Kamis, 02 Juli 2020

Laki-laki Pertama yang Mengetuk Pintu

Teman-teman yang berusia 23-an ke atas, apalagi sudah lulus kuliah, biasanya kegalauan soal jodoh cukup mendominasi hari-harinya. Hal ini bisa dimaklumi, karena selain merupakan ibadah yang sangat agung yang membutuhkan ilmu dan banyak kesiapan, pernikahan juga mengandung unsur pemenuhan kebutuhan biologis, psikologis, dan sosial. Jadi... meskipun para senior kita yang sudah menikah sering mengingatkan bahwa nikah itu perjuangan, pasti ada masalah yang akan menerpa, banyak penyesuaian yang harus kita lakukan; pada akhirnya yang mendominasi benak kita adalah manis-manisnya.

Setiap orang memiliki jalan ceritanya masing-masing dalam bertemu dengan jodohnya. Asalkan jalan yang ditempuh dalam menjemput jodoh tidak melanggar syariat, kita bisa mengambil hikmah dari setiap cerita tersebut. Ada yang sama sekali nggak ada pikiran untuk menikah, tapi tiba-tiba orang yang tepat itu datang. Ada yang sudah berusaha semaksimal mungkin tapi selalu berakhir kandas. Ada yang sudah terasa mantep banget dengan seseorang, tapi ternyata yang berani menyatakan duluan justru orang yang lain. Dan sebagainya. Selama kita nggak melanggar aturan Allah, kita perlu mensyukuri jalan yang harus kita lalui.

Nah kali ini aku mau cerita tentang seorang kawan yang beberapa hari lalu mengabarkan bahwa ia akan menikah beberapa pekan lagi. Kawanku ini adalah seorang aktivis di kampus. Sebagai aktivis, apalagi dia beberapa kali menempati posisi strategis, dia sering dijodohkan dengan si A, si B, dan si C oleh kawan-kawannya. Entah mengapa kami senang sekali menebak-nebak, siapa di antara teman laki-laki kami yang beruntung bisa menjadi pasangannya*. Tapi ternyata, nama yang bersanding dengannya di undangan tersebut bukanlah nama yang kami kenal.

Usut punya usut, ternyata memang kawanku tersebut memiliki prinsip bahwa ia tidak menggantungkan harapannya pada seorang laki-laki. Ia akan menikah dengan laki-laki pertama yang mengetuk pintu dan ia cocok. Dari cerita tersebut, aku teringat pula dengan seorang kakak tingkat yang orangnya kalem sekali. Cerita beliau bertemu dengan jodohnya itu simpel buanget. Gak galau-galau lah pokoknya. Adanya masalah itu pasti, tapi nggak sampai berlarut-larut.

Dua kisah tersebut bagiku pribadi sangat menggugah hati. Aku tersentuh. Oh ini lho yang dimaksud dengan "Allah sesuai prasangka hamba." Kalau ada yang mikir jodoh itu ribet, ya ribet beneran. Na'udzubillah T_T. Kalau ada yang berpikir bahwa menjemput jodoh itu harus lewat pacaran, kalau enggak ya nggak ketemu jodoh. Ya beneran dah kayak gtu jadinya. Bakalan muter aja cerita cintanya di masalah begituan. Na'udzubillah. Kalau ada yang mikir jodoh itu datang dengan cara sebar umpan sana sini, sebar kode siang dan malam, ya bakalan ribet aja cerita cinta kita di seputar begituan. Na'udzubillah.

Sementara dua temanku tadi melihat proses jodoh secara sederhana, sebab yakin Allah akan menghadirkan orang yang tepat pada saat yang tepat.

Ya Allah...

Sekali lagi, tiap orang punya jalannya masing-masing Guys. Karena tiap kita punya kecenderungan yang berbeda. Ada yang diem, ada yang agresif, hehe. Kalau memang ingin menyampaikan, sampaikan dengan cara yang diperbolehkan oleh Allah dan rasul-Nya. Selama itu tidak melanggar syariat, dan sudah siap, gaskeunnnn. Jangan lupa semua harus dikawal dengan niat dan ilmu yang benar yaa. Jangan terlalu ngoyo juga. Jodoh itu bagian dari rezeki. Rezeki itu udah dijamin.

Aku tau yakin itu proses Guys. Jadi aku cuma bisa bilang, TETEP SEMANGAT DAN TETAP PRODUKTIF YAA KITA! Wkwkwk.

Nih aku kasih penutup untuk menambah keyakinan kita.

Guru-guru kita membuat analogi seperti ini. Bayangin di hadapan kita ada karpet 5 meter. Bisa nggak kita melewatinya dalam sekali langkah atau sekali lompatan? Kita cenderung berpikir nggak mungkin kan? Padahal....bukankah karpet itu bisa digulung, lalu kemudian dilewati dalam sekali langkah? Pikiran kita sering membatasi kehendak Allah. Padahal Allah selalu punya cara. Allah sesuai prasangka kita. Kalau kita mikirnya ruwet, hanya mengandalkan usaha kita, ya begitulah kita bakalan diribetkan dengan logika sebab akibat yang kita bangun. Note to myself: belajar mikir sederhana aja, nggak usah terlalu dipikir bagaimananya🤧. -Dari penjelasan Ustadz Afri  beberapa pekan lalu-

Semoga bermanfaat dan semua hajat baik kita dikabulkan Allah. Aamiin

*Padahal sebenarnya ketika Allah sudah menjodohkan, itu bukan soal keberuntungan, melainkan memang Allah ciptakan untuk saling mengisi.

Senin, 11 Mei 2020

Doa Paling Sunyi

Bismillahirrahmanirrahim

Kawan, pernahkah kau merasa sangat bersyukur atas kebaikan yang orang lain lakukan kepadamu? Hingga pujian "Betapa baiknya orang ini," terus memenuhi benakmu. Hingga dalam hatimu engkau berdoa, "Ya Allah, bahagiakan dia, bahagiakan dia, bahagiakan dia. Ya Allah, penuhilah segala keinginan baiknya." Inikah yang dinamakan doa di kala dan tempat yang paling sunyi? Bahkan orang yang 'berdoa' pun seolah tidak sadar ketika melakukannya. Yang ia tahu, ia ingin agar orang yang sudah membantunya ini bahagia. Kawan, maukah kau mendapatkan doa yang begitu sunyi namun indah itu?

Sabtu, 18 April 2020

Memilikimu

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki
Ada banyak sekali jenis suka, kasih dan sayang di dunia ini
Yang jika memang demikian, tidak harus dibawa pulang

Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini
Yang jika sungguh cinta, kita akan membiarkannya
Seperti apa adanya
Hanya menyimpan perasaan itu dalam hati
Selalu begitu, hingga akhir nanti.

(Cuplikan sajak 'Memilikimu' karya Tere Liye)

Rasa suka, kagum, dan cinta kita pada kebaikan yang berwujud manusia, benda, atau perkumpulan adalah hal yang wajar. Kita berasal dari Yang Maha Baik, maka memang fitrah kita mencintai kebaikan. Namun, tidak semua kebaikan itu bisa kita miliki. Terkadang kita hanya bisa memandang dari jauh, mendoakannya, menjadikannya sebagai penyemangat dan warna dalam kehidupan. Terkadang kita harus menerima bahwa ia hanya diizinkan singgah sesaat, menumbuhkan harapan-harapan, kemudian pergi untuk selamanya sekeras apapun kita berusaha mencegahnya. Kita berusaha menerka-nerka, kebaikan besar apa yang Allah sembunyikan, sehingga kita tak diizinkan 'memiliki' semua kebaikan? Terkadang Allah menyingkap alasannya, namun sering pula Dia membiarkan kita berproses dahulu selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup dalam tanda tanya. Jika kita ngotot mengejar kebaikan yang sebenarnya tidak diperuntukkan bagi kita, Allah dengan kasih dan kelembutan-Nya membuat kita merasakan sesak, sampai lahir kesadaran "Sudah cukup aku memperjuangkannya." Kita bersyukur dianugerahi kecintaan terhadap kebaikan. Maka semoga Allah curahkan kebaikan selalu kepada kita. Aamiin.

Rabu, 15 April 2020

Ketika Kami 'Ceramah' di hadapan Ustadz

Assalamu'alaikum teman-teman!
Pada postingan kali ini saya mau cerita tentang salah satu kegiatan Hubb.id (@hubb_id). Oh iya, saya belum pernah cerita tentang Hubb.id di blog ya. Hubb.id adalah komunitas di bawah payung Robwah Foundation yang menggiatkan literasi. Bagi teman-teman yang penasaran dengan komunitas yang baru berdiri selama setahun ini, bisa cari tahu di instagram kami @hubb_id. 

Oke, lanjut. Sekitar bulan Oktober 2019 (kalau nggak salah), teman-teman anggota Hubb.id pernah berkumpul untuk berbagi isi dan hikmah dari buku yang sudah dibaca. Pada sharing buku perdana tersebut, yang mendapatkan giliran adalah Tommy dan Mbak Hestin. Tommy sharing buku tentang bidang yang ia dalami-Sistem Informasi, sedangkan Mbak Hestin sharing salah satu buku Ustadzah Halimah Alaydrus. Namun pasca hari itu, dikarenakan beberapa hal, salah satunya karena kami fokus mempersiapkan pelatihan kepenulisan untuk awal Desember, tidak ada sharing buku secara langsung berikutnya.

Hari-hari berlalu. Hubb.id bergerak di media sosial saja dengan membagikan tulisan-tulisan dan video. Termasuk ketika pandemi covid 19 saat ini, Hubb.id berusaha mengunggah tulisan-tulisan maupun video yang menyejukkan di tengah kepanikan yang sedikit banyak mengikis keyakinan kita akan kuasa Allah. Sampai suatu hari, Ustadz Afri Andiarto, selaku pembina kami dan founder Robwah Foundation beserta 4 komunitas di bawahnya menyampaikan ide agar kami mengadakan diskusi buku lagi. Ya, tentunya secara daring atau online.

Bebeberapa hari setelah ide tersebut Ustadz sampaikan, aku menawarkan kepada teman-teman Hubb.id, siapa saja yang berkenan menjadi narasumber. Maa syaa Allah, ternyata teman-teman Hubb.id dan Ustadz menyambut dengan antusias. Langsung ada 6 orang (termasuk saya) yang mengajukan tema diskusi beserta buku acuannya. Saya langsung membuat 'jarkoman', Husada  membuat poster. ALHAMDULILLAH PAK DOKTER HUSADA AGAK LONGGAR HEHE. Setelah itu, kami merilis undangan untuk hadir melalui grup-grup komunitas Robwah Foundation. Responnya juga di luar dugaan saya. Mereka menunjukkan antusiasme. 

Pertemuan pertama pada 10 April 2020 diisi oleh Ustadz Afri tentang 'mimpi dalam islam' (buku The Ultimate Psychology) dan Husada tentang 'doa dan ikhtiar' (buku Iman Kunci Kesempurnaan). Alhamdulillah yang bergabung di forum ini sekitar 30 orang, diskusi begitu hidup, pokoknya seru deh. Senang sekali. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmussholihaat. 

Kemudian tibalah hari Rabu, 15 April 2020. Saatnya saya dan Khotijah yang jadi narasumber. Karena belum berani membedah buku agama, akhirnya saya memilih buku yang berbau psikologi-> Empowering Children: Play-Based Curriculum for Lifelong Leaning sementara Khotijah memilih buku Cerita Siswa yang Gemar Mengumpulkan Daun-daun. Sebelum pertemuan daring ini dimulai, saya sudah berusaha menata hati. Saya nggak ingin berharap pada siapapun selain kepada Allah. Niatku berbagi ilmu. Titik. Entah nanti bakalan sepi banget atau nggak sehidup ketika pertemuan pertama, saya nggak boleh kecewa. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanyalah seseorang yang oleh Allah diberi sedikit dari ilmu-Nya yang tak bertepi dan berusaha menebar manfaat.

Namun, teman-teman, beberapa menit sebelum pertemuan itu dimulai, siapa coba yang bingung woro-woro di grup? Ustadz Afri :') "Beliau nggak ada jadwal kuliah kah?" batinku. Begitu forum Zoom dibuka, beliau termasuk yang pertama masuk di forum dan ternyata menyimak serta bertahan sampai akhir. Begitu forum ditutup, beliau langsung kirim jempol melalui grup WhatsApp Hubb.id. Beliau juga mengatakan, "Menarik dan banyak ilmu baru." Jujur aku terharu banget sih. Beliau yang memiliki banyak jamaah, dicintai dan diikuti oleh banyak anak muda; berkenan untuk memberikan dukungan secara langsung dengan menyimak penjelasan kami selama kurang lebih 2 jam. 

Memang sih...menurut saya, salah satu kunci yang membuat teman-teman mahasiswa dan sampai lulus dan keluar dari Surabaya terus ingin menjalin silaturahim dengan beliau adalah beliau merupakan sosok yang mudah mengapresiasi dan mensyukuri. Beliau mengapresiasi hal-hal sederhana yang kami capai, hal-hal yang kami miliki. Dan kali ini...bahkan beliau mau 'belajar' dari penjelasan kami. Maa syaa Allah...sehat selalu Ustadz, Mbak Osyi, dan keluarga...

Selasa, 14 April 2020

Asyiknya Belajar Psikologi

"Asyiknya Belajar Psikologi" kutulis menjelang 1 tahun terakhirku sebagai mahasiswi Fakultas Psikologi UNAIR. Motivasiku menulis buku ini adalah aku ingin memperkenalkan ke orang banyak, khususnya adik-adik yang masih SMP/ SMA, tentang kuliah psikologi 'yang sebenarnya'. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak yang salah paham. Misalnya menganggap bahwa dengan mempelajari psikologi, seseorang akan bisa membaca kepribadian orang lain dengan sekali tatap. Kemudian ada pula anggapan bahwa psikologi adalah jurusan yang mudah dinalar jadinya sebelum ujian nggak perlu belajar. Tak sedikit pula yang berpikir bahwa psikologi adalah jurusan yang bebas dari angka. Serta masih banyak anggapan yang 'lucu' (atau salah kaprah?) lainnya. Maka dengan membaca buku ini, semoga adik-adik bisa memiliki 'motivasi yang benar' saat akan mendaftarkan diri sebagai mahasiswa psikologi. Motivasi yang benar dan mantap insyaa Allah akan membuat adik-adik lebih 'survive' ketika nanti harus berhadapan dengan berbagai tantang sebagai mahasiswa. 

Selain itu, aku berharap bahwa buku ini bisa menjadi buku pedoman yang asyik bagi teman-teman yang sudah resmi menjadi mahasiswa psikologi. Pedoman untuk apa? Yaitu supaya teman-teman lebih aware dengan berbagai tantangan, kesempatan, dan bahkan kekuatan yang harus teman-teman kerahkan dalam menjalani dunia kemahasiswaan. Banyak banget lho yang ingin berada di posisi teman-teman saat ini. Jadi pastikanlah teman-teman memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.

Nah, untuk mencapai tujuan itu, aku melukiskan beberapa bab dan subbab dalam buku ini. Berikut daftar isinya: 

- 'Psikologi Bertentangan dengan Islam', Benarkah?
- Serunya Kuliah di Psikologi
- Apa Saja Sih yang Dipelajari di Psikologi? (sub-bab: Warna-warni Semester Awal, Perjuangan Semester Pertengahan, Haru Biru Semester Akhir)
- Mencari Tempat Tinggal
- Manajemen Waktu
- Lomba-lomba
- Surat dari Masa Lalu (Aku yang Awalnya Tidak Ingin Kuliah di Sini)
- Mahasiswa Itu... Ya Gini!
- Magang Yuk!
- Kuliah di Psikologi, Mau Jadi Apa?

Lengkap kan....? Hehehe. Alhamdulillah... 
Buku ini aku terbitkan secara indie pada April 2019. Bagi teman-teman yang berminat membeli, bisa hubungi aku via email: fatinphilia3@gmail.com atau DM instagram @fatinphiliahikmah2
Berikut beberapa testimoni pembaca:

Setelah membaca buku Kak Fatin, rasanya rahasia besar mahasiswa psikologi kini terungkap lebar. Dan sedetik kemudian saya meletakkan bukunya, lalu bangkit dan mulai menyusun rencana agar empat tahun saya nanti berlangsung dengan penuh kesan 
-Farah (mahasiswi Psikologi Universitas Syiah Kuala)
Buku yang membuat saya terpukau. Seandainya saya tahu bahwa psikologi sehebat ini, mungkin sejak masa SMP saya sudah belajar. Dengan membaca buku ini, seakan-akan saya menjadi aktor yang siap membombardir dunia. Keren! 
-Mukhlisin (mahasiswa Psikologi UIN Malang)
...Buku ini bukan sekedar curahan hati selama menjadi mahasiswa psikologi, tetapi juga menyajikan dengan sangat asyik tentang apa saja yang perlu dipahami, disiapkan dan diluruskan, bagaimana sebaiknya menjalankan perkuliahan serta bagaimana caranya melihat dan membangun masa depan dengan bekal psikologi...
-Nursita (wisudawan berprestasi Fakultas Psikologi UNAIR Juli 2018)


 


Senin, 08 April 2019

Kuliah Profesi, Apa yang Kau Cari


Tepat seminggu yang lalu, aku sedang berada di sebuah rumah kost di Kelurahan Kukusan,Depok, Jawa Barat, sebab aku akan mengikuti tes masuk Magister Profesi Psikologi UI tahap 2 keesokan harinya.  Alhamdulillah tadi siang pengumuman hasil tes sudah dirilis dan aku harus menerima bahwa aku belum berjodoh dengan kampus berlambang makara itu. Gimana rasanya? Sedih pastinya. 

Ya meskipun pada hari-hari yang lalu aku sudah mengira akan hasil yang demikian, tapi rasa sedih itu nyatanya masih cukup menguasai. Bagaimana tidak sedih, aku sudah tinggal di Depok selama 12 hari 11 malam, yang dalam kurun waktu tersebut aku sudah akrab dengan berbagai hal baru di sana. Selama itu pula aku menyusun balok-balok mimpiku. Maka aku pun memberi ruang untuk diriku bersedih. Aku memberi ruang untuk diriku menangis. Tidak apa-apa. Aku bersyukur, Allah masih menjaga keyakinan dalam hatiku bahwa “Allah tahu yang terbaik.” Maka menangisku bukanlah ungkapan tidak terima akan takdir-Nya, namun ‘hanyalah’ ekspresi kemanusiaanku.

Terlepas dari kesedihanku, aku mendapatkan banyak pelajaran dari tes kemarin. Salah satunya dari tes wawancara. Tes ini benar-benar menguji apa dan seberapa kuat motivasiku untuk mengikuti pendidikan profesi psikologi pendidikan. Sebab memang awalnya cita-citaku belum terlalu spesifik: aku ingin terus belajar, berbagi, dan bermanfaat. Apakah cita-cita itu salah? Sama sekali enggak. Tapi gini lho, setelah lulus dari sini kamu akan bergelar sebagai psikolog, ditambah lagi yang ingin kuliah di sini tuh nggak sedikit, jadi ya masa cita-citamu se-abstrak itu? Apa ya mungkin orang yang baru mengenalmu (bapak dan ibu pewawancara) bisa yakin padamu dengan cita-cita yang kurang operasional itu?

Mengapa memilih program profesi psikologi pendidikan? Pada saat wawancara itu, aku juga sempat ditanya, lembaga pendidikan mana yang menurutmu bagus? Apa yang ingin kamu lakukan selama lima tahun ke depan? Aku bisa menjawab pertanyaan itu, tapi mungkin kurang mantap. Di situ aku jadi sadar, bahwa aku belum merumuskan cita-citaku secara lebih jelas. Bahwa aku belum menenggelamkan diriku dalam cita-citaku. Pilihanku untuk sekolah profesi sudah mantap, tapi ‘lalu-habis-itu-ngapain-nya’ ini yang perlu digali lebih dalam lalu harus terus diusahakan dan didoakan.

Maka dari wawancara kemarin aku belajar untuk lebih mengenal diriku. Aku belajar untuk lebih semangat merumuskan dan mengejar cita-citaku. Bukan, bukan untuk lolos tes wawancara. Tapi untuk belajar-berbagi-dan-menebar-manfaat yang lebih baik.

Minggu, 17 Februari 2019

Ruang Sendiri

Kita menemukan banyak hal menarik di setiap sudut bumi ini. Allah mempertemukan kita dengannya. Sambil memperhatikan sekeliling, kita mencerna apa yang terjadi, kemudian mengambil hikmahnya. Sering kita kagum atau senang dengan hikmah yang kita peroleh, dan agar manfaat dari hikmah itu semakin luas, kita membagikannya melalui berbagai media sosial yang kita miliki. 

Namun, aku pada akhirnya sampai pada titik 'kecanduan update' segala hal. Apapun dan di manapun. 

Rabu, 13 Februari 2019

Menunggu Kelahiran


Saat ini aku sedang menunggu. Menunggu naskah  yang berencana aku bukukan menjalani prosesnya. Dalam waktu yang bersamaan, kini ia sedang berada di tangan para peninjau, layouter, dan juga menanti dibuatkan baju oleh sang desainer sampul.  Rasanya tak sabar menimang dirinya yang hangat yang baru keluar dari percetakan. Maka menurutku tak berlebihan jika Raditya Dika menyamakan kelegaan yang dirasakan penulis ketika bukunya terbit sama dengan kelegaan yang dirasakan oleh seorang ibu yang baru saja melahirkan (meskipun Raditya Dika tidak pernah merasakan melahirkan).

Sebab menulis, khususnya menulis sebuah buku, adalah proses panjang. Bibitnya adalah keresahan yang ditanam dalam tanah kesadaran bahwa sedikit pengalaman disertai ilmu yang sedikit harus dibagikan untuk meluaskan kebaikan.  Bukan sekedar berbagi, namun berbagi yang bertanggung  jawab. Maka dari itu, membesarkannya harus selalu disertai upaya-upaya koreksi yang tak kenal lelah, minimal agar yang ditulis tidak ‘menyesatkan’ orang lain. Maka sikap yang mesti dipelihara oleh seorang yang menulis buku adalah sabar menjalani proses, tidak asal membagikan, tidak asal bicara, meski  yang menulis ini pun masih belajar untuk itu.

Selasa, 15 Januari 2019

Seiring Berjalannya Waktu

Setiap pagi menjelang, kita bersiap untuk menjalani rutinitas masing-masing, kebanyakan melakukan apa yang menjadi kebiasaannya. Bagi yang biasanya kerja ya siap-siap ke 'kantornya', ada yang mengawali paginya dengan hadir taklim, ada pula yang memiliki ritual pagi semacam membaca koran sambil ditemani secangkir teh, bahkan ada juga yang biasanya maksiat masih teguh  dengan maksiatnya.
.
Waktu berlalu, musim berganti tak menentu. Nyatanya selama jantung masih berdetak, selalu ada peluang seorang manusia berbalik arah. Dari yang awalnya rajin maksiat, mulai tobat dan membangun kembali hidupnya dengan akhlak, ilmu, dan amal di jalan yang diridhoi-Nya. Namun, ada pula yang awalnya rajin ibadah bahkan taklim setiap hari tapi akhirnya meremehkan salat dan mulai rajin bermaksiat. Na'udzubillah min dzalik.
.
Kehidupan ini adalah buku raksasa. Dari membacanya, kita belajar banyak hal. Dari fenomena ini, kita belajar untuk senantiasa memohon kepada Allah agar Dia senantiasa mencurahi kita dengan hidayah dan taufik-Nya; tidak meremehkan keburukan atau kebaikan sekecil apapun; berprasangka baik kepada orang lain dan alih-alih sibuk mengoreksi orang lain, kita sibuk dengan cacatnya niat, buruknya akhlak, serta kurangnya ilmu dan amal kita.

Sabtu, 12 Januari 2019

#BelajarDariSekitar1

Namanya Laili Talitha Agustina, namun aku biasa memanggilnya Dek Lita. Aku lupa bagaimana persisnya pertama aku berkomunikasi dengan mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR ini, tapi yang jelas kami mengikuti majelis pengajian yang sama di kampus. Dari perkenalan awal itu, kami sering bertemu dalam acara yang sama dan semakin dekat. Layaknya kids zaman now, kami juga berteman di media sosial seperti whatsapp dan instagram. Salah satu yang aku kagumi dari Dek Lita adalah semangatnya dalam belajar. Setelah mendatangi kajian-kajian, biasanya dia akan menuliskan saripatinya ke dalam bentuk tulisan yang dipublikasikan di media sosial. Selain itu, menurutku dia adalah tipe orang yang suka membaca. Hal ini aku simpulkan karena dia rajin sekali komen tulisan di blog-ku (lewat wa maupun langsung di blog), dan komennya dia itu kelihatan banget kalau dia membaca dengan sungguh-sungguh, hal yang nggak banyak orang mau untuk melakukannya. Gara-gara teringat rajinnya Dek Lita dalam membaca tulisan, aku juga jadi termotivasi untuk membaca secara lebih teliti.

Kamis, 20 Desember 2018

Kenapa Memilih Kuliah di Indonesia (aja)?

Setelah lulus dari pendidikan sarjana, tantangan-tantangan baru kehidupan menanti. Uniknya adalah segenap tantangan itu terwakili dengan satu pertanyaan: habis lulus mau ngapain? Pertanyaan yang memiliki efek horor bagi sebagian orang, termasuk untukku. Aku merasa pertanyaan itu horor bukan karena nggak ada yang aku kerjakan sih, tapi lebih ke bahwa ‘kesibukanku saat ini adalah pilihanku yang akan membutuhkan waktu untuk membuatmu memahaminya’. Salah satu tantangan yang insyaa Allah akan kupilih adalah melanjutkan ke pendidikan tingkat master. Dorongan kuat dari orangtua seperti menyihirku dan membuatku berpikir bahwa menempuh jenjang S-2 adalah sebuah kewajiban.

Pada masa-masa awal pasca kelulusanku, orangtuaku sering mendorongku untuk mencari beasiswa untuk S-2 di luar negeri dengan beberapa alasan (yang sebenarnya juga bukan merupakan jaminan sih), misalnya: 1) kuliah di luar negeri akan memberikan pengalaman hidup yang berbeda dibandingan jika kita tetap memilih kuliah di dalam negeri; 2) Menjadi lulusan master dari luar negeri akan membuatmu lebih diperhitungkan saat mencari kerja nanti; 3) tak dapat dipungkiri pula bahwa kuliah di luar negeri menumbuhkan kebanggaan tersendiri. Bahkan untuk meyakinkanku, Bunda sempat juga bilang ke aku, “Bunda nggak papa lho Tin kalau misalnya kamu tinggal.” Ayah pun ikut-ikutan membenarkan Bunda. Namun apalah aku, seorang perempuan tradisional yang berprinsip ‘selama ada yang dekat, kemudian bisa dekat dengan keluarga, kenapa harus cari yang jauh?’

Namun, karena Ayah dan Bunda masih sering memotivasiku untuk kuliah di luar, akhirnya aku pun mulai mencari-cari info. Pencarianku itu berujung pada satu kesimpulan (yang juga masih dipengauhi oleh sikap tadisionalku), kayaknya kuliah di Indonesia pun bagus kok. Nggak kalah sama di luar. Selain itu, aku mulai tegas dengan bertanya kepada diriku sendiri, “Sebernanya, apa sih yang kamu cari dari belajar psikologi, bahkan sampai harus melanjutkan ke jenjang S-2?” Jawaban itu sudah jelas, bahwa belajar psikologi berarti juga mempelajari salah satu aspek dari tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam ini—yang tujuan utamanya adalah semakin mengenal dan takut kepada Allah; yang kemudian dengan mempelajarinya aku bisa bermanfaat untuk diriku sendiri, keluarga, dan masyarakat seluas-luasnya. Lebih khusus lagi, yang aku inginkan bukan sekedar ‘psikologi’, namun juga psikologi yang teintegrasi dengan dengan islam, atau yang biasa dikenal dengan istilah ‘Psikologi Islam’.  Sejauh yang aku tahu dari membaca berbagai wacana tentang psikologi islam, menurutku kunci dari psikologi islam ialah ‘mengaji’, atau mengkaji islam secara mendalam kepada guru, sehingga kita dapat dengan bijak melihat psikologi mainstream dan bagaimana mengintegrasikannya dengan nilai-nilai islam. “Kalau gitu, fix lah di Indonesia tempatnya. Kesempatan buat ke luar negeri bisa lewat short course atau semacamnya yang nggak membutuhkan waktu lama,” pikirku.

Oke, perkara tujuan sudah clear. Kemudian alasan yang membuatku berat meninggalkan Indonesia adalah aku nggak mau jauh dari Ayah dan Bunda, salah satu kunci keberkahan hidupku. Biarkan aku di Indonesia, menambal cacatnya baktiku kepada beliau berdua.

Dengan sikap tradisionalku ini, aku tetap berpikir pada saatnya nanti aku haus ‘go international’ wkwk. Aku punya cita-cita buat mendirikan lembaga pendidikan Islam di negara-negara yang keberadaan islam masih sangat kurang terlihat seperti misalnya Filipina atau Vietnam. Insyaa Allah akan ada jalan.  Untuk kelas persiapan tes internasional pun, aku mengambil kelas IELTS, jaga-jaga kalau suatu hari nanti Allah membalikkan hatiku hehe. Intinya adalah aku di sini hanya ingin menyajikan pespektif lain, sehingga jika teman-teman masih bingung untuk mengambil keputusan antara ‘kuliah di dalam atau di luar negeri’, cobalah cari juga info dari mereka yang sudah kuliah di sana. Bukan hanya tentang kisah suksesnya, namun juga perjuangan mereka untuk tetap beragama dengan baik dan menjaga keharmonisan dengan keluarga yang ditinggalkan.