Minggu, 18 Februari 2018

Menduduki Ilmu


Menduduki Ilmu
Oleh: Fatin Philia Hikmah
Jika hati senantiasa berniat baik; Allah kan pertemukan ia dengan hal yang baik, orang-orang baik, tempat yang baik, dan kesempatan berbuat baik
-Ustadz Salim Akhukum Fillah-

Bismillah. Semoga kita senantiasa dalam keadaan berniat baik, termasuk ketika membaca tulisan ini. Sehingga sekalipun tulisan ini amat sederhana, dapat menjadi salah satu sebab kebaikan bagi pembaca maupun penulisnya. Insyaa Allah.

Kisah ini bermula  ketika UTS mata kuliah Psikologi Belajar (semester dua). Saya masuk ke ruangan ujian dengan membawa buku tebal milik perpustakaan. Setelah duduk di kursi sesuai nomor urut, saya membaca buku tersebut sekilas. Karena ingin mendinginkan kepala sebelum menghadapi soal-soal, saya tutup buku tersebut dan saya letakkan di jaring-jaring besi yang ada di bawah kursi.

"Eh, kok ditaruh bawah sih, Tin?" tanya Tsurayya Maknun alias Inun, teman yang duduk di samping saya.

"Nah terus mau ditaruh di mana, Nun?" tanya saya dengan heran.

"Ya jangan ditaruh di bawah pokoknya. Apalagi kamu duduk di atasnya. Itu kan ilmu."

Walaupun belum paham kenapa Inun bisa kukuh sekali, saya menurut. Saya meletakkan buku tersebut di tempat yang lebih pantas menurut Inun. Meskipun sebenarnya saya juga ingin bilang, "Kan di dalamnya sama sekali tidak ada ayat Al-Quran. Kan di dalamnya tidak disebut nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan beberapa tokoh yang ada di dalamnya tidak mengakui adanya Tuhan."

---

Saya masih belum tahu alasan Inun melarang saya hingga akhirnya saya menemukan jawabannya ketika saya menempuh mata kuliah Psikologi Ulayat. Tugas akhir semester mata kuliah ini adalah membuat proposal penelitian psikologi ulayat secara berkelompok. Setelah saling melontarkan ide judul proposal penelitian, akhirnya kami mantap dengan usulan salah satu dari kami, yaitu terkait fenomena ngalap berkah oleh para murid di pondok pesantren (santri). Kala itu saya bertugas untuk mencari tentang konsep berkah guna dicantumkan di bab dua (kajian pustaka). Teman saya memberikan beberapa daftar bacaan yang harus saya pelajari. Salah satunya adalah kitab (buku) Ta'lim Al-Muta'allim. Kitab yang berisi tentang adab pencari ilmu (murid/santri/siswa/mahasiswa) tersebut disusun oleh Imam Burhanul Islam Az-Zarnuji. Hingga akhirnya saya terhenti di fasal empat yang membahas tentang mengagungkan ilmu dan guru. Bab ini secara khusus mengajarkan kepada kita bahwa karena ilmu adalah cahaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala—sesuatu yang sangat agung, maka para pencari ilmu harus menjaga adab terhadap guru (penyampai ilmu) dan ilmu itu sendiri sebagai ikhtiar agar ilmu yang diperoleh berkah. Salah satu bentuk adab terhadap ilmu yaitu dengan memuliakan kitab atau buku. Berikut kutipannya:

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم

 العلم وأهله، وتعظيم الأستاذ وتوقيره.

Penting diketahui, seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya.

ومن التعظيم الواجب للعالم أن لا يمد الرجل إلى الكتاب ويضع كتاب التفسير فوق سائر الكتب [تعظيما] ولا يضع شيئا آخر على الكتاب.

Termasuk memuliakan yang harus dilakukan, hendaknya jangan membentangkan kaki ke arah kitab. Kitab tafsir letaknya di atas kitab-kitab lain, dan jangan sampai menaruh sesuatu di atas kitab.
Setelah membaca beberapa babnya, akhirnya saya paham alasan Inun dulu melarang saya meletakkan buku di bawah. Maka sejak saat itu kami berusaha menjaga sikap di depan buku-buku catatan kuliah kami, apalagi buku-buku yang di dalamnya banyak disebutkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dan sabda Rasulullah , apalagi buku-buku yang disusun oleh para ulama', apalagi di depan Al-Quranul karim. Dalam menyusunnya, kami berusaha untuk menjaga urutannya. Biasanya buku kuliah kami yang notabene adalah full pemikiran manusia kami letakkan paling bawah, kemudian di atasnya buku-buku agama yang disusun oleh penulis zaman now, kemudian buku-buku yang disusun oleh para ulama', baru kemudian Al-Quran. Pun dalam meletakkannya. Sebisa mungkin tidak meletakkannya hingga sejajar dengan kaki dan pantat. Tidak pula meletakkan benda apapun di atas buku-buku itu. Dalam salah satu majelis di Ulul ‘Azmi, Ustadz Afri Andiarto (semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjaga beliau) juga berpesan kepada kami, jangan sampai meletakkan buku di dalam jok sepeda motor untuk kemudian diduduki. Pun ketika hujan. Jangan menjadikan buku sebagai payung karena nanti akan membuat buku tersebut basah. Namun, peluklah buku tersebut agar tidak terkena hujan.

Mungkin timbul pertanyaan, nah terus kenapa buku psikologi barat yang di dalamnya nyaris tidak membahas tentang ketuhanan juga harus dihormati? Salah satu dosen kami pernah menjelaskan bahwa meskipun kebanyakan teori psikologi ditemukan oleh tokoh non muslim (yang bahkan sebagian akhlaknya tak patut dicontoh), namun sebenarnya temuan mereka tetaplah bagian dari kebesaran Allah SWT. Ilmu agama maupun umum semuanya adalah ilmu milik Allah SWT* sehingga tetap harus dimuliakan, meskipun tentu kedudukannya tidak setinggi ilmu agama**

*Kalaupun dalam psikologi barat ditemukan nilai-nilai yang menyimpang dari ajaran Islam, itu adalah bagian dari keberagaman hasil pemikiran manusia  yg terbatas (kesalahan itu datangnya dari diri manusia itu sendiri, bukan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Sungguh, Allah Subhanahu Wa Ta’ala  dan rasul-Nya berlepas diri dari itu dan kebenaran itu hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, supaya kita selalu dibimbing-Nya, jangan lupa ikut kajian juga ya J
**Sebab ilmu agama bersumber dari firman Allah SWT, sabda Rasulullah SAW, dan penjelasan para ulama'. Begitu pentingnya ilmu agama, sampai ada ilmu agama yang wajib untuk dipelajari, misalnya fiqih bersuci, fiqih sholat, fiqih muamalah. Sementara ilmu umum hampir dari pemikiran manusia yang sangat mungkin tercampuri nafsu duniawi.

Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu -Imam Syafi'i rahimahullah-

Wallahu a'lam bisshawwab

Kamis, 08 Februari 2018

Nulis (1)


Fatin nulis buku dapat inspirasi dari mana? Aku juga pengen nulis buku, tapi masih bingung mulai dari mana dan belum dapat inspirasi… -Fulanah-

Bagi saya, menulis apapun itu prinsipnya sama seperti ketika kita membuat karya tulis ilmiah: berangkat dari latar belakang masalah. Ada keresahan atau masalah di masyarakat, kemudian kita berusaha menawarkan solusi lewat tulisan. Ada pengalaman, kita berusaha membaginya dengan dikemas sedemikian rupa sehingga bisa diambil hikmahnya oleh orang banyak. Jadi, menulis itu bukan  berangkat dari keinginan untuk menjadi penulis. Tapi jadilah penulis untuk menebar manfaat. Berharap dengan begitu Allah SWT ridho. Karena menurut saya, menjadi penulis adalah efek samping dari usaha menebar manfaat lewat tulisan.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya. Sedangkan barangsiapa yang memberi petunjuk pada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengikutinya. Aliran pahala atau dosa tadi didapati baik yang memberi petunjuk pada kebaikan atau kesesatan tersebut yang mengawalinya atau ada yang sudah mencontoh sebelumnya. Begitu pula aliran pahala atau dosa tersebut didapati dari mengajarkan ilmu, ibadah, adab dan lainnya.”

Kenapa kok gitu? Sebab sekecil apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban. Apakah dari tulisan kita akan menggerakkan pembaca ke arah yang positif atau malah sebaliknya? Apakah tulisan kita membuat pembaca semakin dekat dengan Allah SWT atau malah sebaliknya?
Dapat inspirasi dari mana? Kalau niat kita dari awal adalah menebar manfaat, inspirasi itu akan banyak sekali dan seperti datang sendiri tanpa diundang. Apalagi kalau kita banyak berkecimpung dalam perkumpulan yang bermanfaa juga bersemangat belajar banyak hal. Teruslah membaca. Membaca kebesaran-Nya, yang ada di Al-Quran maupun di alam J