Jumat, 21 Oktober 2016

Sosok (2): Kepemimpinan itu Diberikan, Bukan Diminta

Panggil saja dia Rahmi (bukan nama sebenarnya). Seorang mahasiswi di Universitas Airlangga Surabaya. Bagi teman-teman satu angkatan di jurusannya, dia adalah sosok yang begitu baik. Kepiawaiannya dalam mendengarkan keluh kesah, memberikan saran dan motivasi, serta ketulusannya dalam menolong, menjadikan dia layaknya sosok ibu, kakak, dan sahabat. Maka tak mengherankan, saat sekarang memasuki masa pencalonan Ketua Himpunan Mahasiswa (KAHIMA) Jurusan, ia digadang-gadang sebagai calon tunggal. Bujuk rayu sampai tekanan menghujaninya, hanya untuk satu hal, memohon ia agar mencalonkan diri. Namun, Rahmi seolah bergeming. Sampai hari ini, belum juga terdengar kabar pencalonan diri tersebut.

Kepemimpinan itu bukan diminta, namun diberikan. Selain itu, menjadi pemimpin pada hakikatnya bukanlah perkara yang ‘menyenangkan’, tetapi justru ‘berat’, karena setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Rahmi mengingatkanku pada kisah para khalifah yang benar-benar menganggap jabatan pemimpin sebagai suatu amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Hal ini sejalan dengan dua hadis berikut:

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah subhanahu wa wa’ala dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu niscaya dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7146)

“Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Sahih, HR. Al-Bukhari no. 7148)

Namun, bukankah Rahmi telah ‘dipilih’ oleh teman-temannya melalui bujukan bahkan desakan yang cukup menekan? Ketika aku menanyakan hal tersebut kepadanya, ia memberikan jawaban yang intinya adalah banyaknya permintaan yang datang kepadanya membuatnya akhirnya harus mempertimbangkan untuk mencalonkan. Ia tak mau mengambil keputusan seorang diri, sambil menata niat, ia terus menyebutkan kebingungannya ini di setiap malam terakhirnya.
Masya Allah.

Sby, 211016