Minggu, 03 Agustus 2014

DIARY

Kebanyakan orang menilai bahwa diary identik dengan perempuan. Kebanyakan dari kita juga menganggap bahwa orang yang rutin menulis di buku diary adalah orang yang melankolis, mudah larut dalam kesedihan, atau hal lain yang identik dengan lemah. Anggapan tersebut pada akhirnya membuat orang cenderung malas untuk menulis diary.



Menurut saya, anggapan seperti itu salah. Buktinya Ahmad Fuadi, penulis yang sukses dengan trilogy Negeri Lima Menara, Ranah Tiga Warna, dan Rantau Satu Muara adalah penulis diary semenjak belia. Ia tak pernah membiarkan buku diary nya kelewatan bahkan untuk hal-hal sederhana yang ia alami.

Apabila ditelisik lebih lanjut, sebenarnya diary memiliki beberapa manfaat :

Peredam Amarah


Peredam Rindu (>,<)
Yang ingin saya tekankan di sini adalah rindu tak tertahankan kepada seseorang yang belum halal untuk kita mengungkapkan kerinduan itu(cieee .-.). Daripada melanggar syariat agama, atau cerita kepada manusia yang belum tentu dapat menjaga rahasia kehormatan perasaan, alangkah indahnya jika kerinduan itu kita ungkapkan di buku diary. Cukup diri sendiri dan Allah yang tahu ya :’)

Bukti Otentik yang Dapat Selalu dikenang Saat Tua
Di saat penat mendera di tengah kesibukan, membuka cerita-cerita lama bisa menjadi penyegar pikiran. Apalagi biasanya, cara menulis seseorang dari masa ke masa selalu berbeda. Boleh jadi kita tertawa terbahak 10 tahun lagi, ketika kita membaca tulisan kita di masa sekarang.

Mengasah Kemampuan Menulis

Dari 4 manfaat menulis buku diary, bukankah diary adalah lambang dari seseorang yang lebih memilih untuk memendam hal-hal yang tak bermanfaat(amarah, kerinduan yang belum semestinya, dll)? Masih berpikir panjang untuk menulis diary? :)


-Fatin Philia Hikmah, 3 Agustus 2014