Minggu, 15 Februari 2015

Perempuan yang Menjahit Bibirnya Sendiri

Judul tulisan ini sebenarnya merupakan judul dari sebuah cerpen karya Mashdar Zainal yang dimuat di KOMPAS edisi 28 Desember 2014. Dikisahkan bahwa ada seorang perempuan yang memutuskan untuk menutup mulutnya rapat-rapat dengan cara menjahit kedua bibirnya. Tujuannya adalah agar tak ada lagi kata-kata salah dan menyakitkan yang keluar dari mulutnya sehingga membuatnya dihindari oleh banyak orang.

Untuk lebih jelasnya, berikut cerpen berjudul Perempuan yang Menjahit Bibirnya Sendiri karya Mashdar Zainal dalam KOMPAS 28 Desember 2014 ;

ilustrator : Najib Amrullah
Perempuan itu duduk dengan sangat tenang, sambil menyulam bibirnya sendiri. Tangannya bergerak runtun. Jarum mungil itu ia tusuk-tusukkan dengan tertib ke bibirnya. Lantas ditariknya kembali jarum mungil itu perlahan-lahan. Benang-benang berjuntaian. Sulaman itu begitu rapi dan bersih. Tak ada darah mengalir ataupun luka berarti. Ia menjahitnya begitu saja, seperti menjahit sebuah kain yang terbelah. Seperti menjahit sebuah luka yang menganga. Ia merapatkan jahitan itu serapat-rapatnya. Sampai tak ada lagi celah di antara dua bibirnya yang bisa mengeluarkan suara. Benar-benar rapat. Serapat-rapatnya.

Semula, ia adalah perempuan yang banyak sekali bicara. Setiap orang yang ia temui, entah ia kenal entah tidak, akan ia ajak bicara. Bicara apa saja. Obyeknya pun bisa apa saja. Di mana saja dan kapan saja. Perempuan itu akan terus bicara. Sampai mulutnya berbusa-busa. Dan mengeluarkan bau yang sangat tidak sedap.

Semula, perempuan itu tidak menyadari akan bau yang sangat busuk, yang menguar dari mulutnya itu. Hingga suatu ketika, satu persatu, orang yang ia ajak bicara selalu menutup hidung, mata dan telinga mereka. Beberapa yang lain, memilih untuk menghindar, meninggalkannya tanpa sepatah kata. Ketika ia bertanya, apa yang salah dengan ucapannya, beberapa orang memilih untuk jujur, dengan mengatakan, bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, tidak hanya bau, tapi juga buas, tajam, beracun, dan bisa membunuh siapa saja.

Maka, serta merta, perempuan itu menyadari sesuatu, bahwa mungkin, semua keluarganya—bapak, ibu, dan adik perempuannya—yang mati beberapa tahun lalu itu, tak lain dan tak bukan disebabkan oleh sesuatu yang menyembul dari mulutnya. Mendadak, perempuan itu teringat kata-kata bapaknya—yang seorang pemburu, ”Mulutmu adalah harimau, jika kau tidak bisa menjadi pawang yang baik, jika kau tak bisa mengendalikannya dengan baik, kau akan diterkamnya sendiri.”

Beberapa hari setelah mengatakan itu, pada suatu malam bapaknya dinyatakan hilang di hutan saat melakukan perburuan, hingga paginya, ketika dilakukan pencarian, bapaknya sudah ditemukan tewas terperosok ke dalam jurang, dengan tubuh penuh luka sayatan, luka yang memanjang seperti bekas cakaran binatang buas. Ketika itu, ia hanya menerka-nerka, bahwa bapaknya tewas diterkam binatang buas sebelum akhirnya terlempar ke ceruk jurang.

Namun, jika ditelusuri, sebenarnya ia sendiri yang membujuk bapaknya untuk berburu ke hutan malam-malam. Saat malam hari, semua binatang yang bersembunyi akan keluar dari sarangnya, jadi bapak akan pulang dengan binatang buruan yang melimpah, begitulah ia meyakinkan bapaknya dengan kata-kata. Hingga bapaknya benar-benar berangkat ke hutan malam-malam buta.
Kini, perempuan itu mulai berani menyimpulkan sesuatu, tentang harimau yang dituturkan bapaknya. Jika harimau itu bisa menerkam pemiliknya sendiri, bukan tidak mungkin ia akan menerkam dan melukai orang yang ada di sekitarnya. Kematian bapaknya adalah sebuah bukti nyata.

Beberapa bulan setelah bapaknya meninggal dikoyak binatang buas. Ibunya, yang seorang penjual daging, juga ditemukan tewas dengan beberapa luka tusukan di tubuhnya. Kabar yang beredar ketika itu adalah, ibunya telah menjadi korban perampokan yang beberapa waktu terakhir kian marak. Hal tersebut dibuktikan oleh barang-barang dan perhiasan yang dibawa ibunya yang turut raib. Mendadak, ia teringat bahwa beberapa waktu sebelum ibunya ditemukan tewas, ibunya pernah bertutur padanya, ”Mulutmu adalah pisau, Nak. Tajam dan bisa menghunjam apa saja. Jika kau tak menggunakannya dengan baik, kau bisa teriris sendiri olehnya.”

Beberapa waktu, jauh sebelum kejadian itu, ia selalu berkoar pada banyak orang, bahwa ibunya adalah seorang perempuan yang sangat pelit. Tak pernah sudi mengeluarkan sepeser uang pun untuk menyenangkan anaknya. Padahal ia tahu, ibunya punya banyak uang dan perhiasan yang nilainya jutaan. Ketika itu, ia juga sempat menjabarkan kebiasaan buruk ibunya, yang suka menyembunyikan aneka perhiasan dalam dompet butut yang selalu dibawanya ke mana ia pergi.
Kini, barulah perempuan itu mafhum mengenai pisau yang dibicarakan ibunya.

Mengenai adik perempuannya yang meninggal karena menenggak racun, ia mulai meraba-raba, dan satu hal yang kemudian hinggap dalam ingatannya. Suatu ketika, adik perempuannya itu pernah berkata, ”Mulutmu adalah gua beracun, jadi, lebih baik tidak terlalu sering kau membukanya. Kau tahu, racun itu sangat berbahaya, bisa membunuh siapa saja.”

Beberapa hari setelah itu, secara tak sengaja, ia memergoki kekasih adiknya tengah berduaan dengan perempuan lain. Dan baginya, perkara semacam itu adalah perkara yang wajib ia ceritakan. Maka, sesampainya di rumah, ia menceritakan perselingkuhan itu pada adiknya, dengan sedikit bumbu-bumbu supaya semakin pedas. Maka terjadilah pertengkaran hebat antara sepasang kekasih itu. Berselang waktu, lambat laun, adiknya menjadi seorang perempuan yang sangat pemurung. Tak banyak kata. Suka menyendiri. Mengurung diri di dalam kamar. Hingga suatu malam, ia ditemukan tewas bunuh diri dengan menenggak sebotol racun serangga.

Satu persatu, perempuan itu mulai merunut, hingga ia menemukan akar dari semua permasalahan, yakni mulut, mulutnya sendiri. Mulutnya yang sangat buas seperti harimau. Mulutnya yang sangat tajam seperti mata pisau. Mulutnya yang sangat berbahaya seperti bisa. Menyadari dirinya telah berubah menjadi monster yang telah mencelakakan dan dijauhi banyak orang, perempuan itu memutuskan untuk menjahit mulutnya sendiri. Menutup pintu bencana yang selama ini telah menyusahkan banyak orang.

Dengan sangat tekun, perempuan itu menyulam bibirnya sendiri. Tangannya bergerak runtun. Jarum mungil itu ia tusuk-tusukkan dengan tertib ke bibirnya. Lantas ditariknya kembali jarum mungil itu perlahan-lahan. Benang-benang berjuntaian. Sulaman itu begitu rapi dan bersih. Tak ada darah mengalir ataupun luka berarti. Ia menjahitnya begitu saja. Seperti menjahit sebuah kain yang terbelah. Seperti menjahit sebuah luka yang menganga. Ia merapatkan jahitan itu serapat-rapatnya. Sampai tak ada lagi celah di antara dua bibirnya yang bisa mengeluarkan suara. Benar-benar rapat. Serapat-rapatnya.

Usai menamatkan jahitannya, perempuan itu berjalan terhuyung mendekati cermin. Dengan saksama, ia memerhatikan mulutnya sendiri yang kini telah rapat oleh sulaman benang. Dirabanya mulut itu pelan-pelan, hati-hati. Dari kiri ke kanan. Dari kanan ke kiri. Benar-benar rapat. Ia menghela napas lega. Pintu bencana yang selama ini terbuka telah sempurna ditutupnya. Detik itu, ia hendak tersenyum puas. Namun, ketika ia hendak tersenyum, mendadak ada yang sangat nyeri di sekitar bibirnya. Seketika itu pula ia menyadari, bahwa bibirnya tak mungkin bisa ia ajak tersenyum lagi. Karna bibirnya telah tertutup rapat oleh jahitan.

Perempuan yang diceritakan dalam cerpen tersebut adalah ilustrasi dari manusia yang merugi karena tidak menggunakan mulut yang semestinya bisa menjadi salah satu alatuntuk menuai manfaat dengan sebaik-baiknya.

Pun dengan aku, manusia biasa yang tak sempurna ini. Mungkin sering sekali secara sadar maupun tidak sadar menyakiti orang lain dengan kata-kata. Jika memang ada salah satu atau dua atau bahkan salah banyak dari orang yang membaca tulisan ini merupakan salah satu korban kata-kata itu, maka dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada diriku, aku sungguh-sungguh minta maaf. Sebagai sesama manusia yang terkadang emosi tidak stabil sehingga apa saja yang ada di pikiran terlontarkan begitu saja, lebih baik kita saling memaafkan bukan?

Harapannya, kita menjadi manusia yang tidak menganggap enteng perkara lisan ini. Karena, ada pepatah arab yang mengatakan ; salamat Al Insan hifz al lisani (selamatnya manusia tergantung dari bagaimana ia menjaga lisannya). Iya, mari aminkan semoga kita termasuk orang-orang yang selamat ^^.


Akhirnya, manusia yang tak sempurna ini lagi-lagi minta maaf. Semoga masih cukup waktu untuk terus belajar dan memperbaiki diri.