Senin, 30 November 2015

Akademik + organisasi =lelah ?

Kampus dengan segala hiruk pikuk yang ada di dalamnya mulai membuatku semakin merasa lelah. Setidaknya sampai detik ini (aku berharap bahwa perasaan lelah ini tidak berkepanjangan), aku merasa tidak bernyawa dan bergairah di kelas. Berbeda dengan hari-hari sebelum UTS ketika aku dapat begitu bersemangat mendengarkan penjelasan dosen untuk kemudian mencatatnya, mengajukan pertanyaan, bahwa mengerjakan tugas-tugas di semester tiga yang jauh lebih tidak sederhana dibandingan dengan dua semester sebelumnya. Hal ini, entah karena efek dua minggu ditinggal konferensi ke China oleh sebagian besar dosen atau karena memang beginilah kondisi psikologis mahasiswa semester tiga, yang jelas perasaan lelah itu sendiri membuatku tak tahan. Aku ingin kembali menjadi Fatin yang bersemangat menyambut hari, sarapan sambil tersenyum, dan berjalan ke kampus dengan ceria. Ah, mungkin di antara orang-orang yang kebetulan membaca postingan ini dapat memberikan komentar tentang bagaimana cara agar aku dapat kembali bersemangat.

Salah satu faktor yang menyebabkan perasaan lelah itu masih bertahan hingga kini adalah ketika aku merasa ‘mengapa semua orang menjadi begitu sibuk?’. Ketika semester satu atau dua dulu, meskipun anggota kelompok mayoritas merupakan aktivis kepanitiaan ataupun ormawa, masih jarang didapati mereka menjadikan aktivitas di luar kelas tersebut sebagai alasan misalnya untuk bisa kerja kelompok secara full team. Sementara sekarang, ketika tugas kelompok tidak sesederhana menyalin inti-inti materi ke ppt atau prezi, justru makin santer terdengar alasan ‘aduh maaf aku nggak bisa, aku harus rapat’, ‘eh maaf ya kali ini aku nggak bisa maksimal, soalnya acaraku udah h-berapa nih’, ‘minggu ini aku full rapat, jadi mendingan kalian kasih aku tugas aja, aku harus ngapain’, dan berbagai alasan lain yang senada. Well, aku merupakan bagian dari mahasiswa yang seperti itu, dan dalam waktu yang bersamaan aku juga menjadi ‘korban’.


Fenomena ‘aku nggak bisa ikut kerja kelompok karena nanti aku ada rapat’ yang meningkat di semester tiga ini pada satu sisi bisa dimaklumi karena memang ini ‘tahunnya anak-anak angkatan 2014’, yang artinya memang saat-saat inilah angkatan 2014 berhak sekaligus wajib menempati posisi-posisi strategis di kepanitiaan maupun ormawa. Apabila dilihat dari perspektif aktivis, yang itu berarti aku sebagai pelaku, sebut sajalah niat awal kami yang paling mulia dan lumrah adalah ingin berkontribusi atau ‘kalau bukan kita yang mau peduli dan turut turun tangan, lalu siapa lagi?’, maka kemudia totalitas tanpa batas (di kepanitiaan atau ORMAWA) adalah pilihan wajib bagi kami. Memang benar, terlepas dari ruang kelas, banyak sekali hal dalam kehidupan ini yang harus diurus dengan serius seperti pengkaderan, pengembangan minat akademik dan non akademik mahasiswa, hingga pada taraf yang lebih luas dan strategis yaitu pengabdian di masyarakat. Bayangkan jika seluruh mahasiswa aktivitasnya hanya datang ke kampus-masuk kelas-mengerjakan tugas-pulang-tidur. Betapa teori yang diajarkan di kelas hanya bermakna ‘asal kamu tahu-nanti nilai ujian harus bagus supaya IPK tinggi dan bisa dapat pekerjaan dengan mudah’, padahal negeri ini menanti para pemuda (mahasiswa dan mahasiswi) untuk membumikan ilmunya dan mengantarkan negeri ini pada kesejahteraan). Di sisi lain, kami mengakui bahwa berbagai aktivitas kepanitiaan maupun keormawaan lebih menyenangkan dan membuat kami lebih ‘hidup’ jika dibandingkan dengan rutinitas mendengarkan di kelas lalu mengerjakan tugas itu tadi.

Selanjutnya, mari kita sekarang melihat dari perspektif mahasiswa yang menjadi korban karena satu kelompok kerja dengan para aktivis. Sebenarnya, kami, para korban ini memahami bahwa kegiatan-kegiatan non akademik tersebut penting, maka kami tidak akan menyalahkan mereka. Namun, kami mengeluh, kesal, dan bahkan  geram ketika mereka terus saja mengurusi kesibukan tersebut sepanjang hidup mereka, seolah-olah mereka datang kemari hanya untuk berorganisasi semata. Misalnya, ketika di kelas dan ada waktu untuk diskusi kelompok, mereka malah asyik memainkan HP, ketawa-ketawa sendiri karena membaca grup obrolan dengan teman-teman organisasinya. Haloooo, itukah yang kamu sebut sebagai sibuk? Selain itu, ketika akhirnya bisa berkumpul bersama untuk kerja kelompok, mereka justru diam dan memainkan HP, lagi-lagi untuk membaca grup obrolan organisasi. Hei, kami paham lho kalau sebenarnya nggak selama 24 jam hal yang diobrolkan tersebut adalah sesuatu yang penting dan mendesak. Jadi, wahai mahasiswa yang mengaku super sibuk, bisakah kami memohon kepadamu untuk meluangkan waktu sejenak untuk juga mengurusi tugas kita bersama?


Begitulah pandanganku terhadap akademik vs organisasi menggunakan dua perspektif yang berbeda, dua kondisi yang sekarang aku alami secara bersamaan. Intinya, mari kita belajar untuk menyeimbangkan, mempertanggungjawabkan, dan menyelaraskan hal-hal yang telah kita pilih sendiri untuk menjalaninya. 

Surabaya, di Ruang Baca FPsi UNAIR,
1 Desember 2015
Fatin Philia Hikmah