Jumat, 26 Agustus 2016

Tengok Rumah Yuk!

“Oh, kamu tiap minggu pulang, Tin?” (ekspresi wajah nggak percaya)

“Weekend kemarin kamu sudah pulang kan, terus weekend ini mau pulang lagi?” (ekspresi wajah heran)

“Kalau tiap weekend pulang gitu, bukannya malah capek di jalan ya?” (ekspresi wajah heran tambah nggak percaya)

Tiga pertanyaan tersebut dan semacamnya, sambil tersenyum yakin aku menjawab, “Iya.”

Aku memang tipe mahasiswa dengan tingkat kesibukan biasa-biasa saja, ikut kegiatan organisasi maupun magang secukupnya. Biasanya, nggak pulang kampung satu bulan itu sudah maksimal. Sering juga 2 minggu berturut-turut selalu bisa balik ke rumah waktu akhir pekan. Jadi tentunya, jangan bandingkan aku dengan mahasiswa yang memang memilih (atau dipilih (?)) untuk ekstra sibuk, sehingga tidak dapat meluangkan waktu untuk pulang kampung di akhir pekan. Namun, aku sedang tidak ingin berdebat tentang tipe-tipe mahasiswa dan mana yang lebih baik, karena pada tulisan kali ini aku ingin menyoroti perspektif orangtua yang putra dan putrinya merantau.

Bunda pernah bilang ke aku, kalau kuliah (sekaligus merantau) merupakan perjuangan, salah satunya perjuangan hati. Bukan hanya bagi si anak yang jadi pejuang di kampus, namun juga bagi orangtua yang harus menghadapi fase kehidupan ketika rumah yang awalnya ramai dengan canda dan juga pertengkaran kecil anak-anak, namun akhirnya menjadi lebih sepi. Menurut bunda, melepas anak pergi dari rumah, sekalipun di kota yang dekat, merupakan hal yang berat. Sebagai orangtua, ayah dan bunda sebenarnya ingin setiap hari bersama-sama dengan anak, makan, nonton TV, bercanda, berdiskusi, dan beribadah semuanya bersama. Namun, untuk memenuhi kewajiban menuntut ilmu sebagai hamba Allah serta meraih masa depan yang lebih baik, baik anak maupun orangtua harus saling rela dan tentunya mendoakan.

Bunda pun pernah cerita kalau waktu zaman bunda masih merantau kuliah dulu, Mbah Dok (ibunya bunda) sering duduk diam di depan rumah. Ketika ada yang bertanya, Mbah Dok menjawab, “Mungkin saja Ragil (Bunda) nanti pulang.”

Senada dengan penuturan Bunda, Ayah pernah mengaku bahwa setelah putri-putrinya merantau, ia baru bisa turut merasakan saat setiap sebelum lebaran, almarhumah Eyang Putri senantiasa menanyakan, “Kapan pulang?”

Terakhir, Kamis siang kemarin, aku menerima SMS dari Bunda:
B: Tien, jadi pulang hari ini?
F: Insya Allah Bun…kenapa?
B: Ga apa-apa. Senang saja kalau anak akan pulang

Ya…pada semester-semester awal aku pernah mengalami fase ketika aku berpikir, ngapain pulang kalau cuma sebentar, malah bikin capek. Tapi semakin ke sini, aku semakin sadar, bahwa pulang kampung bukan hanya mengistirahatkan diri sendiri, namun lebih krusial lagi, yaitu mengunjungi orangtua. Kalau kita sudah menata niat seperti itu, insya Allah capeknya bisa berkurang. Selama ini kebanyakan dari kita sibuk membicarakan ‘kapan nikah?’, namun di sisi lain kita sering melupakan kewajiban yang ada di depan mata, yaitu menjaga dan berbakti kepada orangtua. Karena aku percaya, kalau kewajiban kepada orangtua saja dilalaikan, maka tanggungjawab di tempat lain perlu dipertanyakan!
Malang, 26 Agustus 2016


Minggu, 21 Agustus 2016

Ask.fm

Jadi gini teman-teman...pada postingan kali ini, aku mau cerita kalau aku punya akun ask fm yang sudah lama tak terurus. Baiklah, tak terurus untuk konteks ask fm itu berarti 'nggak ada yang tanya'. Hehehhe. Mungkin karena emang ga ada yang pingin tanya ke aku, atau mungkin juga karena aku gak pernah promosi ketika ask fm sedang booming. Well, silakan untuk kalian yang ingin bertanya-tanya padaku: ask.fm/fatinphilia :)

Sby, 220816

Sabtu, 20 Agustus 2016

Jangan Pedulikan!

Saat perjalanan dari Surabaya ke Malang hari kamis kmarin, aku ditemani dengan buku fantasi karya Tere Liye yang berjudul Matahari. Hampir di penghujung cerita, aku tertegun membaca kata-kata salah satu tokohnya yang bernama Ali.

'Aku hanya senang melakukannya. Jadi meskipun kamu menertawakanku, tidak percaya misalnya, aku tetap melakukannya. Meskipun satu sekolah menganggapku biang kerok, guru-guru tidak menyukaiku, tapi aku tahu persis, aku bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan orang lain.'

Entahlah, aku merasakan bahwa kalimat-kalimat itu menyemangatiku, setidaknya untuk lurus dan yakin pada apa yang aku yakini, tak peduli bagaimana orang lain menilaiku.

Mlg, 200816

Kamis, 18 Agustus 2016

Persimpangan Jalan

Ketika kau berada di persimpangan jalan, yang mengharuskanmu untuk memilih; tetap tinggal atau pergi, dasar apakah yang kau jadikan pegangan? Kebahagiaan sesaatmu, atau kemuliaan dirimu di mata Tuhanmu?

Sby, 180816

Rabu, 17 Agustus 2016

Random #1

Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin aku tuliskan, sampai akhirnya aku bingung harus mulai dari mana. Aku ingin mengungkapkan tentang betapa aku sangat merindukan rumah, meskipun aku baru kurang lebih 2 hari di kota rantau ini. Aku juga ingin bercerita, mengenang hikmah-hikmah yang aku dapatkan minggu ini, sampai akhirnya aku bisa menerima bahwa 'menikah membutuhkan banyak persiapan, tidak bisa jika hanya mengandalkan hati yang lagi baper sehingga muncul ilusi perasaan siap'. Aku juga ingin berbagi keresahan tentang...betapa akhir-akhir ini aku bingung harus bertanya kepada siapa, jika aku sedang bingung tentang fiqih. Tidak semua orang benar-benar paham, dan yang benar-benar paham belum tentu menyambut baik pertanyaan dan keingintahuanku. Aku juga sedang teringat seseorang yang entah sekarang berada di mana. Sudahlah. Aku tidak boleh berharap kepada seseorang, namun berharap hanya kepada Yang Maha Esa. 

Sby, 170816