Sabtu, 03 September 2016

Belajar Ngaji

Hari Kamis kemarin, aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti upgrading membaca al-quran bersama guru-guru di PAUD Anak Ceria. Kegiatan itu dilaksanakan sebagai salah satu bentuk persiapan menyambut diadakannya kegiatan mengaji untuk anak-anak. Jujur, belajar bersama Bu Dynna, Bu Ria, Bu Sekar, Bu Dinda, Bu Alfi, Bu Bila, bahkan Pak Theodore, membuatku sangat terkesan. Materi yang banyak dibahas hari itu adalah tentang pengucapan huruf hijaiyah atau makhorijul huruf yang benar, yang notabene merupakan materi yang sulit bagi orang dewasa yang sejak kecil sudah terbiasa dengan pengucapan yang kurang tepat. Namun, raut wajah para guru justru menunjukkan antusiasme, yang merupakan perpaduan dari semangat untuk menjadi guru mengaji yang baik bagi anak-anak serta kesadaran untuk memperbaiki diri sendiri sebagai seorang hamba yang dibekali pedoman hidup berupa Al-Quran. Sesekali kami tertawa ketika merasa kesulitan untuk mengucapkan hururf-huruf tertentu, lalu senyum mengembang ketika ternyata tidak serumit yang dibayangkan. Pokoknya...stigma bahwa belajar ngaji itu sulit dan membosankan...hilang...alhamdulillah.

Aku merasakan perbedaan yang sangat signifikan dengan kelompok Pembinaan Baca Al-quran (PBA) yang di kampusku diwajibkan untuk maba. Setengah jam kegiatan saja terasa sangat lama, karena orang-orang yang ada di sana kebanyakan melakukan dengan terpaksa, seperti tidak ada keingintahuan, minat, dan kesadaran untuk memperbaiki diri. Datang kumpul ya hanya supaya nilai mata kuliah agamanya tidak jelek. Ya...meskipun tidak semuanya seperti itu sih.

Nah, yang ingin aku bagikan di sini adalah...bahwa sebenarnya kunci untuk mencari orang yang pandai atau mahir adalah niat, keingintahuan, kerendahatian, dan kesungguhan. Pastikan bahwa di setiap awal kegiatan khususnya belajar, kita punya target dan tujuan, harus ada nilai lebih dalam diri kita setelah belajar. Lalu, bahan bakar niat itu ya rasa ingin tahu dan kesadaran bahwa 'ilmuku masih belum banyak', serta tidak mudah menyerah atau bersungguh-sungguh.

Malang, 4 September 2016