Rabu, 28 Desember 2016

Evaluasi 37 Hari: Antara Ekspektasi dan Kenyataan

Tujuh sampai delapan tahun ke belakang adalah masa ketika aku banyak meluangkan waktu untuk duduk di depan laptop, merangkai kata-kata. Aku bermimpi, kata-kata itu akhirnya dapat dicetak dalam bentuk buku, kemudian dipajang di toko-toko buku, bersanding dengan novel-novel remaja. 7 tahun yang lalu, aku belum paham bahwa tulisan dapat membawa pengaruh besar kepada pembacanya. Satu hal yang aku tahu, aku sangat suka menulis dan aku ingin terkenal. Maka yang aku tulis saat itu hanyalah fiksi romantis ala ala anak yang baru saja menjelma sebagai remaja.

Namun, dokumen word yang telah berhalaman-halaman itu hanya berakhir sebagai arsip pribadi, yang penulisnya sendiri pun enggan untuk membuka apalagi membacanya. Aku merasa tidak pantas menjadi penulis. Diksi yang ku pilih biasa sekali dan alur yang ku ciptakan sangat mudah ditebak. Akhirnya, aku berusaha melupakan mimpiku, lebih memilih mengisi waktu seperti anak SMP kebanyakan: jalan-jalan ke mall, mampir ke toko-toko aksesoris, dan makan es krim 5000an.

Apakah aku benar-benar melupakannya? Tentu saja tidak. Entah sudah berapa kali aku membuka dokumen baru, menciptakan kisah yang baru. Namun akhirnya masih sama, kisah yang ku tulis menggantung sampai halaman ke sekian belas.

Ketika menjadi mahasiswa, pemahamanku yang baru sepotong-sepotong ku dapat dari SMA kemudian menjadi genap. Bahwa lewat tulisan, aku dapat menyebarkan kebaikan seluas-luasnya. Dengan menulis, aku dapat mengaktualisasikan diriku. Berbekal pemahaman baru tersebut, apalagi semangat sebagai mahasiswa semester awal, aku pun bertekad untuk menulis untuk buku. Aku sangat yakin, bahwa tulisan ini tidak akan menggantung lagi.

Setahun lebih berlalu sejak bulan yang aku tetapkan sebagai deadline menyelesaikan tulisan si calon buku. Aku bahkan lupa pernah menyimpan tulisan tersebut di mana.

Sampai akhirnya, aku membaca sebuah tulisan yang dibagikan melalui sebuah akun LINE resmi Kemuslimahan UNPAD berikut:


[SUDAH SAMPAI MANA PENGARUH KITA?]

"Bekerja dalam keabadian." 
Adalah kalimat yang sering kita dengar dan baca dari beberapa penulis yang menjadikan kalimat ini sebagai senjata ampuh. 

Kita tidak pernah mengetahui usia yang akan berhenti di jam, menit, dan detik keberapa. Sekarang, pertanyaannya adalah:

Sudah sampai mana pengaruh kita?
Sedangkan, tujuan menulis adalah menyuntik ide-ide yang akan menemus ribuan kepala dan mengubah cara pandang seseorang. 

Sudah sampai mana pengaruh kita?
Sedangkan, inspirasi mudah digapai dan fasilitas menulis sudah tersedia.

Sudah sampai mana pengaruh kita?
Sedangkan, minat baca anak-anak Indonesia masih sangat perlu ditumbuhkan, games-games menyita waktu perlu dikurangi, dan anak berusia 5 tahun pun sudah lihai menggunakan gawai.

Sudah sampai mana pengaruh kita?
Sedangkan, buku-buku yang tidak sesuai konten isi yang dibutuhkan sempat merajalela dan masyarakat Indonesia perlu buku-buku bergizi.

Sudah sampai mana pengaruh kita?
Sedangkan, media sosial bisa kita mainkan sesuka hati. Kita memiliki akun sendiri dan kita lihat setiap hari. Bahkan, tulisannya menentukan bagaimana "isi" pribadi ini.

Sudah sampai mana pengaruh kita?
Sedangkan, scroll timeline, melamun, dan kongkow-kongkow adalah kegiatan membuang waktu yang masih belum bisa dihilangkan.

Sudah sampai mana pengaruh kita?
Ketika buku-buku, jurnal, dan bacaan motivasi tak lagi menjadi sesuatu yang menarik dan mendiamkan diri duduk tenang berjam-jam.

Sadarilah, bahwa setiap kalimat-kalimat kebaikan yang kita sebar mampu diaplikasikan pembaca dalam kehidupannya, apa yang terjadi? 
1 pahala untuk pembaca, 1 pahala untuk kita. 

Bahwa, menulis adalah indah. Maka bayangkan, apa rasanya kebaikan. Menulis itu abadi. Maka bayangkan, apa rasanya dikenang. 

Kita tidak pernah tahu rasanya dikenang, selain kita menulis sejarah, bukan? Bahwa, peradaban ini masih membutuhkan sejarah. Sejarah tentang apa-apa yang menjadi pengaruh bagi orang lain. Sejarah tentang amal-amal yang mengalir dan digenangi benih-benih ilmu. Lagi-lagi, hari ini kita belajar bagaimana hidup ini perlu bermanfaat. 

Halo, anak muda! 
Itu semua adalah pertanyaan yang diajukan untuk diri kita sendiri.

Pilihannya hanya 2:
Tetap jadi penonton atau ambil bagian dari ranah ini?


Salam,
Tiara Rizkita
Pelajar Sekolah Tim Jasmine 

#askTehJasmine
Be #PowerfulMuslimah



Aku sangat tersindir oleh tulisan tersebut. Selain karena sampai sekarang bukuku belum ada di toko buku, aku juga merasa bahwa selama bertahun tahun dalam hidupku, aku belum pernah membuat sebuah perubahan yang berarti untuk kebaikan umat. Jika aku tiada, tidak ada kebaikan yang benar-benar membekas untuk masyarakat luas.

Maka hari itu, 23 November 2016, aku kembali mengumpulkan niatku. Aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa dalam sehari aku akan menulis sebanyak tiga halaman, maka pada 23 Desember 2016, si calon buku sudah 90 halaman. Guna mencapai target tersebut, aku berjanji untuk puasa ikut lomba nulis.


Sebulan lebih sejak hari itu, alhamdulillah sekarang si bakal buku sudah mencapai 40 halaman lebih sedikit. Aku sungguh-sungguh berterimakasih karena 40 halaman adalah rekorku dalam menulis. Tetapi tentunya, 40 halaman masih sangat jauh jika dibandingkan dengan target yang aku tetapkan di awal. Berikut merupakan evaluasi diriku, yang semoga bisa menjadi evaluasi bagi kita semua:

1. Masih banyak waktu yang aku sia-siakan. Dalam sehari, aku bisa menghabiskan banyak waktu untuk scroll timeline berkali-kali, seolah-olah nganggur, padahal selain tagetku tadi, banyak tugas lain yang menanti untuk diselesaikan.

2. Masih sering menunda-nunda. Iya, intinya gitu sih. Kurang fokus. Dikit2 buka hp, mau ngapa2in buka hp. Akhirnya bosen dan capek tanpa alasan yang jelas. Jadinya di tugas kuliah juga belum bisa memberikan kontribusi yang benar-benar maksimal.

3. Masih belum sebanding antara mimpi dan usaha.

Mungkin ini adalah gunung es yang sedang dialami oleh banyak orang. Kita tahu bahwa kita kurang produktif, banyak waktu yang kita sia-siakan, namun tetap saja bertahan dan belum sungguh-sungguh dalam melawan kemalasan tersebut.