Sabtu, 24 Januari 2015

Lulus, Nikah, ataukah Mati?

Beberapa teman di salah satu grup di LINE jadi heboh ngomongin nikah gara-gara ada salah satu teman dekat kami yang undangan pernikahannya sudah disebar. Saling goda dan saling tanya perkara jodoh pun terjadi. Yang lebih senior di grup tersebut pun jadi sasaran empuk dengan pertanyaan 'kapan'. Sampai akhirnya muncul jawaban-jawaban dengan kata kunci habis lulus dan menunggu waktu yang tepat. 

Namun, di tengah acara saling goda tersebut, salah satu anggota mengatakan sesuatu yang benar-benar mengingatkanku akan sesuatu yang mutlak kepastian terjadinya. Dia mengatakan yang intinya bukan hanya perkara menikah yang menunggu waktu yang tepat, namun lulus dan saat kematian pun begitu, tinggal mana yang akan menjemput kita terlebih dahulu.

Mungkin foto instagram seseorang ini bisa memperjelas :


Jika kita tidak tahu apakah kita akan lulus dan apakah kita akan menikah karena kematian yang kapan saja bisa datang dan kita tidak, lalu apakah lantas itu membuat kita berpangku tangan, bahkan dengan santainya menunggu takdir? Semoga kita bukan termasuk orang yang seperti itu.

Lalu kita harus bagaimana? Mungkin kata-kata Komaruddin Hidayat yang saya kutip dari bukunya yang berjudul Psikologi Kematian berikut ini bisa membuat jalan pemikirian kita lebih cerah ;

Merenungkan makna kematian tidak berarti lalu kita pasif. Sebaliknya, justru lebih serius menjalani hidup, mengingat fasilitas umur yang teramat pendek. Ibarat orang lomba lari, dia akan berpacu karena adanya batas waktu dan garis finis.

Namun kalau mau jujur, aku...dan mungkin kebanyakan dari kita seringkali lupa akan hakikat ini. Misalnya dalam belajar di sekolah/kampus, kita seringkali melanggar nilai-nilai yang telah Allah SWT tetapkan untuk kebaikan kita sendiri. Kita lupa bahwa yang terpenting bukan nilai, tapi apakah ilmu tersebut dapat bermanfaat dan bisa menjadi amal yang tak putus-putus, menemani diri ketika sudah berada di alam kubur kelak. Namun, tentunya usaha keras pun mutlak diperlukan, sebagai bentuk kesungguhan kita di hadapan Allah SWT.

Jika berjuang adalah ibadah, maka berprestasi adalah dakwah                         
-(mas) Mushonnifun Faiz S-

Karena sebenarnya islam yang mengajarkan kepada kita untuk beriman bahwa kematian pasti akan datang dan juga menuntun kita agar hidup di dunia yang hanya sekali ini harus digunakan sebaik-baiknya untuk mencari ridho Allah SWT semata dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Malang, 25 Januari 2015

Sincerely, Fatin Philia Hikmah

Kita Memang Tidak Bisa Menyukai Semua Orang

Sudah sekitar satu minggu lebih banyak nganggur, kemudian membaca KOMPAS edisi 24 Januari 2015 rubrik KARIER dan menemukan artikel yang ditulis Eileen Rachman mengenai keberanian untuk saling menegur apabila teman satu tim melakukan kesalahan. Namun, dari sekian paragraf dari artikel tersebut, ada beberapa kalimat yang menarik perhatianku : (kalimat-kalimat di bawah ini sudah aku ganti supaya bisa lebih umum, bukan hanya untuk pekerja kantoran)

Kita perlu menyadari bahwa perbedaan itu memang diperlukan dan tidak bisa dihindari. Kita memang tidak bisa menyukai semua orang, tetapi perbedaan antara kita dan orang lain perlu kita akui dan hargai. Kita harus mahir mendengar perasaan orang lain, setara dengan kemampuan kita untuk mengakui dan mengekspresikan perasaan senang, kecewa, kagum, dan khawatir kita.

Setiap manusia pada hakikatnya adalah pencerita. Ia ingin manusia lain mendengar, mengetahui, dan merasakan apa yang ia alami. Akhirnya, kita pun menyadari bahwa harus banyak introspeksi dan belajar untuk berubah, karena mungkin kebanyakan dari kita belum sampai pada taraf pendengar yang baik sebagaimana kita ingin menjadi seorang 'pendongeng' yang baik. :)

   Malang, 25 Januari 2015.

Sincerely, Fatin Philia Hikmah.