Rabu, 25 September 2013

Tere Liye's Quotes

BERSABAR

Bersabar bukan berarti menunggu pasif. Bersabar bahkan bisa terwujud dalam sebuah ihktiar tiada henti, dan kita sabar apapun hasilnya.

Bersabar bukan berarti tidak melakukan apapun. Bersabar bahkan bisa terbentuk dalam sebuah usaha besar menakjubkan, dan kita sabar melewati rintangan dan cobaan dalam upaya tersebut.

Apakah kita bersabar? Jika, iya, bersabarlah dgn cara itu.

*Tere Liye

Sabtu, 21 September 2013

Bawalah Pergi, Angin...

Angin, seraya berlalu, bisakah engkau membawa pergi perasaan bodoh ini? Bisakah kau membiarkan rasa ini pergi, agar tak mengusik setiap malam dengan mimpi-mimpi yang sama?

Angin, bisakah kau tarik teriakan-teriakan hati yang tak tertahankan ini, berlari bersamamu, menggerakkan padi-padi yang semakin hijau dan tinggi?

Angin, ke mana saja engkau mau, bawalah segala cerita ini! Menari bersamamu, mengusik air yang mengalir pada parit-parit, agar tak ada lagi bayang-bayang yang menghantui

Angin, mampukah engkau membawanya? Apakah engkau tetap dapat menggerakkan para padi? Apakah air yang mengalir masih bisa kau usik?

Jangan bertanya padaku, angin. Sosok nista yang daritadi menikmati sapuanmu ini begitu lemah. Menikmati perasaan ini bak lagu syahdu yang melemahkan jiwa.

Bawalah perasaan ini angin, agar kita bisa berlari bersama, menyongsong hari sembari terus bertasbih kepada-Nya

oleh : Fatin Philia
 
di suatu senja pada 20 September 2013

Kamis, 19 September 2013

random

Langit sore ini begitu sedap dipandang. Warna biru muda yang mendominasi, ditemani dengan warna jingga di ujung cakrawala. Burung-burung kecil berterbangan silih berganti. Anak-anak kecil berkerudung bersepeda sambil meneriaki temannya yang sudah mendahului. Masya Allah.

Pelajaran di sekolah yang cukup berat membuatku merasa bersyukur bisa memandangi langit yang begitu indah sore ini. Sebenarnya tidak ada kegiatan berarti yang bisa ku lakukan, hanya memandang langit yang semakin gelap sih. Tapi aku senang melakukannya.

Aku senang berinteraksi dalam diam dengan angin dan langit, karena aku bisa mengungkapkan seluruh perasaan yang aku rasakan. Rasa senang, bahagia, marah, benci, dan juga rindu bisa aku curahkan tanpa takut perasaanku yang mungkin terkadang berlebihan bisa mengganggu orang lain. Kadang aku merasa begitu rindu dengan seseorang...namun apakah aku bisa mengatakannya? Bisa. Mungkin, suatu saat nanti, bukan sekarang.

Maka...biarlah, biarlah semua perasaan ini menjadi rahasia antara aku, langit, dan angin, juga Sang Maha Cinta tentunya

Selasa, 10 September 2013

Bulan Sabit yang Tersenyum


Bulan sabit yang sukses membuat malam yang dingin menjadi indah itu melengkungkan senyum tepat di hadapanku. Membuatku tak bisa menahan hasrat untuk turut memandanginya lamat-lamat. Melamunkan, memutar ulang, dan merenungi hal-hal yang terjadi belakangan ini.

Teringat sebuah kejadian mengesalkan namun juga membuatku senang (apalah itu kalau bukan perkara asmara, hahaha), aku menghembuskan nafas pelan, mengalihkan pandangan pada bintang-bintang yang entah tengah membentuk formasi apa, berjauh-jauhan dan sinarnya tak begitu gemerlap seperti 3 malam yang lalu.

Beranjak dari masa kanak-kanak menuju keremajaan yang semakin matang, tanpa ku sadari aku telah belajar bagaimana memaknai hari. Pagi hari ketika mentari masih malu-malu menampakkan diri, bergegas dengan tas di punggung. Eh, aku tidak hanya memanggul tas hitam, tapi juga mimpi-mimpi, harapan-harapan dan juga janji-janji. Menghirup sejuknya udara pedesaan, membangkitkan energi positif yang mungkin bangun kesiangan.

Lepas pagi hari, datanglah waktu ketika aku mulai lelah, lebih memilih bergurau bersama teman sebaya ketimbang menyelesaikan tugas yang berbisik-bisik ingin segera dikerjakan.

Hingga akhirnya datanglah petang, ketika pundak lelah menahan tas punggung. Ada mimpi-mimpi baru yang hadir, namun juga tak sedikit harapan yang harus direlakan pergi, karena pemahaman baru yang datang hari ini. Di tengah letih itu, adalah sebuah kebutuhan mendasar setiap insan untu mendekatkan diri pada Sang Maha Pemurah, berterimakasih, setidaknya setelah melewati hari yang begitu melelahkan, masih ada kekuatan yang tersisa.

Berterimakasih, Ia telah menciptakan langit dan Menghiasinya sedemikian rupa. Menemani manusia yang ingin menghabiskan sisa harinya dengan melamun, merangkai asa dan harapan, lalu meletakkannya di samping kasur. Berharap besok tak lupa untuk membawa asa itu menghadapi dunia.

Bulan  sabit masih tersenyum,

Fatin PH—Malang, 10 Sept ’13 ; 7:52 PM