Jumat, 29 April 2016

Psychology : The Art of Listening

Menjadi mahasiswa psikologi sering dianggap santai karena masyarakat awam menilai bahwa apa yang kami pelajari adalah sesuatu yang bisa dinalar, topik bahasannya yang seputar kehidupan sehari-hari (kelihatannya saja) semakin memperkuat anggapan itu. Namun seperti yang sudah saya sebutkan di tulisan sebelumnya, setiap bidang ilmu memiliki tantangannya masing-masing, pun dengan psikologi. Selain harus berjibaku dengan jurnal-jurnal bahasa inggris, untuk melakukan observasi dan wawancara kami harus dapat memiliki teori yang pas sehingga fenomena mental yang tak kasat mata itu dapat diturunkan menjadi indikator-indikator yang mudah dioperasionalisasikan. Mungkin karena terlalu sibuk dengan teori-teori psikologi yang memang menjadi fokus di semester-semester awal, juga bergumul dengan rapat-rapat organisasi, ada esensi dari psikologi yang terlupa. Alhamdulillah, di semester empat ini setidaknya saya dihadapkan pada beberapa kejadian yang mengingatkan saya akan nilai penting yang saya sebut sebagai : the art of listening.



Pada mata kuliah asesmen dan intervensi komunitas, saya diajar oleh seorang dosen yang memiliki banyak pengalaman terjun ke masyarakat, khususnya dalam setting komunitas. Beliau mengatakan bahwa untuk dapat menemukan masalah hingga lebih jauh lagi melakukan intervensi, kita harus banyak mendengarkan. Dengan banyak mendengar, kita dapat memahami apa dan mengapa sesuatu yang terjadi. Di suatu forum muslimah, saya juga mendapatkan pelajaran bahwa orang-orang yang bergerak di bidang psikologi mempunyai lahan luas untuk menolong dengan cara yang sederhana namun berdampak besar, sekali lagi dengan mendengarkan. Karena mungkin sebenarnya seseorang yang merasa sedang memiliki masalah hanya ingin didengarkan.

Memahami betapa keterampilan mendengarkan sangat penting, kemudian saya melakukan refleksi diri dan menyadari bahwa selama ini lebih banyak INGIN DIDENGAR daripada MAU MENDENGAR. Ketika pulang ke rumah misalnya, saya menceritakan banyak hal yang mungkin sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, namun ketika ayah, ibu, atau adik saya bercerita, saya jarang melakukan inquiry yang mungkin akan membuat mereka merasa diperhatikan dan dipedulikan. Kemauan untuk mendengar bukan hanya soal keterampilan, namun sebenarnya juga melibatkan kemauan untuk mengesampingkan ego diri guna memahami bahwa sesuatu yang kecil bagi kita, bisa jadi menjadi hal yang sangat spesial bagi orang lain. Untuk mau dan bisa banyak mendengar,  kadar keinginan untuk menunjukkan siapa diri kita (melalui berbicara) harus diturunkan.

Melalui dua forum tersebut, pemahaman saya berhenti sampai pada titik bahwa banyak mendengarkan sangatlah penting, utamanya bagi individu-individu yang kegiatannya berhadapan langsung dengan masyarakat. Lagi-lagi dengan izin Allah beberapa minggu kemudian saya bertemu dengan seorang ibu yang menceritakan tentang putra-putrinya, si anak pertama, kedua, dan si bungsu yang memiliki keunikan karakter masing-masing. Tidak berhenti sampai di situ, beliau meminta pandangan saya mengenai hal tersebut dan solusi untuk masalah yang terjadi di antara ketiganya. Bagaimana saya menanggapinya? Mahasiswa psikologi yang masih semester empat ini hanya bisa menjawab “Nggg….” Karena kaget diberondong dengan pertanyaan bertubi-tubi semacam itu. Beruntungnya ibu tersebut tidak menunggu jawaban dari saya dan melanjutkan bercerita tentang prestasi putra-putrinya tersebut di sekolah.

Tak lama setelah pertemuan saya dengan ibu tersebut, saya bertemu dengan seseorang yang menceritakan masalah dirinya kepada saya. Cukup panjang dia bercerita, hingga akhirnya sampai pada pertanyaan : menurutmu, aku harus gimana? Berbeda dengan kisah ibu tadi, masalah yang dialami oleh seseorang ini lebih rumit dan jujur membuat saya harus beberapa kali melakukan inquiry. Terlepas dari itu semua, ada sebuah perasaan ‘LIHATLAH TIN, INDIVIDU-INDIVIDU DI DUNIA INI BEGITU KOMPLEKS, TIDAK BISA KAMU SAMA RATAKAN DALAM SEKALI MELIHAT BAHKAN DENGAN SEKALI-DUA KALI MENDENGAR, DAN MEREKA MEMBUTUHKANMU!’ yang timbul dalam hati saya. Saat itulah semangat yang sangat besar untuk banyak mendengar dan lebih jauh lagi menjadi psikologi semakin membuncah dalam diri saya. Betapa sebenarnya dengan banyak mendengar, kita bisa menjadi perpanjangan tangan Allah dalam menolong hamba-hamba-Nya.


Sudah siap untuk lebih banyak memahami daripada ingin dipahami? :)