Jumat, 22 Juli 2016

Selamat Hari Anak Nasional


Selamat hari anak nasional untuk anak-anak Indonesia!

Hari Ke-4 di PAUD Anak Ceria

Surabay, 22 Juli 2016. Hari ke-4 menjadi guru pendamping di PAUD Anak Ceria UNAIR.

"Bu Guru, ini apa?" (menunjukkan gambar rangka manusia yang ada dalam buku biologi untuk anak-anak di perpustakaan sekolah)
"Oh...itu tengkorak. Jadi, kalau misal tubuh kita tidak ada daging dan kulitnya, tinggallah seperti ini. Misalnya mayat yang sudah tertimbun ribuan tahun bisa jadi seperti ini."
"Ini otak?"
"Iya, itu otak. Ada di dalam kepala kita. Makanya, hati-hati ya dengan kepala. Siapa hayo di sini yang pernah melihat otak sapi?"
"Ha? Otak sapi?"
"Aku pernah!"
"Iya, ada di warung padang ya? hehehe"
"Ini kok otak ada matanya?"
"Iya..." (bingung njawabnya harus gimana wkwk)
"Bu Guru, ini!" (menunjuk gambar proses perkembangan janin dalam rahim ibu)
"Oiya...itu mulai dari kecil, lama-lama menjadi besar...."
"Iya..."
"Dulu kita juga ada di dalam perut. Perutnya siapa ya?"
"Perutnya bunda!"
"Iya...nanti lama-lama di dalam perutnya Bu Guru juga ada adiknya."

^^

"Bu Guru, aku mau mobil yang warna merah..."
"Lho, itu masih dipakai oleh Farel sayang. Bergantian ya. Nah, ini masih ada mobil yang lain. Farel, bergantian ya mainnya?"
"Iya Bu."

^_^

"Bukakan, bukakan ini Bu Guru." Miko merajuk sambil menyerahkan sebuah tas bening yang penuh berisi lego.
"Lho, ini masih belum dibereskan," ujarku sambil menunjuk toples plastik kosong yang tergeletak di samping talikur.
"Huhuhu...bukakan."
"Iya, ini tasnya ibu bukakan, Miko bereskan, ini ya, bereskan dulu."

^o^

Hari ke-4. Masih banyak kejutan, masih terus belajar dan memperbaiki diri. Berada di tengah banyak anak dengan karakteristik yang beragam adalah momen yang jenaka, menyenangkan, ceria, selalu semangat, namun juga harus diakui menguras tenaga. Tetapi sebenarnya lelah tersebut tak berarti jika mendidik anak melalui percakapan sehari-hari sampai toilet training adalah untuk menghasilkan generasi-generasi terbaik bagi bangsa ini. Para pendidik mungkin tak juga bukan orang yang sangat rapi sebagaimana mereka membimbing anak-anak untuk selalu membereskan apapun yang telah mereka pakai. Mungkin pula tak semua merupakan orang yang berhati sangat luas, sebagaimana kami selalu mengajak anak-anak untuk meminta maaf dan memaafkan, berbagai, bergantian, dan menyayangi siapapun. Tapi dari sana sebenarnya semangat untuk menjadi lebih baik yang sesungguhnya.
Begitu berharganya masa anak-anak, banyak kisah hidup Nabi Muhammad SAW yang begitu memperhatikan kondisi dan perkembangan fisik maupun psikologis anak. Mulai dari kisah yang sering kita dengar tentang Rasulullah SAW yang memperlama sujudnya ketika sholat karena sang cucu Hasan dan Husein sedang menunggangi punggung beliau, sampai riwayat yang menyebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW menggendong anak kecil, lalu si anak ngompol, maka beliau tidak serta merta menyerahkan anak tersebut kepada orangtuanya agar tidak menimbulkan kesan bahwa beliau risih. Masya Allah...