Selasa, 24 Desember 2013

Bolehkah menyatakan kerinduan? Perasaan kepada seseorang?

Bolehkah menyatakan kerinduan? Perasaan kepada seseorang? Tentu saja boleh.

Tapi jika kita belum siap untuk mengikatkan diri dalam hubungan yang serius, ikatan yang bahkan oleh negara pun diakui dan dilindungi...

maka sampaikanlah perasaan itu pada angin saat menerpa wajah, pada tetes air hujan saat menatap keluar jendela, pada butir nasi saat menatap piring, pada cicak di langit-langit kamar saat sendirian dan tak tahan lagi hingga boleh jadi menangis. 

Dan jangan lupa, sampaikanlah perasaan itu pada Yang Maha Menyayangi. Semoga semua kehormatan perasaan kita dibalas dengan sesuatu yang lebih baik. Semua kehati2an, menghindari hal-hal yang dibenci, akan membawa kita pada kesempatan terbaik. Semoga


-copas dari fanpage Tere Liye

Selasa, 17 Desember 2013

Katanya..



Katanya sudah berhasil melupakan? Tapi setiap menemukan namanya muncul dalam pemberitaan terbaru di social media, masih heboh dan membaca berita terbaru itu berulang-ulang. Katanya sudah tidak ada perasaan yang spesial? Tapi lidah mendadak kelu ketika tiba-tiba suara yang begitu dikenal(bahkan muncul dalam setiap mimpi) memanggil. Katanya sudah biasa saja? Tapi jantung masih berdebar lebih cepat dan keras ketika melihatnya berjalan mendekat. Katanya sudah rela dia menjalin hubungan dengan gadis lain yang itu berarti ke-GR-an selama ini adalah salah? Tapi setiap ‘gadis lain’ itu lewat, tak bisa rasanya apabila tidak memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan  sinis.

Namun, rasa-rasanya galau karena hal-hal di atas tidaklah penting. Lebih penting apabila merefleksi diri ini untuk hal-hal berikut :

Katanya ingin dekat dengan Allah—Sang Maha Cinta sedekat-dekatnya? Tapi setiap sepertiga malam terakhir, rutin mematikan alarm kemudian lebih memilih bergelung di balik selimut tebal yang begitu menghangatkan. Katanya yakin Allah Maha Melihat? Tapi masih suka diam-diam melakukan dosa kecil bahkan besar seakan Allah tak melihat.

Katanya yakin Allah telah memilihkan jodoh yang terbaik untuk diri ini di saat yang tepat? Tapi sering galau berlebihan karena kejadian-kejadian kecil. Katanya yakin bahwa laki-laki yang baik bagi wanita yang baik pula? Tapi justru melihat sosok si dia yang sebenarnya kurang baik menjadi sangaaaat baik.
Katanya… Tapi…

-Fatin Philia Hikmah(yang berkaca sambil membuat tulisan ini ._.)
17 Desember 2013

Sabtu, 07 Desember 2013

Ayah

Ketika hujan deras mengguyur kota, menghujam tanah dengan butiran-butiran air besar yang apabila jatuh di tangan akan terasa teees! ada sosok yang begitu gelisah dan bertanya kepada seluruh penghuni rumah apakah putrinya yang sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah membawa jas hujan? Akan pias wajahnya melihat 4 jas hujan yang ia miliki ada di jemuran di halaman belakang. Putrinya tidak membawa jas hujan.


Tak mau berdiam diri, ia segera membuka pagar rumah lebar-lebar, mengembangkan payung, berharap putrinya ada ujung gang. Lelah berdiri di tengah rinai hujan, ia memutuskan untuk menunggu di ruang tamu sambil berusaha mengalihkan kekhawatirannya dengan membaca buku. 

Ah, tentu saja pikirannya tak tertuju pada buku itu. Bagaimana dapat memahami buku yang dibacanya apabila setiap terdengar deru sepeda motor mendekat, ia beranjak dari tempat duduknya. Bahkan saat ia tahu bahwa suara deru motor itu pasti bukan anaknya.

Putrinya yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba dalam keadaan basah kuyup. Sama sekali tak ada tanda-tanda menyesal yang menjejak di wajah putrinya.

“Sudah ayah bilangi berkali-kali, bawa jas hujan!”

“Maaf, Yah. Lagipula besok libur kok.”

“Ya nanti kalau kamu sakit pas ujian gimana?” tanya ayah sambil menutup pagar. Kami, para anak sering atau bahkan selalu tidak menyadari di balik marahnya seorang ayah ada rasa khawatir karena saying, dan terselip rasa lega karena putrinya telah pulang kembali.

Hm ya, ayah. Ia tak banyak tanya dan tak protes ketika putra/putrinya menyebutkan buku-buku yang harus dibeli, ia juga tak banyak alasan ketika putrinya minta diantarkan ke sekolah atau bahkan ke toko buku.

Tapi ia yang akan pertama kali marah ketika sang anak tidak membawa mantel di kala musim hujan, tidak memakai masker di tengah hiruk pikuk perkotaan, atau membaca buku sambil tidur.

Ia selalu menyiapkan waktunya untuk mendukung keberhasilan sang putra/putri. Ya, sekalipun itu artinya beberapa jam waktu yang ia miliki untuk menuntaskan tumpukan tugas terbuang begitu saja.
Ah, tidak, baginya tidak begitu saja. Bahagia sang putra/putrid, adalah bahagianya. Ini gak gombal.

Fatin Philia--:)