Selasa, 10 September 2013

Bulan Sabit yang Tersenyum


Bulan sabit yang sukses membuat malam yang dingin menjadi indah itu melengkungkan senyum tepat di hadapanku. Membuatku tak bisa menahan hasrat untuk turut memandanginya lamat-lamat. Melamunkan, memutar ulang, dan merenungi hal-hal yang terjadi belakangan ini.

Teringat sebuah kejadian mengesalkan namun juga membuatku senang (apalah itu kalau bukan perkara asmara, hahaha), aku menghembuskan nafas pelan, mengalihkan pandangan pada bintang-bintang yang entah tengah membentuk formasi apa, berjauh-jauhan dan sinarnya tak begitu gemerlap seperti 3 malam yang lalu.

Beranjak dari masa kanak-kanak menuju keremajaan yang semakin matang, tanpa ku sadari aku telah belajar bagaimana memaknai hari. Pagi hari ketika mentari masih malu-malu menampakkan diri, bergegas dengan tas di punggung. Eh, aku tidak hanya memanggul tas hitam, tapi juga mimpi-mimpi, harapan-harapan dan juga janji-janji. Menghirup sejuknya udara pedesaan, membangkitkan energi positif yang mungkin bangun kesiangan.

Lepas pagi hari, datanglah waktu ketika aku mulai lelah, lebih memilih bergurau bersama teman sebaya ketimbang menyelesaikan tugas yang berbisik-bisik ingin segera dikerjakan.

Hingga akhirnya datanglah petang, ketika pundak lelah menahan tas punggung. Ada mimpi-mimpi baru yang hadir, namun juga tak sedikit harapan yang harus direlakan pergi, karena pemahaman baru yang datang hari ini. Di tengah letih itu, adalah sebuah kebutuhan mendasar setiap insan untu mendekatkan diri pada Sang Maha Pemurah, berterimakasih, setidaknya setelah melewati hari yang begitu melelahkan, masih ada kekuatan yang tersisa.

Berterimakasih, Ia telah menciptakan langit dan Menghiasinya sedemikian rupa. Menemani manusia yang ingin menghabiskan sisa harinya dengan melamun, merangkai asa dan harapan, lalu meletakkannya di samping kasur. Berharap besok tak lupa untuk membawa asa itu menghadapi dunia.

Bulan  sabit masih tersenyum,

Fatin PH—Malang, 10 Sept ’13 ; 7:52 PM