Sabtu, 07 Desember 2013

Ayah

Ketika hujan deras mengguyur kota, menghujam tanah dengan butiran-butiran air besar yang apabila jatuh di tangan akan terasa teees! ada sosok yang begitu gelisah dan bertanya kepada seluruh penghuni rumah apakah putrinya yang sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah membawa jas hujan? Akan pias wajahnya melihat 4 jas hujan yang ia miliki ada di jemuran di halaman belakang. Putrinya tidak membawa jas hujan.


Tak mau berdiam diri, ia segera membuka pagar rumah lebar-lebar, mengembangkan payung, berharap putrinya ada ujung gang. Lelah berdiri di tengah rinai hujan, ia memutuskan untuk menunggu di ruang tamu sambil berusaha mengalihkan kekhawatirannya dengan membaca buku. 

Ah, tentu saja pikirannya tak tertuju pada buku itu. Bagaimana dapat memahami buku yang dibacanya apabila setiap terdengar deru sepeda motor mendekat, ia beranjak dari tempat duduknya. Bahkan saat ia tahu bahwa suara deru motor itu pasti bukan anaknya.

Putrinya yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba dalam keadaan basah kuyup. Sama sekali tak ada tanda-tanda menyesal yang menjejak di wajah putrinya.

“Sudah ayah bilangi berkali-kali, bawa jas hujan!”

“Maaf, Yah. Lagipula besok libur kok.”

“Ya nanti kalau kamu sakit pas ujian gimana?” tanya ayah sambil menutup pagar. Kami, para anak sering atau bahkan selalu tidak menyadari di balik marahnya seorang ayah ada rasa khawatir karena saying, dan terselip rasa lega karena putrinya telah pulang kembali.

Hm ya, ayah. Ia tak banyak tanya dan tak protes ketika putra/putrinya menyebutkan buku-buku yang harus dibeli, ia juga tak banyak alasan ketika putrinya minta diantarkan ke sekolah atau bahkan ke toko buku.

Tapi ia yang akan pertama kali marah ketika sang anak tidak membawa mantel di kala musim hujan, tidak memakai masker di tengah hiruk pikuk perkotaan, atau membaca buku sambil tidur.

Ia selalu menyiapkan waktunya untuk mendukung keberhasilan sang putra/putri. Ya, sekalipun itu artinya beberapa jam waktu yang ia miliki untuk menuntaskan tumpukan tugas terbuang begitu saja.
Ah, tidak, baginya tidak begitu saja. Bahagia sang putra/putrid, adalah bahagianya. Ini gak gombal.

Fatin Philia--:)