Jumat, 08 Juni 2018

Pembuat Iri

Mari iri kepada mereka.
Ketika kita sibuk memikirkan 'aku nanti buka sama apa ya?', mereka sibuk memastikan bahwa jamaah akan mendapatkan hidangan terbaik untuk berbuka.
Ketika kita sibuk berebut bungkusan nasi untuk diri kita sendiri, mereka mengakhirkan makan sebab memastikan seluruh jamaah bisa berbuka dengan baik.

Mereka.
Kehadiran mereka kita tunggu seperti adzan maghrib.
Senyuman mereka saat menyambut kita seperti cerahnya rembulan yang menemani malam-malam tarawih kita.
Semangat mereka memberikan kehangatan layaknya sore hari di bulan ramadhan.
Mereka adalah orang-orang yang kita ingat sebagai bagian dari kenangan kita akan ramadhan tahun ini. Ramadhan yang setelah ini pergi.
Mereka adalah para pengurus langgar, musholla, dan masjid, khususnya pada ramadhan ini.

Mari iri kepada mereka. Mari iri kepada mereka dengan cara memanfaatkan waktu yang tersisa ini untuk menebar manfaat bagi orang lain. Mari menjadikan ramadhan ini berfaedah sekaligus berkesan baik, untuk diri sendiri maupun orang lain.

N.b: foto didapatkan dari Mbak Mariya, salah satu pengurus di Masjid UNAIR. Namun, 'mereka'  dalam tulisan ini berlaku untuk pemakmur rumah Allah d manapun berada

Jumat, 25 Mei 2018

Sidang Ulang: Hakikat dan Hikmahnya

Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah.



Akhirnya segala persyaratan yang harus saya penuhi untuk mendaftar yudisium sebagian besar sudah saya selesaikan. Maka dari itu, kini saatnya saya menunaikan janji saya kepada secuil bagian dari orang-orang yang katanya sih ingin mengetahui cerita ini.

Perjalanan menyelesaikan skripsi ternyata adalah perjalanan yang panjang, setidaknya bagi saya. Mulai dari impian saya untuk lulus dalam tujuh semester yang kandas akibat kemalasan saya sendiri, sehingga saya harus berlapang hati mengganti tahun '2017' di cover menjadi '2018' sampai perjuangan mengerjakan skripsi di semester delapan, sidang pertama, sidang ulang, sampai akhirnya harus menuntaskan berkas-berkas persyaratan untuk yudisium dan wisuda. Rasanya benar-benar seperti berjalan di pematang sawah yang sangat sempit dan licin. Selangkah demi selangkah. Alhamdulillah akhirnya sampai juga.

Sebenarnya saya sudah menyusun cerita yang panjang untuk ini. Namun setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya lebih baik singkat tapi teman-teman atau adik-adik bisa mengambil hikmahnya.

Semester 7. Mimpi besar saya untuk lulus 3,5 tahun tidak diimbangi dengan usaha yang maksimal. Ketika harus baca jurnal atau referensi yang sebenarnya membutuhkan konsentrasi, saya masih sering terdistraksi oleh hal-hal yang tidak penting. Kalaupun akhirnya saya tidak terdistraksi, saya tidak menikmati proses membaca itu. Saya membacanya secara lompat-lompat. Jadilah banyak informasi yang miss dan... ya, itu justru membingungkan diri saya sendiri. Bingung itu bikin apa...? Ya, bingung itu bikin makin males buat mengerjakan . Solusinya? Solusi ini manjur sih buat saya: membuat catatan tentang inti setiap paragraf. Apalagi referensi kita kan kebanyakan bahasa inggris...sehingga kalau nggak dicatat bisa lupa dan amblas dari ingatan dan...ya bisa bikin males baca. 

Selain distraktor remeh temeh, ketika semester tujuh ini juga ada kegiatan yang sedang sangat saya minati dan itu membutuhkan waktu yang cukup banyak. Sulit bagi saya untuk meninggalkannya. Alhamdulillah orangtua juga tidak pernah melarang saya. Mungkin beliau berdua khawatir kalau saya justru semakin tertekan. Namun, lagi-lagi usaha saya nggak seimbang. Harusnya nih ya, kalau emang ada kegiatan lain yang menyita perhatian, saya harus lembur dong untuk mencapai target utama yaitu skripsi. Tapi saya? Enggak -_- Jam tidur dan bangun saya tetap-tetap saja. Jadi ya nggak heran kalau progres skripsi saya sangat lambat.

Berlalulah semester 7. Dari angkatan saya, ada 3 orang yang berhasil menyelesaikannya di semester 7. 

Semester 8. Lumayan seru, karena selama beberapa hari datang ke dua sekolah untuk mengambil data. Namun, ketika mulai analisis data pakai SPSS, saya banyak bingungnya. Bahkan untuk prinsip-prinsip yang sifatnya dasar. Mungkin karena dulu waktu kerja kelompok, bagian SPSS selalu kami serahkan kepada Husnul dan Sita ya. Jadi mbatin, "Selama kuliah ini saya ngapain aja sih wkwk." Adik-adik dan teman-teman, POKOKNYA INI JANGAN DITIRU. KERJAKAN TUGAS KELOMPOKMU DENGAN SEMAKSIMAL MUNGKIN. KALAUPUN ADA PEMBAGIAN TUGAS, JANGAN MASA BODOH DENGAN TEMAN SEKELOMPOKMU, SEKALIPUN DIA UDAH PINTER BANGET. Hehe. Yaaa...dan Allah pun memuliakan dua sahabat saya yang luar biasa itu. Mereka lulus dengan skripsi yang sangat bagus dan menuai apresiasi dari berbagai pihak. 

Setelah itu, saya mengerjakan pembahasan. Lumayan lama, karena harus membaca banyak literatur. Sampai akhirnya selesailah lima bab skripsi saya. Singkat cerita, sampai akhirnya saya bisa mengumpulkan skripsi final ke bagian akademik, saya harus melalui berkali-kali bimbingan-revisi-bimbingan-revisi. Thanks to Pak Iwan...yang sangat sabar dan mudah dihubungi.

Setelah itu menunggu jadwal sidang. Deg degan banget. Begitu tau jadwalnya, makin deg degan dan nano-nano banget rasanya. Antara seneng dan pengen nangis :") Mohon maaf saya memang nggak kabar-kabar ke semua orang, karena saya khawatir malah jadi beban yang dikabarin (sungkan kalau gak dateng dsb). Tapi ternyata orang-orang lebih seneng kalau dikabarin ya:') Mohon maaf, mohon maaf, mohon maaf. 

Hari H sidang-Jumat, 27 April 2018. Hari itu kedua orangtua saya datang. Juga keluarga Berkah KKN Kendung. Juga teman-teman saya yang lain, meskipun mungkin pada kesehariannya nggak begitu dekat. Sampai terharu :". Terimakasih yang sudah datang... Ayah-Bunda, Dek Opik, Husnul, Sita, Astri, Ajeng, Dek Aruni, Dek Yuhanisa, adek-adek SAPSI saya, Inun, Dewi, Ratu, Pradit, Ovi, Dilla, Astrid, Zakia, Nesya, Nailil, Venta, Eldatia. Juga seluruh sahabat yang lain yang memberikan dukungan setiap harinya, yang kalau saya sebutkan di sini, nggak cukup dan khawatir ada yang terlewat:") Terimakasih, terimakasih, terimakasih. Sidang berjalan dengan lancar, alhamdulillah. Saya bisa berdiskusi dengan dosen penguji dengan baik. Namun, ada beberapa kekurangan dari skripsi saya yang membuat dosen penguji tak habis pikir: saya tidak mencantumkan lampiran input jawaban subjek (menurut dua dosen penguji yang merupakan expert di bidang kuanti, hal ini penting--meskipun ya nggak semua expert kuanti bilang gitu sih), beberapa lembar awal tidak ada halamannya (saya juga nggak tau kenapa bisa kayak gini), poin hipotesis tidak ada (iya, ini parah banget. Tapi saya juga bingung kenapa bisa tiba-tiba menghilang), poin sebelum kerangka konseptual tidak ada (kalau ini karena saya 100% lupa), dan saya juga tidak mencantumkan blue print alat ukur (ini juga kesalahan saya sendiri yang kurang total dalam mencantumkan hal-hal yang semestinya dicantumkan). Kekurangan-kekurangan tersebut ialah sebab saya kurang totalitas dalam mengerjakan skripsi ini.

Setelah sesi diskusi selesai, saya dan teman-teman diminta untuk keluar ruangan ujian. Ketika di luar, kami ngobrol santai. Melihat dari lancarnya sidang, kami yakin bahwa saya akan lulus. 

Setelah itu, Pak Iwan memanggil saya untuk kembali ke ruangan ujian. Singkat cerita, dosen penguji mengumumkan bahwa saya harus sidang ulang sebab banyak hal yang musti saya lengkapi. 

Gimana rasanya waktu mendapatkan pengumuman tersebut? Di satu sisi saya merasa tidak percaya (karena berjalannya sidang sangat lancar), namun di sisi lain saya bisa memahami. Hal-hal yang belum saya lampirkan adalah hal-hal krusial yang tiadanya membuat penelitian saya patut dipertanyakan. Bahkan salah satu dosen penguji mengatakan, "Terus kami bisa percaya kalau Anda benar-benar melakukan penelitian dari mana?" Baik baik baik, alhamdulillah 'ala kulli haal. Nggak papa, ini sudah rezeki terbaik yang sudah Allah takarkan untuk saya.

Meskipun sedih, alhamdulillah orangtua saya bisa memahami. Juga teman-teman saya. Meski mereka sedih dan mungkin juga kasihan pada saya, namun mereka tetap berusaha menguatkan saya. Terimakasih terimakasih terimakasih.

Oh ya, for your information. Sidang ulang di fakultas saya memang beberapa kali terjadi. Untuk periode pengumpulan kemarin saja, ada beberapa orang yang harus sidang ulang. 

Karena ingin segera mendaftar sidang ulang, saya segera melakukan revisi. Gimana rasanya revisi untuk mengejar sidang ulang? Ya campur aduk juga hehe. Antara sedih, menggebu, dan juga seolah ingin menyerah. Selama proses revisi itu, saya sempat bertemu dengan beberapa kakak tingkat dan teman seangkatan yang sedang berusaha menyelesaikan skripsi maupun revisi. Dari beberapa pertemuan itu saya kembali agak percaya diri, sebab sebenarnya sidang ulang itu bukan berarti gagal, tapi bahwa dosen pengujimu ingin kamu mempresentasikan hasil revisimu. Selauin itu, status 'sidang ulang' juga bisa membuat saya lebih bersemangat untuk mengerjakan revisi :'

Singkat cerita, akhirnya saya sidang ulang pada tanggal 18 Mei kemarin dan alhamdulillah lulus. Sekali lagi, terimakasih untuk semua pihak yang sudah mendukung saya.  

Tujuan saya membuat tulisan ini ialah agar pembaca paham bahwa sulit atau mudahnya sesuatu juga sangat dipengaruhi dengan usaha kita untuk mencapainya. Adanya kebijakan sidang ulang yang sering diterapkan di fakultas kita tidak perlu membuat kita memandang bahwa 'lulus dari psikologi itu sulit', 'dosennya psikologi itu perfeksionis' dan sebagainya. Tapi karena memang ada prinsip-prinsip tertentu dalam bidang keilmiahan yang dipegang teguh oleh fakultas kita, yang itu sebenarnya untuk kebaikan kita juga. Percayalah. Seperti yang selalu saya katakan kepada adik-adik yang bertanya, "Mbak, kalau peminatan pendidikan dan perkembangan itu tugasnya banyak ta?", ialah: nggak ada peminatan yang tugasnya sedikit, semuanya tugasnya banyak, cuma beda bentuknya aja. Asalkan kita memang berminat pada peminatan itu, tugasnya yang banyak akan tetap kita ingin jalani. Begitu pula dengan stigma negatif terhadap mata kuliah atau dosen tertentu. Mari membiasakan membangun mindset positif, namun dengan tetap 'waspada'. Dan tentunya, totalitas lah dalam berkuliah!!!

Perjalanan yang panjang dan berliku ini mengajarkan saya banyak pelajaran. Tentang empati. Tentang sabar dalam proses. Tentang ridho sama ketetapan Allah. Tentang totalitas dalam melakukan sesuatu. Nilai-nilai ini membuat saya seperti menjadi Fatin yang cukup berbeda. Pede banget ya hehe. Alhamdulillah. Saya merasa berkembang. Mungkin ini ya, bahwa skripsi itu adalah proses pendewasaan.

Terakhir, saya ingin mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada seluruh pihak yang telah menjadi support system saya khususnya selama menempuh studi di Psikologi UNAIR. Semoga kita bisa terus bersaudara dalam kebaikan. Mohon maaf atas Fatin yang ruwet, mbingungi, gak jelas, dan semacamnya. Kalau kalian nggak memahami dan menerima Fatin, entahlah apa jadinya empat tahun saya di sini. Terimakasih terimakasih terimakasih. Terimakasih juga atas teman2 yang mendukung dan datang waktu saya sidang. Terharu banget. Meskipun sebelumnya tidak begitu dekat, karena saling mendukung buat sidang jadi bisa lebih dekat. Terimakasih telah memberikan dukungan kepada saya melalui berbagai bentuk. Semuanya adalah bentuk kasih sayang yang tiada ternilai harganya. Bunga, cokelat, pelukan, senyuman, doa, serta pesan-pesan yang disampaikan melalui chat adalah bentuk kasih kalian yang insyaa Allah tidak akan saya lupakan. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan yang tiada batasnya.

Kamis, 10 Mei 2018

Persimpangan Jalan

Bagaimana jika dalam perjalanan hidupnya, seseorang bertemu dengan sosok yang seolah begitu sempurna hingga membuatnya merasa seperti: "Dialah orangnya. Harus dia, pasti dia. Sifatnya, minatnya. Adalah entitas yang bisa menjadi pelengkap aku yang separuh. Tak ada yang lain" Hingga akhirnya ia sampai di persimpangan jalan yang menghadapkannya pada tiga pilihan: menyegerakan menjalin ikatan yang suci lagi diridhoi, menunda dengan benar-benar menjaga, atau menunda dengan setengah-setengah menjaga.

Pilihan mana yang diambilnya? Apapun keputusannya, hakikatnya sama, sederhana seperti ini (sumber Ustadz Salim A. Fillah)






Ah, bukankah sudah begitu jelas? :'(

*silakan bagi teman perempuan yang ingin berkonsultasi (pada diri yang sebenarnya berlumur dosa ini bisa melalui: fatinphilia3@gmail.com)

Minggu, 18 Februari 2018

Menduduki Ilmu


Menduduki Ilmu
Oleh: Fatin Philia Hikmah
Jika hati senantiasa berniat baik; Allah kan pertemukan ia dengan hal yang baik, orang-orang baik, tempat yang baik, dan kesempatan berbuat baik
-Ustadz Salim Akhukum Fillah-

Bismillah. Semoga kita senantiasa dalam keadaan berniat baik, termasuk ketika membaca tulisan ini. Sehingga sekalipun tulisan ini amat sederhana, dapat menjadi salah satu sebab kebaikan bagi pembaca maupun penulisnya. Insyaa Allah.

Kisah ini bermula  ketika UTS mata kuliah Psikologi Belajar (semester dua). Saya masuk ke ruangan ujian dengan membawa buku tebal milik perpustakaan. Setelah duduk di kursi sesuai nomor urut, saya membaca buku tersebut sekilas. Karena ingin mendinginkan kepala sebelum menghadapi soal-soal, saya tutup buku tersebut dan saya letakkan di jaring-jaring besi yang ada di bawah kursi.

"Eh, kok ditaruh bawah sih, Tin?" tanya Tsurayya Maknun alias Inun, teman yang duduk di samping saya.

"Nah terus mau ditaruh di mana, Nun?" tanya saya dengan heran.

"Ya jangan ditaruh di bawah pokoknya. Apalagi kamu duduk di atasnya. Itu kan ilmu."

Walaupun belum paham kenapa Inun bisa kukuh sekali, saya menurut. Saya meletakkan buku tersebut di tempat yang lebih pantas menurut Inun. Meskipun sebenarnya saya juga ingin bilang, "Kan di dalamnya sama sekali tidak ada ayat Al-Quran. Kan di dalamnya tidak disebut nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bahkan beberapa tokoh yang ada di dalamnya tidak mengakui adanya Tuhan."

---

Saya masih belum tahu alasan Inun melarang saya hingga akhirnya saya menemukan jawabannya ketika saya menempuh mata kuliah Psikologi Ulayat. Tugas akhir semester mata kuliah ini adalah membuat proposal penelitian psikologi ulayat secara berkelompok. Setelah saling melontarkan ide judul proposal penelitian, akhirnya kami mantap dengan usulan salah satu dari kami, yaitu terkait fenomena ngalap berkah oleh para murid di pondok pesantren (santri). Kala itu saya bertugas untuk mencari tentang konsep berkah guna dicantumkan di bab dua (kajian pustaka). Teman saya memberikan beberapa daftar bacaan yang harus saya pelajari. Salah satunya adalah kitab (buku) Ta'lim Al-Muta'allim. Kitab yang berisi tentang adab pencari ilmu (murid/santri/siswa/mahasiswa) tersebut disusun oleh Imam Burhanul Islam Az-Zarnuji. Hingga akhirnya saya terhenti di fasal empat yang membahas tentang mengagungkan ilmu dan guru. Bab ini secara khusus mengajarkan kepada kita bahwa karena ilmu adalah cahaya Allah Subhanahu Wa Ta’ala—sesuatu yang sangat agung, maka para pencari ilmu harus menjaga adab terhadap guru (penyampai ilmu) dan ilmu itu sendiri sebagai ikhtiar agar ilmu yang diperoleh berkah. Salah satu bentuk adab terhadap ilmu yaitu dengan memuliakan kitab atau buku. Berikut kutipannya:

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم

 العلم وأهله، وتعظيم الأستاذ وتوقيره.

Penting diketahui, seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya.

ومن التعظيم الواجب للعالم أن لا يمد الرجل إلى الكتاب ويضع كتاب التفسير فوق سائر الكتب [تعظيما] ولا يضع شيئا آخر على الكتاب.

Termasuk memuliakan yang harus dilakukan, hendaknya jangan membentangkan kaki ke arah kitab. Kitab tafsir letaknya di atas kitab-kitab lain, dan jangan sampai menaruh sesuatu di atas kitab.
Setelah membaca beberapa babnya, akhirnya saya paham alasan Inun dulu melarang saya meletakkan buku di bawah. Maka sejak saat itu kami berusaha menjaga sikap di depan buku-buku catatan kuliah kami, apalagi buku-buku yang di dalamnya banyak disebutkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaa dan sabda Rasulullah , apalagi buku-buku yang disusun oleh para ulama', apalagi di depan Al-Quranul karim. Dalam menyusunnya, kami berusaha untuk menjaga urutannya. Biasanya buku kuliah kami yang notabene adalah full pemikiran manusia kami letakkan paling bawah, kemudian di atasnya buku-buku agama yang disusun oleh penulis zaman now, kemudian buku-buku yang disusun oleh para ulama', baru kemudian Al-Quran. Pun dalam meletakkannya. Sebisa mungkin tidak meletakkannya hingga sejajar dengan kaki dan pantat. Tidak pula meletakkan benda apapun di atas buku-buku itu. Dalam salah satu majelis di Ulul ‘Azmi, Ustadz Afri Andiarto (semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjaga beliau) juga berpesan kepada kami, jangan sampai meletakkan buku di dalam jok sepeda motor untuk kemudian diduduki. Pun ketika hujan. Jangan menjadikan buku sebagai payung karena nanti akan membuat buku tersebut basah. Namun, peluklah buku tersebut agar tidak terkena hujan.

Mungkin timbul pertanyaan, nah terus kenapa buku psikologi barat yang di dalamnya nyaris tidak membahas tentang ketuhanan juga harus dihormati? Salah satu dosen kami pernah menjelaskan bahwa meskipun kebanyakan teori psikologi ditemukan oleh tokoh non muslim (yang bahkan sebagian akhlaknya tak patut dicontoh), namun sebenarnya temuan mereka tetaplah bagian dari kebesaran Allah SWT. Ilmu agama maupun umum semuanya adalah ilmu milik Allah SWT* sehingga tetap harus dimuliakan, meskipun tentu kedudukannya tidak setinggi ilmu agama**

*Kalaupun dalam psikologi barat ditemukan nilai-nilai yang menyimpang dari ajaran Islam, itu adalah bagian dari keberagaman hasil pemikiran manusia  yg terbatas (kesalahan itu datangnya dari diri manusia itu sendiri, bukan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala). Sungguh, Allah Subhanahu Wa Ta’ala  dan rasul-Nya berlepas diri dari itu dan kebenaran itu hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi, supaya kita selalu dibimbing-Nya, jangan lupa ikut kajian juga ya J
**Sebab ilmu agama bersumber dari firman Allah SWT, sabda Rasulullah SAW, dan penjelasan para ulama'. Begitu pentingnya ilmu agama, sampai ada ilmu agama yang wajib untuk dipelajari, misalnya fiqih bersuci, fiqih sholat, fiqih muamalah. Sementara ilmu umum hampir dari pemikiran manusia yang sangat mungkin tercampuri nafsu duniawi.

Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu -Imam Syafi'i rahimahullah-

Wallahu a'lam bisshawwab

Senin, 13 November 2017

Kala Langit Surabaya Tak Lagi Sama

“Dek, jangan rusak dulu ya. Mbak pengen sidang skripsi sama kamu,” ujarku pada sepatu yang sudah menyedihkan keadaannya.

“Kak, bertahan ya. Kamu yang sudah menemaniku sejak awal kuliah. Jangan rusak dulu ya,” kataku pada laptop yang beberapa kali menunjukkan gejala kurang sehat.

-suatu masa ketika hikmah demi hikmah baru kehidupan terus Allah ajarkan kepada diri yang bodohnya masih sering merasa tak mampu-

Jumat, 06 Oktober 2017

Perkara Baju Kotor

Sebut saja ia Imah (bukan nama sebenarnya). Ia berkuliah di universitas yang sama dengan saya, namun angkatannya satu tahun di bawah saya dan kami berasal dari fakultas yang berbeda. Qodarullah, Allah SWT mempertemukan kami hingga sampai hari ini kami masih sering berkomunikasi. Dengan mengenalnya membuat saya menyaksikan bukti yang begitu gamblang bahwa manusia yang menjaga kedekatan dengan Allah SWT akan menjadi manusia yang tangguh serta dapat memberikan pengaruh baik yang luar biasa untuk sekitarnya tersebab ia memiliki amunisi yang cukup untuk menghadapi berbagai tantangan. Muslimah yang sangat menjaga sholat tahajud dan dhuhanya ini menjadi tempat curhat banyak orang, dari berbagai status dan latarbelakang, mulai dari mahasiswa sampai dosen, mulai dari curhatan tentang pacar sampai perkara rumah tangga. Saran yang diberikannya selalu berlandaskan pada Al-Quran dan Al-Hadis. Hebatnya adalah, sekalipun orang yang diberi saran tersebut masih melakukan apa yang dilarang Allah, namun mereka bisa menerima saran dari Imah dengan lapang dada, bahkan tak jarang tertawa sambil meminta maaf atas kesalahan mereka. Apakah mereka kapok diceramahi? Tidak, mereka bahkan menjadikan Imah sebagai tempat curhat andalan mereka. MaasyaaAllah.
Saya belajar banyak dari Imah. Tentang caranya memahami karakteristik lawan bicara, kesungguhannya dalam menjaga muru’ahnya sebagai muslimah, ketegasannya dalam menyampaikan pendapat, juga hal-hal ‘kecil dalam kesehariannya. Hingga suatu hari saya mendapatkan cerita dari teman Imah tentang percakapan mereka berdua:
            “Im, kamu nggak pernah laundry kah?”
            “…” (kami lupa, Imah menjawab tidak pernah atau nyaris tidak pernah)
            “Lho, kenapa Im?”
            “Selama masih bisa, aku usahakan untuk mencuci sendiri. Soalnya kalau amanah berupa baju gitu aja aku nggak bisa menyelesaikan, gimana dengan amanah-amanah lain yang jauh lebih besar?”
            “…”
            Jleb banget ya? Jadi langsung ingat keranjang pakaian kotor ya? Jadi langsung (lebih) sadar kalau sebenarnya baju kotor hanyalah perkara kecil dalam hidup kita ya? Jadi langsung pengen nyuci baju ya? Hehehe. MaasyaaAllah. Tapi bagi teman-teman yang terpaksa harus menggunakan jasa binatu tersebab hal-hal yang memang tidak bisa dihindari seperti misalnya air kost yang sering mati, jangan berkecil hati ya. Mungkin kita bisa mengganti ‘latihan tanggung jawab kecil’ ini dengan kegiatan yang lain. Maka dari Imah kita belajar untuk tidak meremehkan apapun. Karena siapa tahu dari hal-hal yang nampak sepele itulah Allah SWT ingin mendidik kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. 


071017
Fatin, yang hobi coret-coret

Minggu, 01 Oktober 2017

Klarifikasi Kesalahan Buku

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Pembaca yang terhormat, dengan ini saya selaku penulis buku Setiap Detik Bersama Allah hendak menyampaikan beberapa ralat untuk beberapa kesalahan dalam buku ini:
-        Salah ketik biasa
-        Salah ketik tidak biasa. Banyak kata ‘aku’ berubah menjadi ‘saya’. Misalnya: jiwaku menjadi jiwsaya; mengaku jadi mengsaya Hal ini disebabkan dalam proses editing terjadi find and replace yang kurang teliti.
-        Penggunaan kata aku dan saya secara bersamaan dalam satu paragraf sehingga membuat pembaca kurang nyaman. Hal ini juga disebabkan dalam proses editing terjadi find and replace yang kurang teliti.
-        Ilustrasi tanpa keterangan
Di setiap topik, biasanya saya memberikan sebuah ilustrasi. Ilustrasi tersebut sebenarnya merupakan kompilasi pengalaman banyak orang. Namun, karena di buku tidak ada keterangan dan kata ganti yg digunakan adalah 'aku', jadilah kisah ilustrasi tersebut nampak seperti kisah nyata hidup saya. Padahal tidak._. Hehe
Maha Suci Allah. Segala yang baik datangnya dari Allah SWT, segala yang kurang datangnya dari diri saya sendiri. Semoga segala kekurangan teknis dalam buku ini tidak mengurangi manfaat yang bisa pembaca ambil. Atas pemakluman yang pembaca berikan, saya ucapkan terimakasih J
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Penulis,



Fatin Philia Hikmah




Jumat, 29 September 2017

Getar Cinta, Harap, dan Takut

Bismillah

Dalam dua buku Ustadz Salim yang saya baca, sering saya temui untaian kata 'dalam getar cinta, harap, dan takut' ketika beliau menggambarkan bagaimana kita menghamba di hadapan Allah SWT. Untaian kata tersebut membuat hati saya berdesir tersebab indahnya diksi yang dipilih. Namun, saya tak benar-benar paham. Sempat ada keinginan untuk bertanya terkait hal ini kepada beliau dalam sebuah majelis, namun urung karena saya bingung bagaimana mengungkapkannya.

Hingga akhirnya dalam majelis yang lain beliau menjelaskan bahwa  pada  tiga  ayat al fatihah secara berurutan merupakan ungkapan cinta, harap, dan takut. Adalah ayat 2 sebagai ungkapan cinta. Segala puji bagi  Allah,  Tuhan Semesta Alam. Karena hakikat mencintai adalah mengagungkan yang dicintai. Kemudian ayat ketiga, Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang adalah ungkapan harap. Dilanjut ayat keempat, Yang Menguasai Hari Pembalasan, merupakan ungkapan takut.

Hati saya kembali berdesir. Tersebab sempurna-Nya kuasa dan sifat Zat yang tadi, kini, dan nanti menyaksikan saya. Dengan memuji-Nya, genaplah keyakinan akan hinanya diri. Dengan berharap akan kasih-Nya, sempurnalah pemahaman akan tercukupi diri atas kasih dalam bentuk suka maupun duka. Dengan mengingat bahwa Allah adalah pemilik hari akhir, takutlah diri...menolak dunia, tersebab rindu ingin melihat wajah-Nya nanti dalam ridho lagi diridhoi.

Di kereta, 290917
Oleh perempuan yang menyukai seni dalam bentuk tulisan bebas namun bertanggungjawab, ditaqdirkan Allah mengenal dunia ilmiah bernama psikologi. Masih perlu banyak berbenah.

Rabu, 06 September 2017

Sopir Travel dan Sholat Subuh

Tadi malam, aku ke Banyuwangi naik travel untuk mengantarkan Eyang pulang setelah menjalani pengobatan di Malang. Setelah menjemput beberapa penumpang lainnya, travel melaju meninggalkan Malang sekitar pukul 20.30. Setelah menempuh perjalanan yang panjang lagi padat dengan truk-truk besar, kemudian mengantarkan para penumpang lainnya di tempat tujuan, tinggallah aku, Eyang, dan Pak Sopir beserta temannya. Mobil melaju kencang menembus jalanan sepi menuju tujuanku. Pukul empat lebih, terdengar sayup-sayup suara adzan subuh. Sepanjang jalan desa yang kami lewati nampak bapak-bapak dan ibu-ibu sepuh bahkan anak-anak berjalan menuju masjid/musholla terdekat.

Wah, sudah subuh. Kira-kira Pak Sopir sholat subuh nggak ya? Batinku. Kalau aku dan Eyang yang tidak sedang menyetir sih bisa sholat di mobil dengan niat menghormati waktu kemudian nanti diqodho. Tapi kalau beliau yang sedang menyetir….bagaimana ya?

“Eyang, subuhan.” Saya membangunkan Eyang dengan suara yang agak dikeraskan supaya Pak Sopir mendengar dan tak sungkan jika misal beliau mau izin berhenti di mushola.

Tapi rupanya suara saya masih kalah sama desing mobil yang agak ngebut.

Duuuh…Resah rasanya karena saya merasa beliau juga tanggung jawab saya.

Akhirnya setelah berusaha mengalahkan kesungkanan yang begitu besar (karena pada dasarnya saya ini pendiam dan pemalu) saya mengatakan, “Mas, monggo lho kalau mau berhenti buat sholat.”

Hening…Pak Sopir dan temannya speechless, bingung.

“Maksud saya Masnya mungkin mau sholat…nggak papa lho.”

Dan Pak Sopir dan temannya tertawa…entah apa maknanya. Tapi hingga saya sampai di tujuan dan langit sudah beranjak cerah, kami tidak berhenti di musholla. Setelah saya pikir-pikir...kenapa tadi saya nggak minta langsung berhenti di musholla ya...hmmm

Keresahan yang sama juga saya rasakan ketika sesekali naik travel dari Malang ke Surabaya. Saya mau menawari Pak Sopir untuk berhenti, tapi ada banyak penumpang yang sedang terburu-buru supaya tidak terlambat naik pesawat atau masuk kerja pagi. Ya, Pak Sopir selama kerjanya berada di bawah ‘tekanan’ bos dan juga penumpang (customer). Dengan ritme kerja yang seperti ini, mereka yang dulunya sholat lima waktu mungkin menjadi terbiasa meninggalkan sholat.

Lalu, bagaimana ya solusinya?

Sebuah perjalanan memang menguras waktu dan tenaga. Maka dari itu, Allah memberikan keringanan dalam sholat dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Sehingga manusia bisa tetap bepergian namun tidak meninggalkan kewajiban sholat. Itu artinya, apapun alasannya jangan sampai meninggalkan sholat. Seperti lirik puisi sajadah panjang, bahwa sejatinya kegiatan di luar ‘sholat’ hanyalah interupsi, bukannya sebaliknya, apalagi sampai ditinggalkan. Menyadari agungnya kewajiban sholat, sudah semestinya setiap pihak juga mempertimbangkan ‘bagaimana sholatnya’ dalam setiap kegiatan. Izin untuk sholat semestinya dipandang penting sebagaimana orang bilang ‘izin ke kamar mandi karena udah kebelet banget’ atau ‘izin turun beli kopi karena ngantuk sekali’. Dalam konteks ini yaitu travel, pemilik travel bisa menetapkan kebijakan untuk mengizinkan sopirnya berhenti untuk sholat serta mengatur jam keberangkatan supaya sopir tetap dapat sholat pada waktu yang masanya singkat seperti subuh. Kita sebagai penumpang pun sebisa mungkin harus memberikan ruang bagi Pak Sopir untuk memperoleh haknya untuk sholat. Bagaimanapun penampilan Pak Sopirnya dari luar, cobalah tawari ia untuk berhenti sholat sejenak. Setidaknya kita sudah berusaha untuk ‘mengutik’ hatinya. Jika pada saat itu ia masih belum mau berhenti, mungkin ia bertekad supaya selanjutnya ia sholat tersebab ada orang yang peduli dengan haknya. Wallahu a’lam.
Banyuwangi, 070917

Nb: Monggo kalau ada kritik

Kamis, 31 Agustus 2017

Menakar Kepantasan

Bismillah

Sebentar lagi, buku berjudul Setiap Detik Bersama Allah akan terbit, insyaaAllah. Gimana rasanya? Senang tentunya. Karena akhirnya dengan izin Allah berhasil mengalahkan berbagai bentuk godaan kemalasan hingga akhirnya bisa terkumpul seratus lebih halaman tulisan dan diterima di penerbit mayor. Senang juga karena bisa membuat orangtua senang...banget. Juga karena ternyata bisa menginspirasi sahabat-sahabatku. Sebenarnya kalianlah yang menginspirasi sekaligus mendukungku sampai akhirnya aku bisa. Sungguh, kalian sahabat-sahabat yang hebat. 



Namun jujur, sebenarnya aku juga merasa sangat malu. Apakah seorang Fatin pantas untuk menulis buku dengan judul yang menurutku lumayan berat ini? Fatin yang selama ini sering bikin kalian sebel dan mbatin ini sok sok an nulis buku. Buku agama lagi. Fatin yang banyak belum taunya dari pada taunya. Fatin yang mungkin sering mbikin kalian mikir, "Ealah, ternyata Fatin kayak gitu ta...Nggak sebaik yang aku pikir, nggak sebaik kelihatannya" dan sebagainya. 

Maka di sini izinkan aku mengatakan bahwa...aku tau bahwa dalam diri ini masih begitu banyak lubang. Diri ini sadar betul bahwa banyak sekali teman-teman sesama mahasiswa yang mungkin lebih pantas menulis buku karena kesalihannya. 

Pikiran tersebut semakin sering berkelebat akhir-akhir ini. Namun kemudian aku kembali berpikir...kalau aku kayak gitu, terus apa yang bisa aku persembahkan ke Allah nanti? Udah ilmu sedikit banget, nggak pernah dibagi pula. Udah banyak dosa...nggak pernah berusaha untuk memaksimalkan potensi yang Allah berikan pula. Udah dikasih kekuatan dan kesempatan...kok nggak disyukuri...Maka dari itu, akhirnya aku memilih untuk bangkit, memberikan semua dari sedikit yang aku punya. Semoga buku yang akan terbit ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua ya. Sementara dari seorang Fatin, silakan ambil yang baik dan tolong ingatkan jika Fatin berbuat buruk. Fatin akan senang sekali kalau teman-teman mau mengingatkan di kala Fatin salah :)

Mungkin tulisan Ustadz Salim A. Fillah berikut bisa menjadi penyemangat untuk kita semua:

".... Lagi-lagi, saya harus berpikir lama ketika diminta untuk menulis buku ini. Pantaskah?
Ini bukan soal pantas tidak pantas, kata seorang rekan menasehati. Ini soal tanggungjawab di hadapan Allah atas terbingungkannya masyarakat oleh berbagai bacaan, buku, maupun guliran wacana yang marak bertebaran. Ya, logika berpikir massa rusak, pandangannya tentang nilai kacau, opini-opininya rancu, dan cara menyikapi realita tak lagi sehat. Hanya karena tulisan. Tulisan yang mengatasnamakan 'fakta berbicara', 'inilah kenyataan di lapangan', 'apa mau dikata beginilah realitanya' dan 'jangan bawa-bawa agama,' sekadar untuk menjaja kemurkaan Allah.

Lebih lanjut, tulis beliau, "Masih banyak orang shalih, lanjut beliau. Tapi, tak banyak di antara mereka yang memperjuangkan agar keshalihan menjadi jamak. Banyak yang sekedar mencukupkan diri bershalih ria di dalam mihrabnya dan tak merasa mengganggu dan terganggu atas polah orang lain. Lalu siapa siapa yang akan menjadi golongan terselamatkan?"

"Jadi? Sederhana. Tetaplah menulis tentang keagungan dan kemuliaan Islam, yang mungkin, oleh mata-mata putus asa dipandang sebagai idealisme tanpa bukti.

Sulit mungkin bagi yang bermental ayam negeri untuk bisa hidup dengan standar-standar mereka. Tetapi, saya akan tetap menuliskannya. Karena, demi Allah, masih banyak akal-akal sehat yang siap menerima kebenaran. Karena, demi Allah, saya tahu pasti: dalam renung kejujuran yang paling dalam, semua manusia merindukannya."

Rabu, 31 Mei 2017

LDK Proker Oriented

Bismillah

Satu dari sekian banyak masalah klasik sebuah organisasi adalah berjalannya organisasi yang dinilai hanya berorientasi pada program kerja alias proker oriented. Lembaga Dakwah Kampus (LDK) pun mengalaminya. Beberapa kawan dari LDK maupun LDF pernah menceritakan hal tersebut kepada saya dengan menunjukkan mimik muka kecewa. Artinya, sekalipun tidak bisa dipungkiri bahwa yang namanya organisasi mestilah terdiri dari proker-proker dan biasanya berhasil/tidaknya organisasi itu dinilai dari prokernya, namun ternyata anggota yang bergerak di dalamnya tidak ingin jika proker dijadikan tujuan, nyawa, dan tolok ukur bagi organisasi. Mereka menginginkan lebih. Tapi apa?

Berdasarkan keluhan kawan-kawan tentang perkara ini, aku mengambil kesimpulan bahwa mereka memaknai proker oriented sebagai suatu sifat dari organisasi yang hanya kerja, kerja, dan kerja namun tidak membuat anggotanya merasa bermakna ketika melakukannya. Sekalipun proker tersebut melibatkan seluruh anggota, tidak membuat mereka semakin erat. Meski proker itu mengusung tema yang nampak begitu wah dan menjunjung semangat akan cita-cita yang tinggi, tapi jangan-jangan mereka sendiri tidak tahu urgensi dari tema itu. Karena apa? Banyak faktor. Mungkin karena kita belum berusaha untuk bertanya ‘untuk apa saya melakukan ini’ untuk kemudian membulatkan niat. Akibatnya, dalam menjalankan proker yang sebenarnya mengandung amanah agung itu, kita justru merasa diperlakukan seperti mesin.  

Tapi gambaran proker oriented sebagai kurangnya pemaknaan masih abstrak dan belum membuat saya menemukan akar masalahnya. Hingga akhirnya beberapa hari lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman mengenai salah satu project kami yang mandeg, bahkan orang-orang yang terlibat memilih diam—bukan karena mereka tidak peduli, mungkin sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Dari diskusi tersebut, saya terpelatuk sebab kalimatnya ini:

Problemnya mendasar. Kalau aku nyebutnya kita itu aktivis dakwah proker. Jadi ikut kajian kalau proker. Ikut ngaji kalau ada proker, kalau nggak ada proker ya nggak ikut apa-apa.

Saya setuju dengan teman saya (monggo kalau ada yang kurang setuju) dan berdasarkan apa yang saya lihat, alami, dan rasakan, itu merupakan salah satu akar mengapa banyak anggota yang merasa proker oriented. Ketimbang mengajak teman untuk meng-upgrade diri dengan aktif mengikuti kajian dan organisasi di luar, kita lebih sering fokus mengevaluasi anggota-anggota yang hanya datang pada kajian departemennya sendiri misalnya. Lalu kita menganggap bahwa anggota tersebut kurang mendukung departemen lain. Padahal, tahu apa kita tentang apa yang dilakukannya? Jika ia memang lebih membutuhkan materi dari kajian yang dibahas di tempat lain, dan selama tidak ada tanggung jawab yang harus dia tunaikan di kajian organisasi, mengapa harus memaksanya? Meskipun pada titik tertentu memang harus disadari bahwa terdapat program kerja yang semestinya dihadiri oleh semua anggota untuk pengembangan internal dan menguatkan ukhuwah bagi berjalannya jama’ahh dakwah—ingat, yang ingin dikuatkan adalah dakwah secara berjama’ahnya, bukan semata-mata supaya proker berjalan!

Lalu, apa yang harus dilakukan? Sebenarnya sebagian besar dari kita telah melakukan usaha untuk terhindar dari ‘kerja yang tak bermakna’ alias proker oriented tadi. Misalnya dengan mengikuti program-program upgrading diri yang sesuai dengan diri masing-masing seperti ngaji kitab dan halaqah. Dari majelis-majelis tersebutlah kita bisa terus diingatkan tentang memurnikan langkah awal (merumuskan niat), menjalani proses (menjaga niat), dan merayakan keberhasilan (kembali ke niat). Kok ngomongin niat terus, buat apa? Karena insya Allah niat yang kuat bisa menjaga kita untuk tangguh dalam jama’ah dakwah yang tentunya tidak akan luput dari masalah. Sementara itu, pihak-pihak yang secara struktur organisasi memiliki pengaruh (misalnya: anggota Badan Pengurus Harian dan para kepala divisi) haruslah menguatkan dan membangun pondasi organisasi dengan semangat “mari kita saling menguatkan untuk dakwah secara berjama’ah”, bukan hanya sekedar “mari kita sukseskan program-program kerja kepengurusan tahun ini”. Jika organisasi masih dibangun dengan semangat yang kedua, mungkin seluruh anggota perlu berkumpul untuk bersama-sama membuka AD-ART di bagian visi misi.

Pada akhirnya, kita sampai pada pertanyaan, yang berorientasi pada proker itu organisasinya atau justru anggotanya? Bukankah biasanya kita mengoar-ngoarkan BOLEH LELAH, ASAL LILLAH. Lillah kan? Berorientasi pada ridho Allah kan?

Allahu A'lam. Semoga ada kebaikan dalam tulisan ini. Aku memang tak sebaik penampilanku, tidak juga sebaik tulisanku. Namun aku juga tidaklah seburuk yang kau pikirkan.
Sby, 1 Juni 2017

7: 30 AM