apa yang akan terjadi sebelum akad. Jika kemungkinan terburuk tidak jadi menikah, setidaknya kedua calon mempelai tidak menanggung malu yang sangat besar karena hanya keluarga yang mengetahui.

---

Akhirnya, kita harus memahami bahwa misi mengapa kita menikah bukanlah semata untuk bahagia, namun untuk menjalankan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian lahirlah generasi-generasi muda yang nantinya turut meneruskan perjuangan dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mengingat besar dan mulianya misi pernikahan, sudah semestinya kita menjemput jodoh kita dengan keimanan yang utuh, ilmu yang mumpuni, dan juga cara yang baik. Allahu a’lam

Senin, 26 November 2018

Lebih Baik Bersama


Menjadi penulis adalah cita-cita saya sejak kelas 1 SD. Seingat saya, waktu itu saya masih belum punya alasan khusus. Seiring berjalannya waktu, ketika saya sudah mulai beranjak remaja, saya semakin termotivasi untuk menjadi penulis karena saya ingin nama saya nangkring di toko buku. Cukup lama motivasi tersebut bersemayam dalam benak saya. Sampai akhirnya, setelah berbagai tempat saya kunjungi, banyak orang Allah pertemukan dengan saya, berbagai hikmah Allah hadirkan untuk mencerahkan hati dan pikiran, jadilah ‘penulis’ bukan lagi cita-cita saya, namun ‘menulis’ adalah jalan hidup saya. Kini, bagi saya ‘penulis’ bukanlah pekerjaan, namun ianya merupakan kewajiban yang didasari dengan semangat berbagi dan melanggengkan budaya para ulama salafussholih yang menjadikan menulis sebagai jalan hidup untuk menjaga warisan para nabi dan rasul berupa ilmu.

Dengan kemantapan itu, kemudian muncullah berbagai cita-cita. Salah satunya menulis buku. Alhamdulillah Allah mewujudkannya. Dalam waktu kurang lebih sembilan bulan (mulai dari menulis pertama sampai dijual di toko buku) lahirlah buku berjudul Setiap Detik Bersama Allah, yang diterbitkan oleh Gramedia. Meskipun masih banyak kurangnya dari segi sumber dan teknik penulisan, namun saya sangat bersyukur atas karunia ini.

Manusia berproses. Setelah mendengarkan banyak nasihat dan hakikat-hakikat baru melalui berbagai kajian, saya menjadi semakin ciut. Mendengarkan penjelasan para ulama’ dalam kitab-kitabnya selalu membuat saya merasa tidak pantas untuk menulis. Para ulama’ terdahulu telah menjelaskan banyak hal dengan sangat lengkap dan penuh keikhlasan. Sedangkan saya…masih perlu dipertanyakan dalam berbagai aspeknya. Masih perlukah saya menulis? Namun, ketika saya berpikir begitu, beberapa orang meyakinkan saya bahwa tulisan saya mungkin bisa menjangkau saudara-saudara yang belum sampai mengkaji kitabnya para ulama’. Baiklah, dari situ saya jadi semangat lagi, meskipun akhirnya saya merasa bahwa harus ada orang yang mumpuni secara ilmu untuk bisa mengoreksi tulisan saya. Hal ini ditegaskan oleh Ustadz Afri Andiarto, pada saat saya menyerahkan buku ‘Katanya Pengen Mondok?’ karya Thalib El-Dhiya’ (saya dan 23 teman saya yang lain) ketika pembinaan robithoh da’waturrasul. Masih dengan bahagia (beliau selalu senang ketika murid beliau menulis) beliau mengatakan yang kurang lebih intinya serahkanlah tulisanmu kepada gurumu sebelum dipublikasikan, agar gurumu bisa memeriksa jikalau ada isi yang salah. Sejak saat itu, menguatlah harap dalam diri saya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar bisa menulis dengan orang yang lebih berilmu.

Allah mewujudkannya. 'Beliau' (masih dirahasakan hehe), sosok yang saya ikuti akhlak dan ilmunya mengajak saya untuk bergabung dalam tim menulis yang berisi saya dan dua sosok lain (masih dirahasiakan juga hehe) yang keren di bidangnya masing-masing (maa syaa Allah). Buku yang ingin kami tulis bukanlah antologi, sehingga kami bekerja berdasarkan pembagian tugas. Alhamdulillah kami berempat sudah bertemu sekali, dan bertemu secara tidak full team tiga kali. Ketika bertemu, biasanya kami berdiskusi mengenai referensi. Saya merasa sangat bersyukur. Jika menulis buku sendiri, biasanya saya kebingungan untuk mengisi beberapa bagian, karena itu bukanlah bidang yang saya mampu, sehingga tak jarang akhirnya bagian itu saya hapus. Namun, dengan menulis bersama, kami bisa saling mengisi sehingga mewujudkan tulisan yang bernas. Inilah yang dimaksudkan oleh nasihat bijak jika kau ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendiri. Namun, jika kau ingin berjalan lebih jauh, maka berjalanlah bersama. Maksudnya, dengan berjalan bersama kita bisa meraih hal-hal yang tidak bisa kita capai bila sendirian. Iya, menulis sendiri memang lebih cepat (bagi orang yang sudah terbiasa menulis), karena tidak perlu menunggu teman-teman satu tim yang mungkin punya kesibukan lain, sehingga harus ada yang rela menjadi menyebalkan dengan terus menagihi teman-teman satu timnya hehe (pengalaman ketika menulis bersama Thalib El-Dhiya’). Tetapi, sekali lagi, perjuangan menulis bersama ini sebanding dengan hasil yang bisa kita dapatkan. Gara-gara itu, sekarang setiap ada ide untuk menulis buku, saya bergegas untuk mencari partner yang cocok. Saya nggak mau sendirian lagi, hehe.

Nah, indahnya berjamaah bukan hanya bisa diwujudkan dalam menulis kok, namun juga untuk hobi-hobi baik lain seperti memasak, videografi, olahraga, dan sebagainya. Jadi, apapun hobimu, jangan ragu untuk terus menebar kebaikan untuk umat lewat jama'ah-jama'ah kebaikan ya. Insyaa Allah.