Senin, 12 Juni 2017

Catatan Akhir Magang

Bismillah
Tak terasa sudah hampir genap setahun saya magang di PAUD Anak Ceria, salah satu unit terapan yang dimiliki Fakultas Psikologi UNAIR. Memutuskan magang di sini merupakan salah satu keputusan yang sangat saya syukuri. Saya belajar banyak hal di sini: menjadi guru bagi anak-anak, serta partner yang baik bagi orangtua maupun sesama guru. Awalnya saya belum paham bagaimana berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus…namun di sini saya diberikan kesempatan. Mulanya saya tidak tahu bagaimana mengomunikasikan kepada orangtua tentang ‘insiden’ yang terjadi di sekolah…Alhamdulillah kini saya sedikit lebih paham. Dulu saya tidak tahu bagaimana menyusun pembelajaran dan melakukan penilaian, kemudian di PAUD Anak Ceria saya diberikan keleluasaan untuk belajar. Tapi ya namanya orang belajar, ada masa-masa ketika saya sering sekali melakukan kesalahan, membuat (mungkin) orangtua kurang sreg misalnya, atau diri saya sendiri kurang bisa menikmati tugas saya sebagai guru. Oleh karena itu, berikut saya tuliskan aspek-aspek yang perlu teman-teman perhatikan, supaya bisa berusaha menjadi guru yang baik, dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah saya lakukan.

Partner bagi orangtua
Begitulah. Di sini saya belajar tentang bagaimana menjadi teman yang baik bagi orangtua. Saya diajarkan untuk banyak mendengarkan ayah-bunda ananda, karena merekalah yang semestinya lebih memahami anak secara keseluruhan. Namun di sisi lain, akhirnya saya menyadari bahwa orangtua juga berharap bahwa guru bisa menjadi rekan diskusi terkait perkembangan anak. Mulai dari hal-hal ‘kecil’ di pagi hari yang biasanya disampaikan oleh orangtua ketika mengantar: ini tadi bangunnya kesiangan Bu, gara-gara kemarin tidurnya kemaleman; ini tadi di rumah habis nangis Bu, soalnya …blablabla….; si Ini sedang kurang enak badan, Bu. Jadi mungkin nggak ikut senam nggak papa ya, Bu?;Bu, si Ini kan barusan sembuh. Jadi, nanti kalau misalnya pas berenang kelihatan kedinginan gitu, tolong diajak keluar aja ya Bu; dan seterusnya… sampai perkara-perkara yang cukup serius yang dibahas ketika parent class (rapotan) seperti bagaimana menyiapkan mental anak dalam menyongsong jenjang pendidikan berikutnya.

Percaya deh, sekalipun kita sendiri sebagai mahasiswa mungkin merasa nggak genah-genah amat, urusan kamar sama kuliah aja masih sering berantakan...tapi ketika kita sudah di sekolah, orangtua melihat kita ya sebagai guru dari putra-putri kesayangannya. Maka dari itu, berikanlah yang terbaik! Bukalah peluang sebesar-besarnya untuk dapat saling berbagi dan berdiskusi dengan ayah-bunda ananda. Misalnya dengan menyapa mereka dan menanyakan keadaan anak ketika di rumah (pada saat orangtua mengantar), mengisi buku penghubung dengan deskripsi yang jelas (pada saat selesai kegiatan) agar orangtua yang berhalangan untuk menjemput anak bisa mengetahui kegiatan anaknya hari itu, serta antarkanlah anak sampai kepada orangtua yang menjemputnya dan ceritakanlah kegiatan pada hari itu.
              
Mungkin nantinya sebagian darimu akan mendapatkan kritik dari orangtua. Meskipun awalnya berat untuk menerima, namun anggaplah itu sebagai momen untuk belajar menerima kritik dan introspeksi diri. Jika kamu merasa bingung mengapa orangtua sampai mengkritik, cobalah berdiskusi dengan guru lain tentang apa yang salah dari perilakumu dan bagaimana memperbaikinya. Bisa jadi pula, memang pihak orangtua yang tidak memahami maksud perilaku kita sehingga terjadi salah paham. Nah, mungkin guru tetap bisa membantumu untuk meluruskan persepsi orangtua.

Saya pun pernah mengalaminya. Melihat wajah orangtua yang kecewa ketika saya menceritakan kegiatan putranya pada hari itu. Namun, dari sana saya menangkap tentang betapa besarnya harapan orangtua kepada sekolah untuk dapat memberikan stimulasi yang optimal kepada anaknya. Wajah kecewa itu, begitu melekat dalam benak saya, menjadi pelecut bagi diri ini untuk lebih bersungguh-sungguh dalam mengajar. Guna memahami psikologis orangtua ananda, banyak-banyaklah bertanya kepada guru tetap yang notabene sudah terbiasa berhadapan dengan berbagai karakter orangtua.

Guru bagi anak
Banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk dapat menjadi guru yang baik. Namun bagi saya, satu cara yang paling penting adalah dengan mengusahakan untuk selalu masuk sesuai jadwal (tidak membolos mengajar). Kalaupun terpaksa tidak masuk karena alasan yang sangat penting, sebisa mungkin carilah guru pengganti. Ketika rasa malas dan mager mendera, kita harus ingat bahwa tidak masuknya kita akan berdampak besar pada sekolah (sesama guru, orangtua, dan anak), apalagi PAUD Anak Ceria adalah sekolah inklusi yang mana diharapkan dapat memperhatikan kebutuhan-kebutuhan individual. Di TK B misalnya, terdapat 10 siswa (6 tipikal, 2 anak dengan speech delay, dan 2 anak dengan autisme), dan biasanya dalam sehari ada 3 orang guru yang mengajar (1 guru tetap dan 2 guru magang). Dari ketiga guru tersebut biasanya dibuat jadwal: 1 orang mengajar dan mendampingi 8 anak, sedangkan dua sisanya mendampingi anak dengan autisme. Namun, jika misalnya ada satu orang saja guru tidak masuk, maka akan sangat memengaruhi keoptimalan belajar anak-anak. Guru yang seharusnya hanya secara khusus mendampingi 8 anak jadi harus ditambahi tugas mendampingi satu anak dengan autisme. Bisa membayangkan kan bagaimana kacaunya? Bisa memahami kan bagaimana anak-anak akhirnya jadi tidak bisa mendapatkan haknya untuk bisa belajar dan bermain dengan optimal?

Maka dari itu, mari kita menjaga niat dan komitmen. Bayangkan jika kita berada di posisi orangtua, yang sudah mempercayakan anaknya kepada kita. Nggak ada yang sia-sia kok. Apakah kita mau jika hak kita dikurangi atau diambil? Nggak mau kan? J Maka dari itu, mari sebisa mungkin memenuhi hak orang lain dan menunaikan amanah yang diberikan kepada kita dengan sebaik-baiknya.

Tetap berusaha menjaga kesucian baju untuk sholat
Sebelumnya, saya memang belum pernah merawat anak usia dini. Sehingga jujur saja saya membutuhkan penyesuaian hati dan diri ketika harus membantu anak-anak BAK maupun BAB. Namun dengan tekad menjadikan ini sebagai latihan untuk menjadi ibu dari anak-anak yang sholih dan sholihah, insya Allah terasa lebih ringan. Di sisi lain menurut saya, ketika menemani anak-anak ke kamar mandi, ternyata sulit untuk menjaga kesucian pakaian. Padahal seperti yang kita tahu, pakaian yang kita gunakan untuk sholat harus suci dari najis. Oleh karena itu, dengan semangat untuk memberikan yang terbaik di hadapan Allah, jika setelah sekolah masih ada kegiatan (sehingga saya harus sholat di luar), maka saya akan membawa ganti baju yang suci untuk sholat.

Ribet? Iyaaa lumayan hehe. Kadang-kadang teman-teman yang lain pada heran, kok tiba-tiba udah ganti baju aja. Tapi sekali lagi, itu pengorbanan yang sebanding. Karena ridho Allah adalah yang utama. Bagaimana suci dan najis itu? Ya…mungkin bisa kita diskusikan secara langsung J

Alhamdulillah…segala puji hanya bagi Allah…sekali lagi….saya sangat bersyukur bisa belajar di PAUD Anak Ceria. Keceriaan anak-anak adalah obat yang mujarab bagi sakit kepala setelah semalam membaca beberapa jurnal. Senyum orangtua yang senang karena hari itu putranya mau mengikuti seluruh kegiatan membuat lelah seharian itu terbayar. Dan…pengalaman menghadapi berbagai macam anak dan manusia dewasa mengandung hikmah-hikmah yang semoga menjadi bekal penting untuk nantinya mengabdi di masyarakat. Akhirnya, saya berpesan kepada teman-teman yang setelah ini masih magang, manfaatkanlah kesempatan magang di PAUD Anak Ceria dengan sebaik-baiknya, niatkan untuk beribadah, dan jangan bosan untuk terus berbuat baik.

Surabaya, Juni 2017