Selasa, 26 Juli 2016

'Cara Mudah' Masuk Surga

Anas bin Malik berkata, “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Akan muncul kepada kalian seorang lelaki calon penghuni surga.’ Maka muncullah seorang lelaki dari kalangan Anshar. Dari jenggotnya masih menetes air dari bekas wudhunya. Dia menjinjing terompahnya di tangan kiri. Lelaki itu melakukan hal serupa sebanyak tiga kali dalam tiga hari berturut-turut. Pada hari ketiga, setelah Nabi beranjak, Abdulillah bin Amr bin ‘Ash mengikuti lelaki itu dan meminta izin untuk menginap di rumahnya selama 3 malam, dan lelaki itu pun mengizinkannya.”

Anas melanjutkan, “Abdullah telah bercerita bahwa selama tiga malam ia menginap di rumah lelaki itu, ternyata ia tidak melihat lelaki itu melakukan shalat malam walaupun sekali saja. Akan tetapi, bila terjaga dari tidurnya dan mengubah posisi tidurnya di atas peraduan, dia selalu berdzikir menyebut nama Allah dan bertakbir sampai waktu ia bangun untuk menunaikan shalat subuh. 

Abdullah mengatakan, ‘Hanya saja, saya tidak pernah mendengarnya mengucapkan apa pun, kecuali kebaikan belaka. Setelah tiga malam berlalu, aku hampir saja meremehkan amal perbuatannya. Lalu aku berkata, hai Hamba Allah, aku telah mendengar Rasulullah bersabda berkenaan denganmu bahwa akan muncul kepada kalian seorang lelaki calon penghuni surga, lalu muncullah engkau yang hal ini terjadi sebanyak tiga kali selama tiga hari berturut-turut. Aku pun ingin menginap di rumahmu untuk melihat apa saja amalanmu agar aku dapat mengikuti jejakmu. Akan tetapi, ternyata ku lihat engkau tidak melakukan banyak amal seperti yang kuperkirakan sebelumnya. Karenanya, apakah yang menyebabkan engkau dapat mencapai kedudukan mulia seperti yang digambarkan oleh Rasulullah?

Lelaki itu menjawab, ‘Tiada lain yang kulakukan hanyalah seperti apa yang telah kamu lihat. Hanya saja, tidak pernah terbesit dalam hatiku perasaan curiga terhadap seorang pun dari kalangan kaum muslimin dan tidak pula rasa iri terhadap seseorang karena kebaikan yang telah diberikan Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr bin ‘Ash pun mengatakan, “Inilah penyebab yang mengantarkanmu hingga dapat meraihnya, dan itulah yang belum mampu kami lakukan.”*

*Al-Ahadits Al Mukhtarah, Al-Maqdisi: VII/187, dan ia mengatakan bahwa sanadnya shahih

รจ Riwayat di atas saya copy langsung dari buku Islamic Parenting: Pendidikan Anak Metode Nabi SAW karya Syaikh Jamal Abdurrahman.


Jujur, membaca kisah tersebut dari buku karya Syaikh Jamal Abdurrahman tersebut membuat saya menghela napas. Saya belajar hakikat kebahagiaan dan ketenangan yang nampak sederhana namun tak mudah untuk melakukannya, yaitu membersihkan hati dari prasangka dan senantiasa meliputi kehidupan dengan mengingat Allah. Bahkan membayangkan sosok laki-laki calon penghuni surga tersebut saja sudah membuat saya merasa tenang karena kesejukan pribadinya sekaligus tertantang untuk senantiasa berprasangka baik terhadap sesama manusia, dan tentunya Allah SWT, serta menghiasi hari-hari hanya dengan perkataan yang bermanfaat.

Surabaya, 26 Juli 2016