Kamis, 18 Juni 2015

Selamat Pagi CINTA!

Selamat pagi, alam yang selalu bertasbih! Kawanan burung kecil beradu terbang, mengikuti siluet mentari pagi yang menghangatkan kota kecil yang dingin ini. Lampu teras rumah-rumah sudah dimatikan, kehidupan pagi ini dimulai. Para ibu bergegas ke mlijo, berbelanja sayur dan ikan untuk kudapan berbuka nanti. Di saat ramadhan begini, datang terlalu siang bisa-bisa hanya dapat sisa sayuran.

Indahnya pagi ini membuatku ingin meneriakkan, "Selamat pagi, Cinta!"
Ya, aku jatuh cinta dan ingin selalu jatuh cinta. Menghirup udara dengan bahagia, berterimakasih atas udara, darah yang mengalir, serta jantung yang berdegup.

Aku ingin selalu jatuh cinta. Memeluk setiap tawa dan tangis dalam hidup dengan haru, berterimakasih atas segala hikmah yang menyejukkan hidupku bagai embun di pagi hari.

Aku ingin selalu seperti ini. Jatuh cinta pada hidup, karunia dari Sang Maha Kuasa. Hingga akhirnya cinta yang ku tasbihkan mengalun mengiringi hembusan napas terakhir dari jasadku yang tersenyum bahagia.
Ditulis oleh Fatin P. H. di Malang, 18 Juni 2015. Ketika pagi begitu cerah.

Banyak orang mengatakan bahwa bahagia itu sederhana. Berkumpul dengan kerabat, menyantap masakan ala ibu, serta dapat membantu orang lain dengan kemampuan yang kita miliki adalah beberapa dari banyak hal yang dapat menarik dua ujung bibir beberapa sentimeter ke atas. Namun, sebenarnya sedih pun sederhana, apalagi di saat-saat PMS bagi perempuan. Dikritik, lupa membawa sesuatu padahal sudah mepersiapkannya sejak awal, bingung harus melakukan apa, merasa dicuekin atau tidak dianggap, merasa tidak mampu melakukan banyak hal, dan hal-hal lain yang serupa dapat membuat suasana hati atau mood seseorang anjlok. Ah, baiklah. Terserah kita, mau mengakui atau tidak bahwa hal-hal sepele seperti itu nyatanya mampu membuat kita malas bicara dalam waktu yang cukup yang lama :)

Betapa sederhananya hal-hal yang membuat manusia bahagia, namun tidak begitu dengan efek yang ditimbulkan. Dengan suasana hati yang baik, manusia bisa mengeluarkan aura positif seperti misalnya mudah tersenyum, tertawa, dan menyapa orang lain. Amanah tugas-tugas pun dapat diselesaikan dengan baik alias produktif, karena rasanya ringan saja melangkah. Namun sayangnya, hukum ini pun berlaku pada hal-hal sepele yang biasa membuat kita bad mood. Di saat sedang bad mood, akan ada beberapa lipatan di wajah, bibir akan maju ke depan atau melengkung ke atas beberapa senti, serta biasanya kita menjadi orang yang MAGER alias MALES GERAK   : lebih memilih bergeming di atas kasur sambil melamun atau menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia lainnya (tidak produktif).

Mengapa hal-hal sederhana mudah sekali membuat kita senang atau sedih, sementara terkadang kita justru mampu berdiri tegak dengan mata berkilat-kilat sambil menegaskan bahwa kita bisa melampaui sebuah kejadian yang benar-benar menyedihkan? Menurut Viktor Frankl (2012), manusia baru bisa merasakan kesenangan yang sesungguhnya ketika emosinya mampu merespon nilai-nilai yang terkandung di setiap kejadian dalam hidup. Atau kita biasa mengatakan, “Ambil hikmahnya saja.”. Nah, ketika kita mampu memetik hikmah dalam suatu kejadian itulah, kebahagiaan dapat diperoleh.

Viktor Frankl :) Sumber : www.randomhouse.com.au


Maka dari itu, pada pembukaan tulisan ini aku mengatakan bahwa aku ingin selalu jatuh cinta dengan hidup ini. Menerima setiap suka dan duka yang telah Allah tuliskan untukku. Aku ingin selalu bersemangat dalam hidup, meneriakkan selamat pagi, meskipun kala itu malam gelap tanpa bulan maupun bintang. Aku ingin setiap langkahku adalah langkah cintaku, menasbihkan terimakasih kepada Allah atas jiwa yang ada dalam jasadku. Karena sebenarnya, seperti yang kita tahu, hidup ini adalah wujud cinta Sang Pencipta.  

Frankl (2006) juga mengatakan bahwa usaha untuk mencari makna dalam hidup merupakan motivasi utama dalam diri manusia. Pendapat Frankl ini dapat diartikan bahwa mencari makna/hikmah dari setiap hal adalah kebutuhan manusia. Maka sebenarnya, kondisi sedih dan kacau adalah kondisi ketika seseorang belum berhasil memenuhi kebutuhannya yang satu ini. Lalu, pertanyaannya sekarang adalah : bagaimana caranya agar kita, sebagai bagian dari alam semesta yang akan selalu dihadapkan dengan suka dan duka, mampu bertahan dan menemukan makna?

Menjawab pertanyaan ini sebenarnya tidak mudah. Karena jawabannya mungkin adalah sesuatu yang menurut kebanyakan orang merupakan omong kosong dan terlalu teoritis. Namun, yakinlah bahwa saat kita mengatakan motivasi-motivasi ini merupakan omong kosong, itu merupakan tanda bahwa kita belum mencobanya.

Yakinlah bahwa setiap tawa dan tangis, bahkan hidup dan mati ada dalam genggaman Yang Maha Kuasa. Sebisa mungkin jagalah hubungan eratmu dengan-Nya (untuk yang satu ini, aku pun masih belajar untuk bisa istiqomah -,-“). Bersyukurlah bagi engkau yang merasakan dekapan hangat dari-Nya dalam setiap sujudmu :’)

sumber : www.fahdpahdepie.com


 Jadilah Orang yang Bermanfaat
Menurut beberapa buku yang pernah saya baca, penyebab seseorang sedih dan bingung tanpa ada alasan yang jelas adalah karena kurang berbagi. Cobalah bergabung dengan majelis-majelis ilmu atau lembaga-lembaga sosial. Dari sana, menurut saya, ada dua hal yang membuat kita bahagia. Pertama, karena berkumpul dengan orang-orang yang memiliki semangat positif, yang pasti akan menular kepada kita. Selain itu, melihat senyum dan tawa di wajah orang-orang yang menerima uluran tangan kita pun bisa menimbulkan kebahagiaan yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah mengalaminya langsung.


sumber : www.fahdpahdepie.com


 Sibukkanlah Diri
Dalam Al-Qur’an surat An-Naba’ ayat 9, Allah berfirman : dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Di sisi lain, dalam surat al-insyirah ayat 7 Allah berfirman : Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Ya, adalah manusia yang membutuhkan istirahat ketika lelah, namun jika terlalu lama menganggur pun akan memberikan efek yang akhirnya mengantarkan kita pada kesedihan yang tidak beralasan tadi.  Efek-efek itu misalnya : memiliki banyak waktu untuk melamun yang berujung pada meratapi kehidupan, bosan, merasa capek dan pegal-pegal tanpa alasan. Berbeda jika kita memiliki banyak kegiatan yang bermanfaat. Meskipun capek, namun capek yang kita rasakan membuahkan manfaat untuk masyarakat, atau setidaknya untuk diri sendiri. Jika memang pada akhirnya kita berada pada waktu yang senggang, seperti saat liburan panjang, isilah dengan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan namun tetap bermanfaat seperti : blogging, membaca buku,  travelling bersama keluarga, serta menghadiri seminar atau majelis ilmu.

 Luangkanlah waktu untuk berbincang bersama sahabat atau keluarga
Ingatlah bahwa kebahagiaan bukan hanya datang saat kita meraih keberhasilan atas pekerjaan di sekolah/kampus/kantor. Sebagai manusia pun kita memiliki kebutuhan untuk mencintai-dicintai, serta mendengarkan-didengarkan. Maka meluangkan waktu bersama keluarga atau sahabat pun perlu. Namun, berdasarkan pengalaman saya, agar kebersamaan dengan keluarga atau sahabat ini dapat kondusif serta efektif untuk memperbaiki mood kita, pilihlah tempat yang tenang dan kita tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk itu.




5.       Bersyukur
Kebanyakan dari kita secara tidak sadar merasa ‘kurang’ setelah melihat orang-orang yang terlihat ‘lebih’ dari kita. Seperti misalnya mereka yang ke mana-mana selalu naik mobil mewah, setiap benda yang melekat pada dirinya adalah barang-barang bermerk, atau mungkin mereka yang di akun instagramnya selalu memposting betapa ‘sempurna’nya hidup mereka. Untuk ‘mengobati’ penyakit ini, obatnya bukanlah menghindari melihat instagram ‘orang-orang keren’ itu, namun justru bersikaplah biasa. Biarkanlah mereka dengan gaya hidupnya yang seperti itu, dan berterimakasihlah atas setiap aspek yang melekat dan meliputi dirimu saat ini. Lihatlah betapa Tuhan begitu baik, telah menganugerahkan kepadamu banyak hal : ayah, ibu, saudara, atau bahkan saat ini engkau sedang menuntut ilmu/bekerja di tempat yang engkau impi-impikan.




Akhirnya, manusia adalah pembelajar seumur hidup. Mulai dari belajar mengucapkan ‘mama’ dan ‘papa’, hingga akhirnya dalam hidupnya harus bergelut dengan makna-makna tersembunyi dalam setiap kejadian yang dapat menjadikan diri lebih baik. Namun, bagaimana sesuatu dimaknai merupakan hak masing-masing manusia dari sisi sebelah mana ia melihat.

Ditulis di Surabaya, di bulan Ramadhan yang begitu Indah

DAFTAR PUSTAKA

Frankl, V. E. (2006). Man’s Search For Meaning.  Boston, MA: Beacon Press

Frankl, V. E. (2012). The doctor and the soul: From psychotherapy to logotherapy. London :                    Souvenir Press 

Senin, 08 Juni 2015

Pulang!

10 malam lagi menuju bulan yang penuh berkah dan ampunan. Aku duduk di teras rumah sambil memandangi langit yang kini gelap, hanya ada saputan awan. Padahal setengah jam yang lalu, langit terang oleh bintang gemintang. Namun itu bukan perkara bagiku. Dengan ataupun tanpa bintang, di sinilah aku merasakan diriku begitu damai. Di sebuah rumah sederhana yang menghadap sawah, dengan udara sejuk dan air segar melimpah. Bersama orang-orang yang dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka, aku belajar banyak hal serta menyayangi dan disayangi. Aku pulang!

Ketika aku masih duduk di bangku sekolah, kota ini tak terlalu istimewa bagiku. Mungkin hanya warung bakso enak dan insya Allah halal yang bertebaran lah yang membuatku mengistimewakan kota ini dibandingkan yang lain. Selebihnya, aku lebih sering bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa orang-orang dari luar kota berbondong-bondong ke kota ini. Jogja, Surabaya, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya jelas jauh lebih menarik dari kota yang penduduknya gemar membaca kata dari belakang ini. Juga saat aku masih berstatus sebagai pelajar, liburan bagiku adalah tamasya ke luar kota dan makan masakan restoran. Rumah adalah tempat yang membosankan.

Semenjak Oktober tahun lalu, saat statusku sudah berganti menjadi seorang mahasiswa yang sudah hampir dua bulan tidak pulang kampung, keadaan terbalik 180 derajat. Dalam perjalanan menuju rumah dari stasiun, aku memandangi kendaraan-kendaraan yang kebanyakan berplat nomor N, serta tempat-tempat yang dulu sering aku kunjungi untuk makan bersama teman-teman sekolah atau sekedar menumpang untuk berlindung dari hujan. Kota ini dengan segala ornamen yang ada, tiba-tiba menjadi begitu berkesan di hatiku. Ada rasa ingin kembali ke masa-masa saat aku masih menggunakan seragam putih abu-abu, melewati waktu bersama adik, ayah, dan bunda.

Kota kecil ini mungkin bukan kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Jogjakarta yang memiliki pusat perbelanjaan yang begitu lengkap. Rumahku juga bukan rumah megah dengan berbagai fasilitas serba ada. Keluargaku, pun hanyalah manusia biasa yang tak sempurna. Namun, di sinilah aku dibesarkan. Di sinilah aku bertemu dan melakukan banyak hal baru untuk pertama kalinya. Belajar mengenai hal paling remeh seperti memanggil ibu sampai perkara yang perasaan yang tak kan selesai dibahas dalam waktu satu-dua malam. Di kota inilah, bersama orang-orang yang aku sayangi, aku dihadapkan pada kesederhanaan-kesederhanaan yang justru membuatku jatuh cinta.



Minggu, 07 Juni 2015

Praktek Kerja Lapangan Mahasiswa Semester 2 ^^

Hari Sabtu kemarin, 6 Juni 2015, aku bersama teman-teman sekelas di Mata Kuliah Psikopatologi yang terdiri dari angkatan 2014 dan 2013, serta kakak-kakak dari kelas Mata Kuliah Psikologi Abnormal, dengan didampingi dosen yang mengajar kami yaitu Bu Retha dan Bu Nurul, meluncur dari kampus B UNAIR dengan satu buah bus besar dan satu buah elf ke Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Lawang, Kabupaten Malang untuk melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Harapannya, setelah melakukan PKL kami bisa mengetahui kondisi sesungguhnya saudara-saudara kita yang mengalami gangguan kejiwaan. Bukan hanya dari teori-teori yang ada di buku.

Terbesit dalam pikiran aku dan teman-teman 2014 yang lain bahwa kami ini keminter, atau dalam bahasanya Aul kami ini negesi. Berawal dari status kami sebagai mahasiswa semester satu yang bingung KRS-an karena jadwal bentrok semua dan khawatir jika jatah SKS kami terbuang sia-sia, kami nekat mengambil Mata Kuliah Psikopatologi yang sebenarnya merupakan mata kuliah yang diperuntukkan bagi mahasiswa semester 4. Dan di sinilah kami akhirnya. Mahasiswa semester dua yang belum mendapatkan mata kuliah yang terkait dengan asesmen maupun intervensi psikologis, namun telah terjebak di antara kakak-kakak semester 4 bahkan 8 yang akan melakukan praktek kerja lapangan. Dalam hati kami masing-masing berdoa agar semuanya akan lancar dan baik-baik saja. Perjalanan dari Surabaya ke Malang menjadi tidak terasa dengan obrol ngalor-ngidul ku bersama Aul. Membuatku seakan lupa bahwa aku akan ke tempat yang dulu sempat membuatku mengurungkan niat untuk memilih Fakultas Psikologi sebagai pilihanku satu-satunya.

Dengan menggunakan jas almamater UNAIR, aku dan rombongan masuk lewat pintu gerbang RSJ. Kami melewati jalan yang di kanan-kirinya ada taman dan bangunan seperti kamar-kamar di rumah sakit pada umumnya. Namun, RSJ ini sangat asri dan tertata, jauh dari kesan menakutkan dan suram. Dari kejauhan aku melihat orang-orang berseragam yang sepertinya merupakan seragam bagi pasien. Ketika rasa takut itu kembali terbesit dalam benakku, ku yakinkan diriku sendiri bahwa mereka bukan untuk ditakuti, tetapi justru untuk dikasihani dan diperhatikan.

Setelah acara penyambutan dan pembukaan dari pihak Fakultas Psikologi UNAIR maupun dari pihak RSJ, tibalah saatnya bagi kami untuk melakukan wawancara dan observasi. Aku, bersama teman kelompokku yang lain yaitu Aul, Elka, Mas Anang, dan Mas Wildan mewawancarai salah satu pasien di ruang perawatan perempuan. Aku bertugas mencatat pertanyaan dan serta jawaban dari wawancara yang kebanyakan dilakukan oleh Aul, serta setiap gerakan tubuh pasien. Melakukan wawancara dan observasi di ruang perawatan pasien wanita serta anak dan remaja membuat rasa takutku mulai menguap, digantikan oleh rasa prihatin.

Lega karena proses wawancara dan observasi berjalan lancar, kami diajak oleh petugas dari RSJ untuk berkunjung ke Museum Kesehatan Jiwa milik RSJ yang letaknya di seberang. Di museum itu terdapat sejarah RSJ, serta benda-benda yang terkait dengan perawatan bagi orang dengan gangguan jiwa.
sumber : www.cdn.klimg.com

sumber : www.tourismkabupatenmalang.com

Perjalanan kami pada siang hari itu belum berakhir. Beranjak dari RSJ Dr. Radjiman Wedyodiningrat, bus meluncur ke sebuah yayasan yang diberi nama Pancaran Kasih. Pertama kali melangkahkan kaki melewati gerbang yayasan, mataku langsung tertuju pada beberapa orang (kebanyakan anak-anak) yang sepertinya merupakan asuhan yayasan ini. Ada yang berjalan mondar-mandir sambil mengamati kami—orang-orang asing yang kompak menggunakan jas berwarna biru dongker. Ada pula yang sedang duduk santai sambil menyelonjorkan kaki di atas ayunan, juga mengamati kami, ingin tahu.

Kami digiring untuk masuk ke sebuah ruangan yang agak redup dan tidak terlalu luas di lantai dua. Ruangan itu didominasi oleh kursi-kursi yang ditata menjadi dua kelompok. Di sisi kanan merupakan dingklik-dingklik plastik. Sementara itu, sisi kiri diisi oleh kursi-kursi plastik normal yang biasanya sering aku temui di acara-acara pernikahan sederhana. Rombongan kami duduk di sisi kiri tentunya.
Tak lama kemudian, seseorang yang sepertinya merupakan anak asuhan yayasan ini masuk. Bingung mengamati kami. Kami pun bingung bercampur sedikit takut. Namun makin lama anak yang masuk semakin banyak dan membuat barisan di sebelah kanan penuh. Beberapa mereka tersenyum senang tanpa melepaskan pandangannya dari kami.

Suasana tegang menyergap kami, hingga akhirnya Bu Nurul dan Bu Retha datang, duduk di kursi paling depan di barisan kursi kiri. Tak seperti kami yang hanya berdiam diri sambil takut-takut mencuri pandang kepada anak-anak asuh Yayasan Pancaran Kasih ini, Bu Retha hanya duduk sebentar, untuk kemudian menyapa anak-anak itu dengan kasih yang terpancar dari setiap gesturnya, menularkan keceriaan pada anak-anak itu dan akhirnya mampu mencairkan kebekuan di ruangan itu. Aku menghela napas, semuanya akan baik-baik saja.

Setelah berdoa, menyanyi, dan perkenalan yang terasa begitu mengharukan dan membawa pergi rasa takut kami dan menggantinya dengan kasih sayang, akhirnya tiba saatnya bagi kami untuk melakukan pendekatan kepada mereka. Dengan lagu dan cerita-cerita yang menyenangkan kami mengenal lebih jauh saudara-saudara kita itu.

Hari ini sungguh ajaib. Rasa takutku yang awalnya begitu besar, yang bahkan mampu membuatku sempat mengurungkan niat untuk memilih Fakultas Psikologi akhirnya mencair perlahan. Mengerti mengenai mengapa mereka bisa sampai pada kondisi yang sedemikian rupa itu, membuatku dan teman-teman yang lain paham bahwa mereka ada bukan untuk dijauhi apalagi disakiti, namun untuk dipahami dan disayangi.


Rabu, 03 Juni 2015

Be Respectful, Please!

Kawan, pernahkah kau berada di posisi sebagai orang yang sudah bicara panjang lebar tapi tidak ada yang menggubris? Atau mungkin di konteks kekinian ketika komunikasi gencar dilakukan melalui media sosial seperti LINE dan Whatsapp, tidak dihargai itu adalah ketika seseorang menanyakan hal penting di sebuah chat group(bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk kebaikan grup itu juga), kemudian ada tanda bahwa pertanyaan itu dibaca oleh beberapa orang, tapi sampai satu tahun kemudian tidak ada balasan. Bagaimana rasanya? Iya, sakitnya tuh di sini. Siapa sih yang suka tidak dihargai? Tidak ada. Siapa saja yang ingin dirinya dihargai? Semua orang pastinya.

Kalau aku sendiri cukup sering berada d posisi tersebut. Entah memang karena kapasitasku yang kurang dalam berbagai hal sehingga orang malas menggubrisku (kasihan banget), atau mungkin masyarakat semakin tidak menyadari pentingnya menghargai orang lain? Daripada nanti jadinya absurd dan baper, aku membahas yang kedua saja ya. Selain itu, sekarang semakin sering kita temui mahasiswa atau pelajar yang ketika teman/guru/dosen sedang menyajikan materi di depan kelas, justru asyik membuat forum di dalam forum.



Hargailah orang lain sebagaimana kamu ingin dihargai. Nasehat klasik tersebut pada akhirnya memiliki makna yang mendalam, terutama melihat kondisi masyarakat seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya. Semakin mendalam lagi kalau kita berada di posisi orang yang tidak dihargai. 

Hm, gini deh. Kalau kamu tahu nggak enaknya nggak dihargai, maka hargailah orang lain. Gitu aja sih. Nggak bermaksud nyindir siapapun, aku cuma semakin prihatin dengan kita-kita yang kian hari kian tidak memandang menghargai orang lain sebagai suatu hal yang penting :')

Senin, 01 Juni 2015

Opennes :)

Bulan separuh dikelilingi oleh bintang-bintang bersinar terang di langit Surabaya. Aku yang sedang berjalan pulang dari membeli obat pel lantai dalam hati bersyukur karena di tengah hiruk pikuk lalu lintas yang menyebabkan tingginya polisi di kota ini, aku masih bisa melihat cahaya-cahaya itu di langit.

Rumah kosku terletak di sebuah gang di daerah Dharmawangsa. Untuk bisa sampai ke sana, aku harus melewati beberapa rumah. Salah satunya rumah yang penghuninya senang menghabiskan waktu untuk cangkrukan di depan rumah mereka (mungkin karena memang gang ini tidak lebar, sehingga tidak ada rumah yang memiliki halaman), hampir memenuhi jalan. Malam itu, entah karena memang lagi malas bersuara, atau terhanyut dengan suasana sendu malam pertengahan bulan Sya’ban, aku santai saja melenggang tanpa mengucapkan permisi atau sekedar menganggukkan kepala kepada keluarga besar yang sedang asyik membicarakan kelinci peliharaan mereka itu.
Beberapa langkah dari kerumunan itu, aku mendengar bapak-bapak di kerumunan itu yang dengan tegas berkata, “Iki jilbaban tapi kok nggak sopan. Mbok yo ngomong permisi ta, opo nuwun sewu....” Sampai aku membuka pagar rumah kos, aku masih mendengar bahwa ia terus membicarakanku, namun kata demi katanya tak dapat ku tangkap dengan jelas.

Kawan, pernahkah engkau berada di posisiku? Tiba-tiba disindir dengan jelas oleh bapak-bapak berwajah garang? Kalau belum, maka izinkan aku memberitahu bahwa rasanya sungguh tidak enak. Antara ingin meminta maaf karena takut dan merasa bersalah. Juga ingin segera bergegas karena bingung harus menanggapi apa. Aku memilih yang kedua.



Jujur, sindiran itu sontak membuatku membisu karena dalam benakku sibuk mereka ulang ketidaksopananku barusan. Semakin banyak reka ulang dalam benak itu ku lakukan, semakin aku menyadari bahwa aku memang salah. Ketika muncul sedikit rasa jengkel karena teringat betapa bapak itu santai saja menyindirku, segera ku tepis dengan keyakinan bahwa lewat kejadian itulah aku belajar untuk menjadi perempuan yang lebih sopan. Sindiran itu mungkin tidak seberapa jika misalnya aku baru menyadarinya ketika sudah bekerja nanti.


Saat itu, aku teringat dengan ceramah Bu Ike saat School of Mawapsi  1 hari Senin, minggu yang lalu. Bahwa untuk menjadi individu yang matang, manusia memang harus pernah menghadapi berbagai pengalaman baik positif dan negatif. Selain itu, kita harus menjadi individu yang terbuka terhadap kritik, untuk kemudian melakukan introspeksi dan perbaikan diri. Entahlah. Sejak ceramah itu, aku menjadi semakin menyadari bahwa saat aku dikritik orang lain, semestinya aku bersyukur karena aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan untuk menjadi individu yang lebih baik lagi.