Sabtu, 10 November 2018

Aroma November

Apakah setiap bulan memang memiliki aromanya masing-masing, yang akan hadir setiap tahunnya? Ketika berkah berupa hujan turun dari langit, aroma itu muncul dan aku yakin bahwa inilah aroma bulan November. Lembap dan wangi alam yang sama yang kuhirup pada November setahun yang lalu, ketika aku pergi ke Jogja bersama sahabat-sahabatku sekaligus tertatih berjuang menyelesaikan skripsi. Aroma yang sama kuhirup dua tahun yang lalu, ketika aku berjuang menghadapi semester lima sekaligus merangkak berusaha mencapai impianku untuk menerbitkan buku. Aroma yang sama kuhirup tiga tahun yang lalu, ketika suara hujan menemaniku dan teman-teman yang berjibaku dengan tugas-tugas semester tiga. Aroma yang sama kuhirup empat tahun yang lalu, ketika aku sebagai mahasiswa baru masih sangat malu-malu, bahkan untuk ke perpustakaan sendirian pun aku rikuh.
.
Aku tak ingat persis, apakah aroma yang sama kuhirup pada November lima tahun yang lalu. Namun kini, tiap kali hujan mengguyur kota sementara aku sedang berada di jalan raya, aku teringat perjuangan berangkat dan pulang sekolah di musim hujan, yang itu membuatku teringat akan berbagai kebodohan yang pernah aku lakukan di masa-masa sekolah.
.
Setiap bulan mungkin memang memiliki aroma naturalnya masing-masing, yang itu mengingatkan kita pada momen, sesuatu, atau bahkan seseorang. Namun semoga aroma kenangan itu membuat kita beristighfar kala kita teringat dosa-dosa dan bersyukur sebab betapa Allah telah memberikan kita kekuatan yang luar biasa hingga bisa melalui banyak rintangan dalam hidup ini.
.
Berbicara soal bulan,  ini adalah bulan Rabiul Awwal dalam sistem penanggalan hijriyah, yang mana pada bulan ini Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam dilahirkan. Pada hari kamis malam jumat kemarin (menjelang 1 Rabiul Awwal), berbagai grup ramai mengingatkan tentang kelahiran sang manusia paling mulia beserta amalan-amalan yang dianjurkan untuk dilakukan. Itu membuatku tertegun. Kupandangi buku kisah hidup beliau Shalallahu 'alaihi wa sallam. Ada rasa rindu merasuk dalam hatiku, rasanya hangat dan nyaman. Dari situ, kemudian aku mencium aroma Rabiul Awwal. Aromanya membuat sanubari sesak oleh rindu. Ah, ternyata sebenarnya kita bisa memilih kenangan dan rindu, serta aroma apa yang ingin kita hadirkan dalam hidup kita. Apakah rindu itu berpahala atau justru sebaliknya, tergantung kita masing-masing. Setiap bulan mungkin memang memiliki aroma naturalnya masing-masing, tapi sebenarnya kita bisa menghadirkan aroma sesuai pilihan kita, tergantung pada ke mana kerinduan hati kita condongkan.