Sabtu, 03 Mei 2014

Merindu

Sebenarnya apakah hakikat dari kerinduan? Apakah ingin bertemu karena lama tak berjumpa? Apakah ingin berkomunikasi meskipun melalui pesan singkat yang di era global ini dapat dikirim melalui berbagai macam aplikasi? Atau justru ingin begitu dekat, bercengkrama, dan membunuh waktu bersama? Apapun hakikat rindumu, rindu adalah rindu.

Kini aku sedang merindukan sesuatu seperti aku merindukan bintang yang akhir-akhir ini tak nampak di langit malam yang kelam. Sesuatu yang ku rindukan itu tak hanya satu, lebih dari dua, tiga, bahkan empat—seperti banyaknya barang yang ingin ku beli saat aku berkeliling di pusat perbelanjaan di awal bulan. Dan aku pun merindukannya, seperti aku merindukan bermain petak umpet seperti ketika masih duduk di sekolah dasar dulu. Lama tak jumpa, lama tak bersua, lama tak bertegur sapa, lama lama lama lama sekali.

Ah, keharusan untuk rindu ini kubuang jauh-jauh, seperti keharusan ku untuk minum agar ginjalku dapat bekerja dengan baik. Rindu ini tak penting, tak patut untuk dipendam dan terlalu dirasa, juga belum saatnya untuk diperjuangkan.

Harusnya rindu ini adalah untuk-Nya. Untuk-Nya Yang selalu membuka pintu lebar-lebar, kapan pun dan di mana pun. Untuk-Nya yang dengan gamblang berfirman dalam kitab suci Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 186 :

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu(Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

Harusnya rindu ini bukan untuk seseorang, yang dengan merindukannya aku kehilangan getaran di setiap aku menyebut nama-Nya.
-Fatin Philia Hikmah


21:27 WIB