Rabu, 21 Juni 2017

Mahasiswa Memilih: Tinggal di Kos atau Ma’had/Pondok?

--------------------
"Dek, fix habis ini mau tinggal di pondok?" tanyaku pada adik, yang saat ini juga sedang kuliah di kampus yang sama sepertiku.

"Iya Mbak. Kalau di kost banyak gangguannya. Kegiatan nggak teratur. Jauh banget dibandingin kalau waktu di pondok."

"Iya, banget," sahutku setuju.

"Kenapa nggak kepikiran dari dulu ya, Mbak?" :")
--------------------
Terhitung sejak 3 Juni 2017 (8 Ramadhan 1438 H), adik saya mengikuti program pondok ramadhan yang diadakan oleh salah satu pondok pesantren di Surabaya selama dua minggu. Sebelumnya dia sempat mengajak saya juga. Namun entahlah, saya yang sebenarnya sudah memahami tentang kebaikan pondok pesantren merasa enggan. Pertimbangan-pertimbangan sepele membuat kaki ini begitu berat untuk melangkah.

Sementara adik saya bisa memanfaatkan ramadhannya dengan baik di pondok, saya yang sedang berjibaku dengan persiapan suatu acara besar sehingga lebih sulit untuk istiqomah hadir di majels ilmu, ditambah lagi sedang libur berpuasa justru mengalami kekacauan. Jam tidur yang terlalu panjang dan jadwal kajian yang tidak beraturan membuat mood saya tidak karu-karuan. Akibatnya, saya menjadi lebih malas sehingga banyak tugas yang terbengkalai, dan yang lebih menyedihkan, sepertinya dibandingkan ramadhan-ramadhan sebelumnya, kemarn adalah hari-hari ramadhan dimana saya sangat amat lalai.

Di tengah perasaan saya yang merasa tidak berarti di bulan suci ini, saya mendapatkan cerita dari adik saya tentang hikmah-hikmah yang dia dapatkan dari pondok. Misalnya kesederhanaan makan di pondok mengingatkannya bahwa hidup hanya sebentar, fokuslah pada hal-hal yang dapat membahagiakan akhiratmu.

Selain itu, adik juga belajar tentang keseimbangan hidup dari teman-temannya di pondok yang juga mahasiswa tapi seimbang antara bacaan untuk kuliah dengan bacaan-bacaan yang dapat memperkaya khazanah islamiyahnya, antara waktu belajar dan mengaji. Selepas tarawih dan kajian, mereka segera mencari tempat yang pw untuk belajar. Lebih menakjubkan lagi, ada di antara mereka yang sebenarnya asli Surabaya. Namun semangat menuntut ilmu membuatnya rela untuk hidup secara lebih sederhana di pondok. Kemudian saya berkaca pada diri saya sendiri yang sedang berada pada titik bawah. Kalau diakumulasikan, sepertinya masih banyak sekali waktu saya dalam sehari yang berlalu dengan sia-sia.
 
Saya nggak bisa kayak gini terus, pikir saya. Saya harus melawan pertimbangan-pertimbangan tidak penting itu. Kalau saya terus bertahan di zona nyaman, lalu bekal apa yang bisa saya persembahkan di hadapan Allah kelak? Saya harus benar-benar berusaha agar setiap detik dalam hidup saya bernilai ibadah. Kalau biasa-biasa aja kayak gini, gimana mau mendidik anak-anak nantinya untuk menjadi generasi yang gemilang? Maka hari itu, saya mengatakan kepada diri saya, saya harus ikut pondok ramadhan bersama adik. Iya, meskipun program pondok ramadhan tersebut tinggal beberapa hari, setidaknya saya sudah mencoba supaya ke depannya semakin mantap untuk tinggal di pondok sembari kuliah.

Setelah saya meminta restu ayah-bunda di rumah, dan adik meminta izin kepada abi-ummi di pondok untuk 'menyusupkan' mbaknya ini, hari rabu malam ba'da tarawih saya dijemput adik untuk ke pondok. Sesampainya di sana, saya langsung diajak oleh adik untuk menemui ummi. Pada pertemuan pertama itu, ummi menegaskan kepada saya untuk bersungguh-sungguh . Meskipun mungkin saya tidak bisa memenuhi target hafalan seperti peserta pondok ramadhan yang sudah ikut dari awal, yang penting ada kemauan untuk menghafal.

Nah, saat itu ummi juga menanyakan tentang kosan kami. Ketika tau bahwa kami memiliki kamar masing-masing di kos, ummi kaget dan berkomentar yang kurang lebih bermakna "hidup kok enak banget ya". Meskipun saya sadar bahwa itu adalah bentuk kritik, namun itu justru menguatkan tekad saya untuk menyelami kesederhanaan hidup di pondok pesantren.  Saya semakin yakin, insya Allah ini tempat yang tepat.

Secara sosial, penyusup ini disambut dengan sangat hangat. Meskipun saya adalah manusia yang tiba-tiba muncul di antara mereka, saya merasa sudah menjadi bagian dari keluarga besar ini. Indahnya ukhuwah semakin terasa karena kami tidur berbanyak dalam satu kamar serta makan sahur dan buka dari satu tempeh.              

 
Secara rutinitas (meskipun saya tidak terlalu lama di pondok karena kuliah dan hal lain), saya suka! Saya jadi nggak kebanyakan tidur dan waktu diisi dengan kegiatan yang menghidupkan jiwa. Selepas tarawih, kami mengikuti kajian di musholla yang diisi oleh Abi sampai sekitar pukul 21.30. Setelah itu, waktu istirahat bisa digunakan untuk belajar dsb. Pukul 02.30 kami harus bangun untuk tahajud, dilanjut mengikuti kajian oleh Abi pukul 03.15 sampai sekitar pukul 03.45, untuk kemudian kami makan sahur. Ba'da subuh, panitia biasanya mengadakan kegiatan seperti kajian atau games. Lelah? Jelas. Namun, lebih baik lelah dalam kebaikan daripada berkutat dengan kesia-siaan yang membuat lelah. Kebersamaan meringankan lelah itu. Waktu-waktu yang biasanya adalah waktu perjuangan menahan kantuk sendiri, menjadi dilakukan bersama-sama dan diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Meskipun saya hanya mengikuti kegiatan selama lima hari (itupun tidak full seharian), namun saya sudah merasakan perbedaan yang sangat signifikan itu. Saya merasa lebih dekat dengan Allah, merasa lebih hidup dan bermakna.

Oleh karena itu, lewat tulisan ini saya melecut diri saya sendiri dan mengajak pembaca untuk berani berkorban—keluar dari zona nyaman untuk kehidupan yang lebih bermanfaat. Kita nggak bisa jadi luar biasa, jika usaha yang kita lakukan ya biasa-biasa aja. Minimal, mari menggunakan waktu dengan sebijak mungkin.

Nah, jika teman-teman mahasiswa ingin tinggal di pondok, cobalah minta pendapat mereka yang lebih paham tentang hal-hal yang harus dipertimbangkan sebelum memilih pondok. Jangan lupa juga minta restu orangtua ya dan ceritakan dengan jelas bagaimana pondok yang ingin teman-teman tempati. Namun, jika teman-teman masih berada pada titik 'nggak tertarik mondok sanma sekali', cobalah cari tau kisah2 mahasiswa keren yang tinggal di pondok, sambil terus berdoa semoga Allah membukakan pintu hidayah dan taufik-Nya. Semoga kesungguhan kita dicatat oleh Allah sebagai kebaikan yang dapat menjaga kita dari segala yang sia-sia. 

Monggo kalau mau berbagi bisa di kolom komentar :)

Juni, 2017