Senin, 24 Desember 2018

Salah Satu Cara Mencari Ide

Akhir-akhir ini, beberapa teman menyatakan bahwa ia ingin menulis buku, tapi belum ada ide. Sebagian yang lain melalui instastory-nya meminta ide kepada netizen sebagai bahan untuk membuat sebuah karya.

Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam berkarya, pun dalam memperoleh ide. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini aku ingin bebagi tentang cara memperoleh ide dari sudut pandangku. Jika cara teman-teman 180 derajat berbeda denganku, tak masalah.

Menurutku, menulislah dengan tujuan untuk berbagi, bukan untuk 'bikin buku' atau 'jadi penulis' atau 'biar punya karya'. Karena kalau kita menulis sekedar untuk disebut sebagai penulis, selain dapat idenya susah, kita akan cenderung kesulitan untuk mempertahankan semangat kita setidaknya sampai satu karya selesai. Menulislah dari apa yang menjadi keresahanmu, dari apa yang menurutmu penting; sehingga tulisanmu itu bisa menjadi media untuk sedikit menyumbangkan solusi atas masalah yang ada. Jika akhirnya suatu saat kamu bepikir untuk berhenti menulis, kamu akan teringat bahwa ada kebaikan yang harus kamu bagikan dari tulisanmu itu.

Nah, apabila kita merasa kehabisan ide, biasanya karena kita belum memanggil keresahan-keresahan kita untuk muncul ke permukaan. Jenuh karena telalu banyak menganggur atau berdiam di rumah bisa jadi faktor yang menghambat ide itu muncul. Kalau menurutku, kita bisa memanggil keresahan itu ke permukaan sehingga mendapatkan ide dengan cara bergaul dengan komunitas-komunitas baik di sekitar kita. Dari ngobrol, kemudian melihat perilaku berbagai macam orang, biasanya akan muncul keresahan dan ide-ide baru.

Omong-omong soal tanya ide ke netizen, sebenarnya itu juga bisa jadi salah satu cara sih, yang kelebihannya adalah kita mengerti kebutuhan pasar. Tapi tetap saja akhirnya kita harus menangkap keresahan di sana, sehingga kita bisa menulis dengan semangat berbagi.

Kamis, 20 Desember 2018

Kenapa Memilih Kuliah di Indonesia (aja)?

Setelah lulus dari pendidikan sarjana, tantangan-tantangan baru kehidupan menanti. Uniknya adalah segenap tantangan itu terwakili dengan satu pertanyaan: habis lulus mau ngapain? Pertanyaan yang memiliki efek horor bagi sebagian orang, termasuk untukku. Aku merasa pertanyaan itu horor bukan karena nggak ada yang aku kerjakan sih, tapi lebih ke bahwa ‘kesibukanku saat ini adalah pilihanku yang akan membutuhkan waktu untuk membuatmu memahaminya’. Salah satu tantangan yang insyaa Allah akan kupilih adalah melanjutkan ke pendidikan tingkat master. Dorongan kuat dari orangtua seperti menyihirku dan membuatku berpikir bahwa menempuh jenjang S-2 adalah sebuah kewajiban.

Pada masa-masa awal pasca kelulusanku, orangtuaku sering mendorongku untuk mencari beasiswa untuk S-2 di luar negeri dengan beberapa alasan (yang sebenarnya juga bukan merupakan jaminan sih), misalnya: 1) kuliah di luar negeri akan memberikan pengalaman hidup yang berbeda dibandingan jika kita tetap memilih kuliah di dalam negeri; 2) Menjadi lulusan master dari luar negeri akan membuatmu lebih diperhitungkan saat mencari kerja nanti; 3) tak dapat dipungkiri pula bahwa kuliah di luar negeri menumbuhkan kebanggaan tersendiri. Bahkan untuk meyakinkanku, Bunda sempat juga bilang ke aku, “Bunda nggak papa lho Tin kalau misalnya kamu tinggal.” Ayah pun ikut-ikutan membenarkan Bunda. Namun apalah aku, seorang perempuan tradisional yang berprinsip ‘selama ada yang dekat, kemudian bisa dekat dengan keluarga, kenapa harus cari yang jauh?’

Namun, karena Ayah dan Bunda masih sering memotivasiku untuk kuliah di luar, akhirnya aku pun mulai mencari-cari info. Pencarianku itu berujung pada satu kesimpulan (yang juga masih dipengauhi oleh sikap tadisionalku), kayaknya kuliah di Indonesia pun bagus kok. Nggak kalah sama di luar. Selain itu, aku mulai tegas dengan bertanya kepada diriku sendiri, “Sebernanya, apa sih yang kamu cari dari belajar psikologi, bahkan sampai harus melanjutkan ke jenjang S-2?” Jawaban itu sudah jelas, bahwa belajar psikologi berarti juga mempelajari salah satu aspek dari tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam ini—yang tujuan utamanya adalah semakin mengenal dan takut kepada Allah; yang kemudian dengan mempelajarinya aku bisa bermanfaat untuk diriku sendiri, keluarga, dan masyarakat seluas-luasnya. Lebih khusus lagi, yang aku inginkan bukan sekedar ‘psikologi’, namun juga psikologi yang teintegrasi dengan dengan islam, atau yang biasa dikenal dengan istilah ‘Psikologi Islam’.  Sejauh yang aku tahu dari membaca berbagai wacana tentang psikologi islam, menurutku kunci dari psikologi islam ialah ‘mengaji’, atau mengkaji islam secara mendalam kepada guru, sehingga kita dapat dengan bijak melihat psikologi mainstream dan bagaimana mengintegrasikannya dengan nilai-nilai islam. “Kalau gitu, fix lah di Indonesia tempatnya. Kesempatan buat ke luar negeri bisa lewat short course atau semacamnya yang nggak membutuhkan waktu lama,” pikirku.

Oke, perkara tujuan sudah clear. Kemudian alasan yang membuatku berat meninggalkan Indonesia adalah aku nggak mau jauh dari Ayah dan Bunda, salah satu kunci keberkahan hidupku. Biarkan aku di Indonesia, menambal cacatnya baktiku kepada beliau berdua.

Dengan sikap tradisionalku ini, aku tetap berpikir pada saatnya nanti aku haus ‘go international’ wkwk. Aku punya cita-cita buat mendirikan lembaga pendidikan Islam di negara-negara yang keberadaan islam masih sangat kurang terlihat seperti misalnya Filipina atau Vietnam. Insyaa Allah akan ada jalan.  Untuk kelas persiapan tes internasional pun, aku mengambil kelas IELTS, jaga-jaga kalau suatu hari nanti Allah membalikkan hatiku hehe. Intinya adalah aku di sini hanya ingin menyajikan pespektif lain, sehingga jika teman-teman masih bingung untuk mengambil keputusan antara ‘kuliah di dalam atau di luar negeri’, cobalah cari juga info dari mereka yang sudah kuliah di sana. Bukan hanya tentang kisah suksesnya, namun juga perjuangan mereka untuk tetap beragama dengan baik dan menjaga keharmonisan dengan keluarga yang ditinggalkan.