Selasa, 28 Oktober 2014

Manusia Super

Andai aku manusia dengan kekuatan super, aku ingin mendekap erat waktu yang berdetak tanpa mau sejenak saja untuk berhenti dengan genggaman tanganku. Aku ingin menggenggamnya sampai terlihat urat-urat berwarna kehijauan pada otot-otot telapak tanganku, tak akan ku biarkan ia bergerak sepersekian detik pun. Maka akan ku temui ia sesak dan akhirnya menyerah dalam genggaman tanganku. Dengan menyerahnya ia dan berhenti berdetak, aku dapat berisitirahat tanpa takut kehilangan kesempatanku yang terbatas untuk melakukan sesuatu, aku dapat melakukan apapun yang aku mau, dan yang terpenting aku ingin memperbaiki hidupku, sampai akhirnya ketika waktu itu berdetak kembali, aku adalah manusia baru dengan kehebatan yang luar biasa ; senantiasa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Namun aku bukanlah manusia dengan kekuatan super yang tak pernah merasa lelah meskipun otot-otot kaki telah mengejang minta diistirahatkan, yang tak pernah merasa jenuh meskipun melakukan kegiatan yang sama setiap harinya, yang bahkan terus didera kesulitan namun tak pernah mengeluh. Ah, aku juga bukan manusia dengan kekuatan super yang dapat menghentikan waktu.


Ku rasa manusia dengan kekuatan super itu tak ada, yang ada adalah Sang Maha Pengatur Waktu yang dengan segala ketelitian yang Dia miliki, bahkan peredaran matahari, bulan, serta seluruh yang ada di langit, bumi, dan apa-apa yang ada di antara keduanya ada dalam genggaman-Nya. Sementara aku? Aku hanyalah manusia biasa yang dengan segala kekurangan dan kelebihan yang aku miliki sebenarnya ingin memanfaatkan waktu yang terbatas ini dengan sebaik-baiknya. Iya, seandainya saja aku selalu ingat dengan keterbatasan waktu itu...

-Hanya coret-coretan Fatin Philia Hikmah, 28 Oktober 2014, 18:23

Minggu, 26 Oktober 2014

Untuk Ayah dan Bunda

Jauh sudah aku menapaki langkah, melewati dimensi waktu dan jarak yang membuatku jauh darimu, juga membuat semuanya tak sama lagi seperti dulu. Meski terkadang terbesit keinginan untuk selalu bersama, namun hati meyakini bahwa masing-masing dari kita selalu ingat akan mimpi dan cita-cita yang telah kita goreskan bersama harus diperjuangkan. Karena, langkah kehidupan yang telah kita lalui bersama lebih panjang dan jauh dari jarak antara kita sekarang, membuat keterpisahan kita tak akan berarti.

-Untuk ayah dan ibu di Malang, dari ananda yang sedang menuntut ilmu di kota tetangga.

Minggu, 03 Agustus 2014

DIARY

Kebanyakan orang menilai bahwa diary identik dengan perempuan. Kebanyakan dari kita juga menganggap bahwa orang yang rutin menulis di buku diary adalah orang yang melankolis, mudah larut dalam kesedihan, atau hal lain yang identik dengan lemah. Anggapan tersebut pada akhirnya membuat orang cenderung malas untuk menulis diary.



Menurut saya, anggapan seperti itu salah. Buktinya Ahmad Fuadi, penulis yang sukses dengan trilogy Negeri Lima Menara, Ranah Tiga Warna, dan Rantau Satu Muara adalah penulis diary semenjak belia. Ia tak pernah membiarkan buku diary nya kelewatan bahkan untuk hal-hal sederhana yang ia alami.

Apabila ditelisik lebih lanjut, sebenarnya diary memiliki beberapa manfaat :

Peredam Amarah


Peredam Rindu (>,<)
Yang ingin saya tekankan di sini adalah rindu tak tertahankan kepada seseorang yang belum halal untuk kita mengungkapkan kerinduan itu(cieee .-.). Daripada melanggar syariat agama, atau cerita kepada manusia yang belum tentu dapat menjaga rahasia kehormatan perasaan, alangkah indahnya jika kerinduan itu kita ungkapkan di buku diary. Cukup diri sendiri dan Allah yang tahu ya :’)

Bukti Otentik yang Dapat Selalu dikenang Saat Tua
Di saat penat mendera di tengah kesibukan, membuka cerita-cerita lama bisa menjadi penyegar pikiran. Apalagi biasanya, cara menulis seseorang dari masa ke masa selalu berbeda. Boleh jadi kita tertawa terbahak 10 tahun lagi, ketika kita membaca tulisan kita di masa sekarang.

Mengasah Kemampuan Menulis

Dari 4 manfaat menulis buku diary, bukankah diary adalah lambang dari seseorang yang lebih memilih untuk memendam hal-hal yang tak bermanfaat(amarah, kerinduan yang belum semestinya, dll)? Masih berpikir panjang untuk menulis diary? :)


-Fatin Philia Hikmah, 3 Agustus 2014

Minggu, 08 Juni 2014

Saat Hujan Turun

Setiap kejadian menyimpan makna. Sempat teramat sedih karena sebuah pintu tertutup, padahal pintu itu barulah pintu yang pertama. Sempat termenung teramat lama, dengan pandangan kosong memandangi hewan-hewan kecil yang berjibaku di antara rerumputan. Sempat pula mengurut kesalahan, apa yang membuat semuanya seperti ini? Astaghfirullah...

Seiring berjalannya detik demi detik, kesadaran bahwa hujan deras akan reda, malam pekat akan menjadi pagi yang memnjanjikan jutaan harapan, juga seperti orang yang menahan lapar, dahaga, serta hawa nafsu di kala puasa nantinya akan berbuka. Namun sayangnya, kesadaran itu hanya mencubit siku, tak lebih.Meskipun tahu bahwa hujan pasti akan reda dan malam akan berganti dengan pagi, sering kali bertanya-tanya, "Apakah aku dapat melintas di tengah hujan yang mungkin sebenarnya hanya gerimis ini tapi terasa sangat deras? apakah mentari akan benar-benar muncul lagi, menggusur awan kelabu, sehingga penduduk bumi kembali merasakan hangat dan menanggalkan mantelnya?"

Ibarat saat kita mengamati semut kecil, dengan gamblang dan leluasa mengamati ia bergerak, dengan jelas mengetahui bahwa ia merasa takut saat kita meletakkan telapak tangan untuk menghadang jalannya, begitu pula lah Sang Maha Agung lagi Maha Lembut melihat kita. Sementara kita tak tahu apa-apa. Yang dapat kita lakukan adalah berusaha dan berdoa semaksimal mungkin.

Karena cara terbaik menghadapi hujan deras bukanlah berlari menghadangnya, namun dengan payung di tangan, melangkahkan kaki dengan ringan sambil menari dan bernyayi, cukup tersenyum bahkan saat air di kubangan menciprati baju kesayangan yang kita kenakan. Bukankah hujan deras pun akan reda?
              
                                                                                                       -Fatin Philia, 080614; 21:55 WIB


Andaikan kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepada-Nya (Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah)

Kamis, 08 Mei 2014

Ha!

Besok BIF lho ^^       10 Mei 2014, 01:47 pm

Sabtu, 03 Mei 2014

Merindu

Sebenarnya apakah hakikat dari kerinduan? Apakah ingin bertemu karena lama tak berjumpa? Apakah ingin berkomunikasi meskipun melalui pesan singkat yang di era global ini dapat dikirim melalui berbagai macam aplikasi? Atau justru ingin begitu dekat, bercengkrama, dan membunuh waktu bersama? Apapun hakikat rindumu, rindu adalah rindu.

Kini aku sedang merindukan sesuatu seperti aku merindukan bintang yang akhir-akhir ini tak nampak di langit malam yang kelam. Sesuatu yang ku rindukan itu tak hanya satu, lebih dari dua, tiga, bahkan empat—seperti banyaknya barang yang ingin ku beli saat aku berkeliling di pusat perbelanjaan di awal bulan. Dan aku pun merindukannya, seperti aku merindukan bermain petak umpet seperti ketika masih duduk di sekolah dasar dulu. Lama tak jumpa, lama tak bersua, lama tak bertegur sapa, lama lama lama lama sekali.

Ah, keharusan untuk rindu ini kubuang jauh-jauh, seperti keharusan ku untuk minum agar ginjalku dapat bekerja dengan baik. Rindu ini tak penting, tak patut untuk dipendam dan terlalu dirasa, juga belum saatnya untuk diperjuangkan.

Harusnya rindu ini adalah untuk-Nya. Untuk-Nya Yang selalu membuka pintu lebar-lebar, kapan pun dan di mana pun. Untuk-Nya yang dengan gamblang berfirman dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 186 :

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu(Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

Harusnya rindu ini bukan untuk seseorang, yang dengan merindukannya aku kehilangan getaran di setiap aku menyebut nama-Nya.
-Fatin Philia Hikmah


21:27 WIB

Sabtu, 19 April 2014

I AM NOTHING

Kawan, pernahkah kau merasa begitu percaya diri?

Dengan senyuman mengembang mengerjakan soal-soal yang mengejewantahkan reaksi molekul-molekul tak kasat mata, sambil dalam hati berkata, “ini begitu mudah, aku sudah sangat terbiasa.” Ada pula yang mengungkapkan kepercayadiriannya saat dengan lantang menyapa puluhan bahkan ratusan orang, memberikan wejangan ini itu dengan ringan karena merasa bahwa berbicara di depan khalayak adalah keahliannya.

Lain cendekiawan, lain presenter(baca: penyaji), lain pula dengan seorang olahragawan, pesepak bola misalnya—orang yang menemukan jiwanya di lapangan hijau. Ia mengungkapkan kepercayaan dirinya dengan sedikit membusungkan dada sambil menyapukan pandangan ke seluruh lapangan, teramat yakin bahwa kemenangan itu akan berpihak pada tim-nya.

Namun, bukankah perkara-perkara dalam hidup ini tak selalu sesuai dengan keinginan, sekalipun keyakinan kuat yang bercokol dalam hati telah mewarnai setiap hembusan nafas dalam latihan-latihan dan bentuk perjuangan lainnya?

Dari perkara menang-kalah itulah sebenarnya Sang Maha Sempurna ingin kita belajar, mengakui kelemahan diri, dan dengan kebersihan hati mengatakan : I’M NOTHING

Ketika suatu saat aku merasakan kekalahan dan mencoba dengan tulus mengatakan bahwa aku memang bukan apa-apa, pengakuan I’M NOTHING itu dapat ditujukan kepada :

1. Sang Maha Agung, Allah SWT(Tak ada keraguan atas KeMaha-anNya, sehingga sungguh tak pantas kita menyombongkan diri sementara ada Zat Yang Maha Sempurna)

source : islamicartdb.com


 ”Dan janganlah kalian berjalan di atas bumi ini dengan menyombongkan diri, karena kalian tidak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung” (QS al-Isra-37).  

2. Manusia Lain


Terkadang, keyakinan yang terlampau besar bahwa ‘saya pasti menang, saya pasti juara’ dapat mengantarkan kita pada kesombongan, merasa diri kitalah yang paling hebat. Apabila hal itu terjadi, seorang pesepak bola yang tim-nya mengalami kekalahan akan sulit bangkit karena tenggelam dalam ketidakpercayaan akan kenyataan bahwa tim-nya yang telah dielu-elukan akan meraih kemenangan justru dikalahkan oleh tim underdog.

source : roadtopro.com
Pun dengan seorang presenter(baca : penyaji)terkenal akan merasa sedih berlebihan hanya karena tepuk tangan penonton tak seriuh rendah yang ia bayang dan harapkan. Hei, ia sedih hanya karena sebelumnya ia merasa bahwa ia adalah seorang penyaji paling hebat dan selalu ditunggu bukan?

Maka baiknya bagaimana? Memadukan antara optimisme dan rendah hati sepertinya jaaauh lebih baik ketimbang hanya salah satu dari keduanya.  Karena tak dipungkiri, dalam sebuah perjuangan untuk meraih tujuan sangat dibutuhkan keyakinan dan optimisme. Namun, kesadaran bahwa kita hanyalah segumpal tanah tanpa Allah SWT akan membuat hati kita senantiasa tenang menghadapi kekalahan ataupun kemenangan, serta menjadi insan yang tak bosan-bosan untuk belajar dari pengalaman.

source : dontgiveupworld.com

Fatin Philia Hikmah

19 April 2014; 01:51 PM

Kamis, 17 April 2014

Inilah Hidupku

Sepertinya beberapa bulan belajar terlalu serius membuatku agak kaku untuk menulis lagi -___-v. Tapi karena sudah gatal untuk posting sesuatu di blog absurd ini, aku bagikan sebuah sajak karya Tere Liye(lagi) :)


Iya,
Aku sering melakukan kesalahan
Tapi bukan berarti tidak ada hal benar yang pernah kulakukan
Silahkan kalian mau fokus menilai yang mana
Karena aku akan lebih memusingkan
Memperbaiki yang keliru
Menyempurnakan yang benar

Iya,
Aku juga sering menangis
Satu dua bahkan terisak dalam, tergugu
Tapi bukan berarti aku tidak pernah tertawa
Silahkan kalian mau menilai yang mana
Karena aku memilih mengingat hal2 membahagiakan
Belajar dari hal2 menyedihkan
Agar besok tidak terulang kembali
Iya,
Aku pun sering menyesal
Bahkan satu-dua penyesalan lama bertahun2
Tapi bukan berarti aku tidak berdiri gagah menghadapi hidup ini
Silahkan kalian mau menghakimi apapun
Karena aku lebih baik berdiri setiap kali terjatuh
Menjadikan kekeliruan sebagai masukan
Dan memastikan tidak ada penyesalan di ujung kisah
Iya,
Aku tidak sempurna
Aku boleh jadi juga tidak pintar
Tapi aku akan melalui kehidupan ini
Hari demi hari
Melihat dunia terbentang luas
Belajar banyak hal
Apapun yang akan kalian katakan
Inilah hidupku
Dan kebahagiaanku ada di hatiku
Bukan di hati kalian

Minggu, 30 Maret 2014

Halo!

Assalammualaikum! 
Sudah lama sekali tidak mencurahkan pikiran di sini karena banyak hal yang harus dikerjakan. Dan ketika ada waktu luang seperti sekarang inii, aku tidak tahu harus menuliskan apa .___.

Jumat, 28 Februari 2014

The Unreachable Thing

Kawan, pernahkah engkau berusaha untuk baik di mata semua orang? Ingin menjadi teman yang menyenangkan bagi si a, b, c , d, e dan masih banyak lagi. Kalau pernah, apa yang kau rasakan setelah itu? Tak terelakkan, kau merasa lelah bukan?

Saat ingin melakukan hal X misalnya, kau takut hal itu akan membuat si a, b, dan c taksuka. Lalu kau memutuskan untuk melakukan hal Y, namun akhirnya urung karena kau tahu hal itu akan membuat si f, g, dan h merasa risih. Sampai akhirnya, kau justru memilih untuk tidak melakukan apapun, karena menurutmu itu lebih aman, meskipun mungkin kau akan rugi karenanya.

Ternyata petuah lawas yang berbunyi jadilah dirimu sendiri itu benar. Tak mungkin satu orang bisa baik di mata semua pihak. Sebaik apapun engkau, pasti akan ada pihak-pihak yang diam-diam merasa tak suka denganmu. Hei, itu sudah cerita lama bukan? Karena yang kita hadapi adalah manusia, makhluk yang tak pernah puas dan lebih suka mengungkit kesalahan daripada mengingat kebaikan yang orang lainlakukan.

Nah, simple saja, mulai sekarang mari membiasakan untuk menjadi diri sendiri(selama itu merupakan kebiasaan baik), tak perlu rusuh mengkhawatirklan tentang apa yang orang pikirkan tentang dirimu. Biarkan orang lain berkomentar seenaknya, berkicau di belakang seakan tak ada hal benar yang pernah engkau lakukan.


Jangan sampai kita merugi hanya karena ingin mengejar sesuatu yang tak mungkin tercapai, yaitu ridho manusia.

-Fatin Philia Hikmah- 1 Maret 2014 14:27 pm

Rabu, 19 Februari 2014

Jalanku Masih Panjang


Lagi-lagi copas puisi Tere Liye dari fb-nya(udah izin kok ._.). Tapi memang bagus dan sangat memotivasi ;)

Jalanku Masih Panjang

Wahai perasaan
Kau buat pagiku jadi mendung, soreku jadi kelam
Kau buat siangku jadi gelap, dan malam semakin gulita
Kau buat beberapa menit lalu aku gembira,
untuk kemudian bersedih hati

Wahai perasaan
Kau buat aku berlari di tempat
Semakin berusaha berlari, kaki tetap tak melangkah
Kau buat aku berteriak dalam senyap
Kau buat aku menangis tanpa suara
Kau buat aku tergugu entah mau apalagi

Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang gila
Mengunjungi sesuatu setiap saat, untuk memastikan sesuatu
Padahal buat apa?
Ingin tahu ini, itu, untuk kemudian kembali sedih
Padahal sungguh buat apa?

Wahai perasaan
Kau buat aku seperti orang bingung
Semua serba salah
Kau buat aku tidak selera makan, malas melakukan apapun
Memutar lagu itu2 saja,
Mencoret2 buku tanpa tujuan
Mudah lupa dan ceroboh sekali

Wahai perasaan
Cukup sudah
Kita selesaikan sekarang juga
Karena,
Jalanku masih panjang
Aku berhak atas petualangan yang lebih seru

Selamat tinggal
Jalanku sungguh masih panjang....

Sabtu, 08 Februari 2014

Face it!

Akhirnya ujian praktek selama 6 hari selesai. Setelah beberapa hari tekun mempelajari laporan-laporan praktikum, mengarang teks eksposisi, deskripsi, persuasi dan pidato dengan tema yang tidak bisa dibilang ringan, berenang, dan juga mempraktekkan  ilmu komputer yang didapat, kelegaan itu akhirnya datang.

Ternyata memang begitu ya, seberat apa pun masalah yang ada di hadapan kita, akhirnya akan berlalu apabila kita menghadapinya. Misalnya pada waktu akan ujian praktek Kimia. Beberapa lembar laporan praktikum hanya kupandangi dengan malas, mencoba mencermati persamaan-persamaan elektrolisis dan sel volta sampai akhirnya angkat tangan dan memilih tidur.

Namun, keesokan harinya, aku tak punya pilihan. Kimia yang menurutku agak rumit itu harus aku hadapi, berarti aku harus memaksa diri untuk belajar. Akhirnya, aku meminta teman-temanku yang paham untuk mengajariku.

Ternyata, aku mendapat percobaan menentukan kadar NaClO dalam bayclin. Meskipun ada sedikit kesaalahan karena mungkin aku terlalu tegang, pada akhirnya aku bisa mengerjakan percobaan dan menjawab soal Alhamdulillah dengan lancar.

Begitulah, ujian praktik, ujian sekolah, atau ujian nasional sekalipun sebenarnya hanya bagian yang teramat kecil jika dibandingkan dengan ujian-ujian kehidupan yang menanti kita di masa mendatang. Namun, di balik banyaknya tantangan dan ujian di masa mendatang itu, akan selalu diikuti oleh banyak sekali harapan. Jadi, ketika kita mengaapi ujian atau masalah, janganlah menghindar, namun hadapi dan taklukkan masalah itu.


Bukankah kita memiliki Allah Yang Maha Besar? :)

Sabtu, 25 Januari 2014

Rindu :|

Sampai saat ini, aku belum juga berhasil untuk berhenti melukis. Melukisnya dengan ejaan kata demi kata yang mengalir dalam hati. Begitu saja terjadi ketika ia ada. Sungguh, aku ingin berhenti melukisnya. Membiarkan semuanya mengalir sewajarnya, sejauh yang Sang Maha Lembut izinkan. 

Namun terkadang rasa rindu itu hadir. Begitu saja. Suatu hari, aku menemukan puisi ini dari fanpage Tere Liye di facebook. Subhanallah isinya, monggo dibaca... :)

SEPOTONG BULAN UNTUK BERDUA 

malam ini, 
saat dikau menatap bulan, 
yakinlah kita melihat bulan yg sama, 
mensyukuri banyak hal, 
berterima-kasih atas segalanya, 
terutama atas kesempatan utk saling mengenal, 
esok-pagi, semoga semuanya dimudahkan.. 

malam ini, 
saat dikau menatap bulan, 
yakinlah kita menatap bulan yang satu, 
percaya atas kekuatan janji2 masa depan, 
keindahan hidup sederhana, berbagi dan bekerjakeras, 
mencintai sekitar dengan tulus dan apa-adanya.. 

malam ini, 
saat dikau menatap bulan, 
yakinlah kita menatap bulan yang itu, 
semoga Yang Maha Memiliki langit memberikan kesempatan, 
suatu saat nanti, dengan segenap pemahaman baik
menjaga kehormatan perasaan
kita menatap bulan, 
dari satu bingkai jendela *Tere Liye

:3 hehe

Senin, 13 Januari 2014

Menentukan Pilihan

Rinai hujan kembali membasahi kota Malang. Dengan kelajuan tertentu, setiap tetesnya mampu melapukkan kerasnya bebatuan menjadi kerikil, pasir, bahkan sampai menjadi debu. Suara tetes demi tetesnya bagaikan musik alam yang mendamaikan hati.

Kuliah, kampus, masa depan, cita-cita, dan harapan menjadi topik pembicaraan yang laris manis akhir-akhir ini di antara aku dan teman-teman sekolahku, atau bahkan juga seluruh anak Indonesia yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMA. Angan-angan tentang masa depan itu terus memenuhi benak kami setiap saat. Ketika kedewasaaan bertambah, sepertinya kami semakin sadar, bahwa menentukan cita-cita dan tujuan hidup sama sekali tak semudah menjawab aku ingin jadi dokter! Seperti pada waktu kecil dulu.

Pun dengan aku yang sampai saat ini masih belum benar-benar mantap tentang jurusan apa yang aku inginkan. Aku sering bertanya kepada diriku sendiri, pelajaran apa yang benar-benar aku sukai dan aku nikmati? Namun aku tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, karena menjawabnya saja aku merasa bimbang.

Aku masih ragu-ragu karena ketakutan bahwa aku akan salah pilih itu selalu hadir. Ketika aku membulatkan tekad untuk memilih jurusan A misalnya, aku terus bertanya, apakah ilmu-ilmu yang dipelajari di jurusan A sesuai dengan minatku?

Apakah teori dan masalah-masalah baru dalam bidang itu mampu membuatku bersemangat untuk meninggalkan selimut hangat dan kasur empukku untuk mendalaminya?

Apakah dengan mempelajari ilmu itu aku menjadi diriku sendiri?

Apakah dengan mempelajari ilmu itu aku mampu merundukkan diri karena semakin menyadari bahwa seluruh ilmu di jagat raya ini adalah milik Sang Maha Pandai Yang apabila air di seluruh lautan dijadikan tinta untuk menuliskan Ilmu-Nya tak akan cukup?


Huh, pada intinya aku masih belum berani mengambil keputusan. Baiknya aku meelusuri diriku lebih dalam, sembari meminta petunjuk-Nya. Bagaimanapun juga, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim :)